Mensyukuri Harta

Mensyukuri Harta

Gema, 10 Maret 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, adalah sunnatullah memang, bahwa setiap manusia menyukai harta benda, sehingga harta kemudian menjadi mempesona.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa harta adalah barang (termasuk uang dan sebagainya) yang menjadi kekayaan dan milik seseorang atau kelompok; kekayaan berwujud maupun tidak berwujud yang bernilai dan yang menurut hukum dimiliki. Dalam praktiknya mewujud dalam seluruh aset kehidupannya, seperti perhiasan, sandang papan pangan, kendaraan, hewan piaraan, sawah ladang, uang, tabungan, deposito, saham, hak cipta dan seterusnya.

Dalam normativitas Islam, juga dinyatakan bahwa Allah memang menghadirkan rasa senang pada setiap hati manusia terhadap harta, dalam segala rupa bentuknya. “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia, kecintaan terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik” .(Qs. Ali Imran 14).

Cobalah perhatikan kesenangan manusia terhadap harta benda, benar-benar tidak bisa disembunyikan dalam setiap perilakunya, meskipun sejatinya mengetahui bahwa saat lahir dulunya maupun meninggal dunia nantinya tidak dibawa serta. Makanya di ujung ayat tersebut di atas, kita diwanti-wanti bahwa keridhaan di sisi Allah merupakan muara kebaikan atas semua karunia termasuk harta yang ada pada manusia. Maka mari terus mencari, mendapatkan dan memperbanyak harta untuk menggapai keridhaanNya.

Secara tersirat, Islam menyukai umatnya menjadi kaya raya, sehingga bisa memaksimalkan pengabdian kepada Rabbnya dengan kekayaannya. Dengan hartanya bisa memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan yang layak dan bermartabat, dapat menunaikan rukun Islam dengan sempurna, umrah, naik haji ke tanah suci, mengeluarkan zakat sedekah infak dan wakaf, menyantuni sesamanya, menyediakan beasiswa dan seterusnya.

Inilah agaknya saking cinta kepada hambaNya, sehingga Allah menegaskan bahwa katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Rabb mereka ada Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imran 15) yang dengan harta kekayaannya mampu memaksimalkan pengabdiannya.

Saudaraku, padahal secara lahiriah setiap manusia lahir tidak membawa apa-apa, tetapi secara substantif membawa fitrah kesucian, ketakberdosaan, dan potensi kebertauhidan. Oleh karenanya untuk menyempurnakan kefitrahannya, Allah menganugrahi potensi fisik, akal, dan hati.

Saat lahir, lazimnya seorang bayi langsung diselimuti dengan kain lembut oleh bidan atau keluarganya, dan suatu saat kelak ketika wafat juga akan diselimuti dengan kain kafan penuh kelembutan oleh keluarga dan handai tolannya sebelum dimasukkan ke liang lahat kuburannya.

Saudaraku, saat lahir tidak ada satupun di antara manusia yang membawa emas perak permata atau harta benda lainnya. Benar-benar hanya dengan karuniaNya, di antara kita ada yang dilahirkan oleh ibu dari keluarga bangsawan, keturunan ningrat atau pejabat atau konglomerat sehingga hidup nantinya bergelimang harta benda dan kesenangannya. Tetapi banyak orang yang meskipun dilahirkan dari keluarga yang biasa-biasa atau bahkan miskin papa, tetapi karena mensyukuri karunia fisik, akal, dan hatinya, hidupnya juga tidak akan kurang suatu apa, bahkan berlebih karena dicukupkan oleh Allah taala.

Oleh karenanya, layak bagi kita untuk mengingat kembali tentang akhlak mensyukuri harta.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa harta merupakan karunia Allah swt yang dititipkan sementara kepada hamba-hambaNya yang dihendaki saja. Bekerja dan berusaha ke sawah, ladang, laut, hutan, di pasar, di kantor atau di mana saja yang disertai doa merupakan sarana dan wasilah untuk menjemput perkenan dan keridhaan Allah taala sehingga kita dianugrahi harta benda dan dipercaya untuk mengelolanya sementara. Oleh karenanya meski sawah ladangnya sama, jaring pukatnya serupa, barang dagangannya sama, posisi di kantor sama, namun tetap saja penghasilan dan rezekinya berbeda-beda. Ada yang dititipi harta melimpah, ada yang menengah, ada yang biasa-biasa, tetapi juga ada yang miskin papa.

Kedua, memperbanyak lafald syukur. Alhamdulillah diwarisi tanah kebun rumah emas perak permata kendaraan, perusahaan, bahkan pekerjaan. Alhamdulillah dititipi harta dan rezeki meski tidak berlebih tetapi memadahi dan cukup. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah dan seterusnya.

Ketiga, membelanjakannya hanya di jalan Allah saja. Sebagaimana disadari bahwa harta adalah titipan, dan hanya orang-orang terpilih saja yang terus diamanahi dan terus ditambahi hartanya, maka harus didistribusikan dan dihibahkan seperlunya untuk kemaslahatan baik diri dan keluarganya, sesaman

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.