Akhlak Puasa

Akhlak Puasa

Gema, 25 Februari 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Di antara bukti cinta seorang muslim pada Allah adalah memenuhi segala titahNya. Di antara titah perintahNya adalah puasa, baik yang fardhu maupun yang sunnah.

Oleh karena, itu layak bagi kita untuk mengingat kembali tentang akhlak saat berpuasa.

Puasa baik fardhu maupun sunat merupakan self control yang akan membentengi pelakunya dari perilaku maksiat. Maka setidaknya kita mesti mengembangkan sikap berikut ini:

Pertama, sederhana dalam makan minum, baik saat sahur maupun berbuka. Meskipun seharian nantinya tidak akan makan minum, namun saat sahur dan berbuka tetap disenangi menyederhanakan makan minun.

Tidak elok rasanya kita menumpuk-numpuk makanan dan minuman, baik untuk keperluan sahur maupun berbuka, sehingga budget bulanannya meningkat.

Puasa itu tidak makan dan tidak minum, tetapi mengapa justru meningkat drastis belanja kebutuhan makanan dan minuman?

Kedua, sedikit tidur. Meskipun saat puasa dapat berpengaruh terhadap daya tahan tubuh, tetap saja disenangi menyedikitkan tidur, baik siang maupun malam hari. Dengan sedikit tidur akan memberi kesempatan berjaga sehingga dapat lebih banyak beraktivitas dan beribadah seperti memperbanyak tilawah al-Qur’an, berzikir, berdoa, belajar, atau bekerja mencari nafkah.

Puasa dengan memperbanyak tidur biasanya dilakukan oleh anak-anak kecil atau sebagai pemula puasa atau sedang belajar berpuasa. Karena belum terbiasa, maka diizinkan oleh orangtua tidur agar tidak ingat lapar dan dahaganya.

Ketiga, sedikit bicara. Dalam keseharian di dunia ini, bila tidak diperlukan, apalagi saat berpuasa, maka kita dituntun oleh kemuliaan hidup untuk sedikit bicara.

Dengan demikian ucapan yang keluar dari lisan orang yang mulia apalagi orang yang berpuasa adalah ucapan hikmah, dan tidak ada ucapan yang percuma, apalagi menyakiti dan menyakitkan sesamanya.

Di sinilah sejatinya yang disintalir Nabi Muhammad saw bahwa apa yang keluar dari mulud atau lisan orang berpuasa melebih bau kasturi yang menyenangakan dan menenangkan orang di sekilingnya.

Dengan demikian, bila seorang muslim berpuasa fardhu Ramadhan dan membiasakan puasa sunnah seperti puasa Enam Syawal, Senin Kamis, Yaumul Bidh, Arafah dan lain sebagainya dengan meneguhkan akhlak puasa di atas, maka self control akan menjadi lebih efektif. Semua aspek pribadinya menjadi terkontrol dan terkendali, baik ketentraman hatinya, perilakunya, ucapannya, penampilannya, kesehatannya, maupun berat badannya.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.