Kenyamanan dan Keamanan Masjid

Kenyamanan dan Keamanan Masjid

GEMA JUMAT, 30 MARET 201

Masjid yang merupakan rumah Allah memang sepatutnya menjadi tempat yang sangat nyaman dan aman untuk beribadah kepada Allah. Kenyamanan dan keamanan masjid memotivasi jamaah giat beribadah sekaligus khusyuk melaksanakannya. Kemakmuran masjid pun senantiasa tercapai.

Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 18,” Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Aceh Tgk. H. Fakhruddin Lahmuddin, MPd menjelaskan, terdapat dua jenis memakmurkan masjid, yakni pembangunan fisik dan nonfisik. Memakmurkan masjid secara fisik mencakup menyediakan fasilitas yang mampu meningkatkan kenyamanan dan keamanan masjid.

“Banyak sekali fasilitas demi kenyamanan jamaah harus diperhatikan untuk menyediakannya, sehingga masjid menjadi tempat yang nyaman bagi jamaah. Jamaah akan lama berzikir, dan masjid terasa teduh,” terang Pimpinan Dayah Oemar Diyan di Indrapuri ini.

Cara lainnya memakmurkan masjid dengan menghadiri majelis ilmu yang diselenggarakan di masjid dan aktif salat berjamaah. Ia merasakan masjid-masjid di Banda Aceh semakin baik sistem manajemennya. Salah satu indikatornya dilihat dari segi pengaturan imam-imam salat jahar. Bacaan dan hafalan imam tersebut sudah bagus.

CCTV Masjid

Beberapa waktu lalu terjadi pencurian di salah satu masjid di Aceh. Ia amat sangat menyayangkan kejadian tersebut. Dosa pencuri barang jamaah masjid besar. Pencuri mengambil barang milik orang yang sedang beribadah kepada Allah.

Ia berharap masjid menyediakan alat pemantau keamanan atau closed-circuit television (CCTV). Seperti halnya di Masjid Agung Al-Makmur Lampriet, sudah ada pencuri yang tertangkap dengan bantuan rekaman CCTV. Manfaat lainnya adalah mampu menekan angka pencurian di masjid.

Harga CCTV relatif murah, tidak sampai puluhan juta. Karenanya ia mengimbau supaya masjid-masjid mengusahakan ketersediaan CCTV. “Pihak kepolisian akan sangat terbantu mengungkapkan pelaku tindakan kriminal di mana saja kalau ada CCTV,” tambahnya.

Alangkah baiknya lagi apabila masjid mampu membiayai petugas keamanan. Itu tergantung kepada dana masjid yang umumnya berasal dari jamaah. Namun ia menyadari bahwa tidak setiap masjid mampu, terutama masjid yang berada di kampung-kampung yang rata-rata dana masjidnya tidak terlalu bersar.

“Karena sesungguhnya jamaah menyumbang tabungan untuk operasional masjid, tidak perlu pengurus berpikir untuk ditabung atau semacam diendapkan. Justru jamaah berpikir untuk operasional,” lanjutnya.

Ia menilai, manajemen pengelolaan masjid-masjid di Banda Aceh terus meningkat, berbanding terbalik dengan masjid di kampung-kampung yang bahkan terkadang jamaah salatnya tidak ada.

Harapannya, pengurus masjid seyogianya selalu memikirkan supaya meningkatkan kualitas pengelolaan masjid. “Rumah kita saja dikelola dengan baik, apalagi ini yang dikelola rumah Allah,” sambungnya.

Hal senada disampaikan oleh Direktur Masyarakat Informasi dan Teknologi (MIT) Aceh Teuku Farhan SKom. Kasus pencurian yang sering terjadi adalah tabungan  masjid. Dilemanya, tidak semua masjid memiliki kemampuan dana menyediakan sistem keamanan tinggi di masjid. Yang paling memungkinkan ialah memasang CCTV.

Standar pengelolaan CCTV tentunya akan berbeda-beda. Dari pemantauannya, masjid yang memperoleh sumbangan jutaan sudah mulai aktif memasang CCTV. Angka kejahatan seperti pencurian misalnya, akan terminimalisir. “CCTV bagusnya terintegrasi dengan internet, sehingga bisa dilihat secara online,” paparnya.

Ia menjelaskan, setelah ditambah CCTV, sebaiknya monitor CCTV ditempatkan juga di pos keamanan masjid. Petugas keamanan akan lebih mudah memantau kondisi masjid.

Menurut Farhan, sudah saatnya manajemen masjid memberdayakan pemuda yang ahli di bidang teknologi. Pemantauan keamanan berbasis teknologi masjid lebih efektif bila pemuda yang ahli teknologi ikut bergabung. Faktanya, para generasi milenial lebih cepat mempelajari teknologi baru dibandingkan kalangan tua.

“Kalau pihak masjid tidak sanggup menggaji satpam, paling tidak ada petugas IT yang mengelola ini (CCTV) dan mengaplikasikan aplikasi CCTV di setiap hp hp pengurus masjid,” imbuhnya.

Lanjut Farhan, sistem pengelolaan keamanan masjid mesti berkembang mengikuti perubahan zaman. Sistem pengelolaan masjid dulu terkadang tidak cocok lagi dengan sekarang. Zulfurqan

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.