Ghazali dan Penjahit

Ghazali dan Penjahit

GEMA JUMAT, 02 MARET 2018

Oleh Murizal Hamzah

Bicara itu selalu lebih gampang daripada berbuat. Kita dengan mudah menyatakan mesti bersabar dalam menghadapi persoalan. Di lain waktu, ketika kita dihadang musibah, kadangkala lupa pada nasihat yang sudah dilontarkan kepada sahabat bahwa mesti sabar dalam meniti kehidupan ini. Hidup satu kata dengan perbuatan adalah impian setiap umat. Dengan demikian kita tidak jadi kaum munafik terutama dalam mengelola kadar marah. Dalam hal ini, kita selayaknya perlu belajar pada intelektual Islam Imam Ghazali yang selalu berpikir positif.

Seorang tukang jahit dengan sengaja menjahit baju gamis untuk Imam Ghazali dengan ukuran yang kecil. Tukang jahit itu ingin menguji apakah Gahazali akan marah?

Begitu pada hari yang dijanjikan gamis akan selesai, Ghazali beranjak ke tukang jahit.  Namun jawaban penjahit bikin dirinya palak yakni gamis belum selesai dengan alasan banyak pesanan. Dia meminta Ghazali kembali besok yang dijanjikan selesai. Ghazali pulang tanpa mengeluarkan ujaran caci maki. Penjahit kecewa karena pelanggannya tidak memarahinya. Padahal itu diharapkan ulama itu akan memarahinya. Ternyata Ghazali sabar saja.

Besoknya, Ghazali ke tukang jahit untuk mengambil jahitan gamis. Kali ini, jahitan sudah selesai sesuai janjinya. Ghazali mencoba gamis barunya. Hasilnya, jahitan itu kekecilan. Penjahit sengaja mengecilkan ukuran baju unutk menguji kadar emosi dan kemarahan Ghazali. Lima menit, 10 menit hingga 15 menit, tiada keluar nada amarah dengan kata-kata  yang kotor dari Ghazali. Tidak ada ledakan caci maki kepada penjahit.

“Gamis ini kekecilan untuk saya. Tetapi tidak apa-apa, saya punya tetangga yang badannya kecil  dan berharap ini pas untuk dia,” jelas Ghazali kepada pejahit yang gagal memancing luapan emosi sang pendekar ilmu Islam.

Setiap manusia pernah marah dan berteriak-teriak.  Rasulullah SAW bersabda, “Aku ini hanya manusia biasa, aku bisa senang sebagaimana manusia senang, dan aku bisa marah sebagaimana manusia marah.”

Aisyah berkata, “Rasulullah tidak pernah marah karena (urusan) diri pribadinya, kecuali jika dilanggar batasan syariat Allah, maka beliau akan marah dengan pelanggaran tersebut karena Allah”

Di era kini nyaris setiap hari kita memompa amarah atau mendengar kata serapah. Di jalanan, kita menyaksikan warga yang tidak sabar dengan menekan klakson. Telat beberap detik melajukan kendaraan di lampu lalu lintas dari merah ke hijau, dentuman klakson saling bersahutan. Orang yang sedang berkelahi, maka suaranya keras seolah-olah sedang berbicara dengan lawan bicara sejauh 100 meter, padahal ada di depan hidung. Mengapa harus berteriak-teriak?

Salah satu cara meredam marah yakni berpikir positif kepada orang lain. ketika dihp tidak ada jawaban, bukan berarti tidak mau hp diangkat/dijawab. Bisa saja penerima hp sedang sembahyang atau kegiatan lain. Lawan dari nafsu marah yakni bersabar dan sabar itu tidak ada batasnya sambil terus berikhtiar.

Menahan marah atau tidak perlu emosi adalah tingkat kedewasaan jiwa seseorang. kita tahu karakter seseorang ketika marah atau meluapkan emosi. Dalam kondisi tidak stabilnya jiwa, maka segala hal ucapan dan tindakan bisa ditumpahkan. Setiap kita ingin marah, kita ingat cara Imam Ghazali menahan marah kepada tukang jahit. Kadangkala teman sengaja mengiring kita untuk marah-marah.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.