Mensyukuri Kelengkapan Hidup

Mensyukuri Kelengkapan Hidup

Gema, 19 Maret 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, setelah, pangan, sandang dan papan terpenuhi sudah lumrah bagi setiap orang untuk mencari dan memiliki perlengkapan yang memudahkan dalam menjalani hidup dalam kehidupan ini. Oleh karenanya, keinginan memiliki perlengkapan hidup sebagai ranah kebutuhan tahsiniyah ini tidak bisa disembunyikan, seperti kesenangan memiliki kendaraan (sepeda, sepeda motor, mobil), mebeler interior (meja, kursi, dipan, springbed, lemari), radio, tape recorder, vcd, tv, jam/ arloji, kipas angin, ac, perkakas dapur, asesoris tubuh dan pelalatan lainnya.

Setelah memiliki semua atau sebagian perlengkapan hidup tersebut, lalu bagaima sikap kita terhadapnya? Di sinilah pentingnya mengembangkan akhlak terhadap itu semua, meskipun benda mati sekalipun. Konon Nabi Muhammad saw sangat peduli dan merawat sangat baik semua peralatan yang dimilikinya, sehingga secara sufistik dikabarkan bahwa mimbar yang selama ini digunakan untuk berdakwah, tongkat, pedang, rompi besi, terompah dan lainnya rindu sentuhan tangan beliau dan bahkan menangisi beliau setelah wafatnya. Meskipun benda mati sekalipun tetap memiliki jiwa kebendaannya. Bila kita berkidmat padanya, maka ia akan berkidmat kepada tuannya.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa semua peralatan itu adalah karunia Allah atas hamba pilihanNya, dan kepemilikan kita atas semua itu hanya sementara saja. Suatu saat pasti akan kita tinggalkan atau peralatan itu yang meninggalkan kita lantaran pindah tangan atau rusak atau tidak bisa digunakan lagi.

Kedua, mengucapkan alhamdulillah atau ucapan syukur kepada Allah lainnya. Alhamdulillah sudah memiliki mobil, sehingga bisa pulang pergi ke tempat kerja tidak kehujanan, tidak kepanasan, tidak kena angin dan bisa sambil berzikir saat mengendarainya. Alhamdulillah memiliki sepeda atau sepeda motor, sehingga dapat hemat waktu saat pulang pergi dari ke tempat kerja ketimbang banyak lainnya yang jalan kaki. Alhamdulillah memiliki peralatan dan asesoris lainnya, sehingga dapat merasakan kenyamanan hidup.

Ketiga, merawat semua perkengkapan yang telah dimilikinya. Bila kendaraan, maka sebaiknya dijaga kebersihannya, dicuci, dilap, dijaga oli atau minyaknya sebaiknya tidak menunggu kehabisan minyak di tangkinya, dirawat kelestariannya, dan diparkir atau diletakkan pada tempat terbaiknya. Perkakas masak atau makan diletakkan di dapur bukan kasur, alat pertanian ditaruh di gudang atau di tempatnya bukan di ruang tamu. Demikian juga peralatan lainnya.

Ketiga, menggunakan seperlunya, dan tidak berlaku boros dan tidak eksploitatif. Bila kendaraan tidak dibebani muatan yang melebihi daya angkutnya. Di samping itu tidak untuk pamer kekayaan atau untuk kesombongannya. Demikian juga dengan peralatan lainnya.

Keempat, memanfaatkannya untuk beribadah tidak untuk maksiat. Bila memiliki kendaraan hanya digunakan bepergian ke tempat ibadah atau ke sekolah atau ke tempat mencari nafkah dan tidak untuk pergi berbuat dan ke tempat maksiat. Demikian juga peralatan lainnya tidak digunakan untuk berbuat dosa dan maksiat.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.