Kas Masjid Cikal BRI

Kas Masjid Cikal BRI

GEMA JUMAT, 9 MARET 2018

Oleh : Murizal Hamzah

Usia bank ini sudah 122 tahun. Cabangnya ada di setiap kecamatan,. Tidak diragukan lagi inilah bank terbesar dan tertua di Indonesia. Bank tersebut bernama Bank Rakyat Indonesia (BRI).  Banyak yang belum paham bahwa cikal bakal atau modal bank ini dari kas masjid.  Benarkah uang saldo masjid menjadi modal bank ini yang kelak jadi bank terbanyak jaringan di Indonesia?

BRI dibangun pada masa kolonial Belanda untuk menghindari lintah darat dengan bunga tinggi. Adalah kas masjid Purwokerto di Jawa Tengah  menjadi aset  bank itu. Nama BRI pada mulanya adalah De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden (Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi Purwokerto) yang diresmikan pada 16 Desember 1895 oleh Raden Aria Wiriaatmadja, Raden Atma Soepradja, Raden Atma Soebrata dan Raden  Djaja Soemitra.

Tahun 1897, bank tersebut ganti nama menjadi Poerwokertosche Hulp en Spaar Landbouw Credietbank alias Bank Kredit Simpan Pinjam Pertanian Purwokerto. Pada tahun berikutnya, bank ini dikenal sebagai Volksbank alias Bank Rakyat atau Bank Desa. Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 1 Tahun 1946 (tanggal 22 Februari 1946), bank ini berganti nama menjadi Bank Rakjat Indonesia (BRI) dengan status Bank Pemerintah

Di mana kaitan sejarah BRI dari kas masjid? Pada mulanya, BRI mengelola kas masjid yang disalurkan kepada masyarakat melalui skema pinjaman sederhana. Uang kas masjid sebanyak 4.000 gulden milik umat Islam dikelola Wirjaatmadja sebagai pinjaman di awal.  Gagasan bank ini oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja untuk mengatasi masalah ekonomi pribumi dengan memanfaatkan kas masjid.  Kemudian BRI tidak lagi mengelola kas masjid dan hubungan bank dengan masjid/ulama terputus.

Begitulah 122 tahun lalu sebuah bank dirintis dengan menggunakan uang sumbangan jamaah masjid. Daripada kas masjid menganggur di brankas masjid atau bendahara, uang itu dipakai untuk kepentingan umat. Maklum saja, ketika itu, rentenir alias bank keliling dengan bunga/riba mencekik leher hilir-mudik di masyarakat. Warga yang butuh uang cepat mengambil uang pada kaum pemberi riba. Pilihan pahit yang terpaksa diambil oleh warga yang butuh uang untuk modal usaha atau kegiatan lain seperti mengadakan pesta perkawinan anaknya.

Bagaimana dengan kas masjid pada era sekarang? Ada masjid memiliki kas hingga miliaran. Sementara itu, ada saldo masjid yang hanya memiliki sumbangan hanya jutaaan saja. Apa harapan dari jamaah yang memberi sumbangan di kotak amal masjid? Antara lain tempat wudhu yang lancar, bersih, wangi  dan lain-lain.

Selayaknya masjid yang memiliki kas hingga ratusan juta bisa memberikan kenyaman kepada jamaah melalui fasilitas mendirikan perpustakaan masjid, klinik masjid yang murah kepada umat, bak penampung air sebagai antisipasi suplai air dari PAM mati, generator jika PLN padam termasuk honor/gaji kepada petugas keamaman, pembersih masjid yang memadai dan sebagainya.

Pada waktu bersamaan, apakah bisa saldo masjid yang hingga ratusan juta digunakan untuk pemberdayaan umat, memberi gizi makanan sehat untuk bayi-bayi dan kegiatan sosial lainnya? Sangat ironis jika masjid dengan kas jutaan rupiah yang disimpan di bank syariah atau bank ribawi namun kondisi umat sekitar masjid yang butuh modal kerja harus berpaling ke bank 47 atau tukang rentenir

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.