Bukan Pemimpin Kelompok Tertentu

Bukan Pemimpin Kelompok Tertentu

GEMA JUMAT, 02 MARET 2018

Pemimpin merupakan sosok yang bisa dijadikan panutan oleh semua orang. Dia mampu mengorganisasikan orang yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan kepemimpinan itu sendiri. Pada dasarnya, pemimpinlah yang menjadi sopir dari sebuah lembaga, organisasi, maupun pemerintahan.

Menurut Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Prof Yusni Saby, secara teori pemimpin lahir melalui dua proses, yakni karena keturunan dan pendidikan. Biasanya, mereka yang menjadi pemimpin karena faktor ayahnya seorang pemimpin, lebih mudah menjadi seorang pemimpin. Namun dalam Islam, pemimpin sebenarnya lahir setelah proses pendidikan. Pendidikan kepemimpinan dapat diperoleh melalui organisasi-organisasi, lembaga pendidikan, maupun partai.

“Pemimpin dilahirkan dari pendidikan. Jadi, anak nabi tidak harus menjadi nabi, anak ulama tidak harus menjadi ulama, tetapi bagaimana pendidikannya,” ujarnya kepada Gema Baiturrahman.

Nabi Muhammad pernah berkata bahwa siapapun bisa menjadi pemimpin asalkan memahami Alquran. Makna memahami Alquran di sini adalah berilmu. Pendidikan menentukan seseorang mampu menjadi pemimpin atau tidak. Proses pendidikan harus memiliki tenaga pengajar, metode, dan materi yang bagus.

Contoh keteladanan seorang pemimpin terbaik adalah Nabi Muhammad. Calon pemimpin maupun pemimpin sekarang, tingkah laku mereka seyogianya berdasarkan yang dipraktekkan nabi.  “Kalau tidak bisa mewarisi sifat nabi, tidak bisa menjadi pemimpin,” terangnya.

Ia menjelaskan,  sebagian lembaga pendidikan belum berhasil melahirkan seorang pemimpin yang baik. Bahkan, sungguh disayangkan jika ada lembaga pendidikan terlibat kasus korupsi. Partai merupakan lembaga pendidikan nonformal. Faktanya sekarang, seorang ketua partai, maupun pimpinan lembaga pendikan formal, ada yang bermasalah hukum. Padahal, seorang pemimpin yang harus memberikan contoh baik. Apalagi mereka memiliki pengikut tidak sedikit.

Pemimpin milik umat

Pemimpin bukan milik kelompok, melainkan milik umat yang heterogen. Kata Yusni, pemimpin tidak boleh membeda-bedakan kelompok tertentu. Salah satu kewajibannya adalah meningkatkan solidaritas masyarakat dan menjunjung tinggi persatuan. Oleh karenanya, lembaga pendidikan tempat lahir pemimpin harus mendidik supaya menghargai perbedaan. Sehingga, di sana tidak lahir pemimpin “kelompoknya” saja.

Dewasa ini, banyak pemimpin panutan. Sayangnya, masih ada lembaga, misalnya partai, yang melahirkan pemimpin demi kepentingan partai saja. Seharusnya, ketika menjadi pemimpin, dialah pemimpin seluruh wilayah kekuasaannya, bukan cuma milik partai.

“Inilah yang disebut pemimpin umat. Mampukah para dosen, pengajar, mendidik pemimpin seperti itu. Maka, pemimpin harus luas pemikirannya, wawasannya,” sambungnya lagi.

Hal senada disampaikan Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Prof Ahmad Humam Hamid. Pemimpin lahir dari berbagai organisasi. Yang terpenting sekarang bagaimana menjadi pemimpin untuk spektrum lebih besar. Bukan hanya untuk Islam, melainkan untuk siapapun. “Itu adalah tantangan paling besar, baik itu di Aceh, Indonesia, maupun tingkat internasional sekalipun,” lanjutnya.

Pemimpin sepatutnya mengayomi apa yang dipimpinnya. Sekarang, perubahan zaman semakin cepat, kehidupan di suatu daerah akan semakin beragam, tidak bisa dihindari. Contoh terbaik ialah Nabi Muhammad. Pemimpin sekarang harus mencontoh sifat-sifatnya, seperti jujur, amanah, cerdas, dan mendakwahkan kebaikan.

Seorang pemimpin mestinya akhlak mulia. Meskipun demikian, kata Humam, setiap pemimpin memiliki kelebihan dan kelemahan. “Kalau kesalahan-kesalahan manusiawi biasa, itu kan wajar. tapi kalau berlanjut pada perilaku yang melekat dan bermasalah dengan agama, itu menjadi gak enak,” pungkasnya.

Ia bermimpi agar pemimpin yang lahir ke depan, kokoh memegang ajaran Islam, berpandangan luas, bisa bergaul dengan seluruh manusia, bahkan dengan mereka yang tak bertuhan sekalipun. “Jangan kemudian memusuhi semua orang, apalagi dalam pemahaman budaya,” paparnya. Zulfurqan

 

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.