Mensyukuri Gelar

Mensyukuri Gelar

Gema, 26 Maret 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, dalam kehidupan sosio kultural ini kita oleh Islam dituntun untuk saling menghormati antar satu dengan lainnya. Formalisasi penghormatan di kalangan manusia di antaranya dapat mewujud pada penabalan gelar-gelar kemuliaan sebagai penanda yang mencirikan antara satu dengan lainnya.

Secara umum dalam kamus bahasa Indonesia, gelar dipahami sebagai kuniyah yang ditabalkan sebagai awalan atau akhiran yang diucapkan atau dituliskan pada nama seseorang untuk menandakan penghormatan, jabatan resmi, atau kualifikasi akademis atau profesional tertentu.

Secara informal, dalam pergaulan sehari-hari kita lazim menyebut atau juga disebut sebagai Teungku Fulan, Ustad(ah) Fulan(ah), atau Haji Fulan, Saudagar Fulin, Al-Mukaram Bapak A dan seterusnya. Demikian juga secara formal, pada nama ditambahkan gelar-gelar tertentu seperti disebut atau ditulis dengan Dr. dr. Fulan, Ph.D, atau Ir. Fulin, M.Sc atau Fulanah, S.Pd, MAg, Ph.D dan seterusnya dan seterusnya.

Gelar formal lainnya di antaranya Prof, SKH, S.Ked, DRH, Drs, Dra, MA, BA, Amd, S.HI, SH, SE, M.Eng, dan seterusnya. Di samping itu kita juga mengetahui terdapat satu gelar kemuliaan yang relatif tidak ada duanya yaitu Al-Amin yang dikukuhkan pada Muhammad sejak sebelum mada kenabiannya. Orang Mekah termasuk orang kafir quraish mengenalnya Muhammad Al-Amin, Muhammad orang yang dapat dipercaya.

Penyebutan dan penulisan gelar pada nama, baik secara informal maupun formal dimaksudkan untuk memberikan apresiasi dan penghormatan atas apa yang ada dan atau telah diraih oleh seseorang. Setelah selalu disebut dan dituliskan gelar-gelar itu atas nama kita, lalu bagaimana kita menyikapinya? Di sinilah pentingnya kita mengingat kembali tentang akhlak mensyukuri gelar.

Pertama, harus menyadari sepenuh hati bahwa gelar merupakan amanah kehidupan yang diberikan oleh Allah atas hamba-hambaNya yang dikehendaki. Sejatinya pada gelar yang tersemat menyiratkan perpaduan antara iman, ilmu dan amal si empunya nama.

Gelar atau sebutan atau panggilan kehormatan apapun yang disandang oleh seseorang merupakan bentuk apresiasi atas ikhtiar dan dedikasinya dalam mengabdi. Gelar tidak datang secara instan, tetapi dilatari dan diiringi oleh perjuangan yang bisa jadi sangat panjang dan berliku penuh dinamika.

Dalam proses ikhtiarnya melibatkan totalitas kepribadian yang sarat dengan problema kehidupan yang menyertainya. Apakah itu masalah keluarga, ekonomi, sosial budaya, politik, dan masalah pribadi lainnya. Oleh karenanya, apresiasi atas capaiannya merupakan amanah sekaligus kebahagiaan.

Sebagai amanah yang idealnya membahagiakan harus dikukuhkan dalam kehidupan. Oleh karenanya semakin panjang gelar yang disandang, maka harus berbading lurus dengan kedalaman iman, keluasan ilmu dan keberkahan amal salihnya.

Kedua, tidak menyembunyikan rasa syukurnya dengan senantiasa membasahi lisan mengucapkan alhamdulillah, apalagi saat namanya disebut lengkap dengan kuniah gelar panjangnya.

Ketiga, tidak menyebabkannya sombong dan takabur. Karena perpaduan antara iman, ilmu dan amak shalih, maka gelar yang disandang tidak akan menyebabkan siempunya menjadi sombong dan takabur. Justru semakin tinggi dan panjang gelarnya, akan semakin tawadhuk dan rendah hati.

Keempat, menggunakan gelar dengan bijak termasuk tidak memaksakan orang lain untuk menyebut atau menuliskan gelar kita. Meskipun gelar yang sudah diraih tinggi, beragam banyaknya dan panjang melebihi namanya sendiri, namun sejatinya semua itu hanya tempelan atau tambahan dalam perjalanan hidup seseorang. Dan ketika meninggal dunia, semua kita disebut jenazah dan bergelar sama yaitu almarhum(ah). Semua pelayat bahkan keluarga kita sendiri tidak lagi bertanya atau memanggil namanya, apalagi gelarnya, tetapi bertanya di mana jenazahnya? Almarhum(ah) akan dishalatkan atau jenazahnya akan dikebumikan kapan dan dimana?
masih
Dengan demikian gelar, hanya efektif bagi dirinya saat si empunya hidup di dunia ini saja.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.