Pelacuran Aib Paling Besar

Pelacuran Aib Paling Besar

GEMA JUMAT, 30 MARET 2018 

Tertangkapnya sejumlah pelacur beserta muncikarinya meresahkan di Banda Aceh dan Lhokseumawe baru-baru ini meresahkan  masyarakat. Apalagi, sebagian di antara berstatus mahasiswa yang seharusnya menjadi generasi masa depan. Kasus- kasus seperti itu  begitu  menggemparkan karena  terjadi di Aceh yang berstatus sebagai daerah bersyariat.

Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh, Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan, MCL MA, faktor utama perempuan maupun lelaki yang terjerumus ke dunia gelap karena lemahnya iman. Katanya, lemahnya ekonomi seseorang tidak dapat dijadikan alasan melakukan perbuatan zina. Orang yang kuat imannya tidak akan terjerumus ke dunia itu karena lemah ekonomi.

“(Germo, pelacur, muncikari) perbuatan paling hina, dekat dengan neraka jauh dari surga.   Itu   perbuatan   memalukan   dan   paling   aib,”   jelasnya   kepada   Gema Baiturrahman.

Pencegahan prostitusi dapat dilaksanakan dengan melibatkan seluruh komponen dalam   masyarakat,   seperti   keuchik,   imum   gampong,   dan  penguasa.   Mereka berperan menjalankan syariat Islam serta mematuhi undang-undang. Pematuhan tersebut diwujudkan dengan saling bekerja sama, salah satunya dengan mencegah prostitusi.

“Kenapa ini (prostitusi) terjadi, karena pejabat terlibat di dalamnya, berdasarkan pernyataan muncikari (yang tertangkap),” imbuhnya.

Ia meminta masyarakat proaktif. Apabila mereka mencurigai terjadinya praktek prostitusi di lokasi tertentu, dapat melaporkannya ke pihak berwenang.

Kepada para pemimpin ia mengharapkan supaya selalu berupaya mencerdaskan masyarakat melalui pendidikan. Tujuannya, masyarakat menjadi kuat imannya serta tidak mudah melakukan  perbuatan   dosa.  Katanya, perbuatan zina yang   sering dilakukan pelacur itu perbuatan besar dan sangat hina. “Jangan membodohi anak bangsa, tapi dicerdaskan,” tegasnya.

Hukuman

Dalam rilis yang diterima Gema Baiturrahman, Tgk Hasanuddin mengatakan, saat ini di Aceh sudah berlaku Qanun Aceh nomor 6 tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.

Dan kepada pelaku tersebut harus di hukum cambuk sesuai dengan ketentuan yang di atur dalam Qanun Jinayah itu.

Ia menjelaskan dalam pasal 3 ayat 2 Qanun Jinayah tersebut  mengandung ancaman hukuman terhadap 10 jarimah (perbuatan yang dilarang oleh Syariat Islam), yaitu 1. khamar (minum arak), 2. maisir (berjudi), 3. khalwat (berduaan antara lelaki dengan perempuan yang bukan mahram di tempat yang sepi), 4. ikhtilath (bermesraan laki-perempuan yang bukan mahram di tempat keramaian); 5. zina, 6. pelecehan seksual, pemerkosaan, 8. qadzaf (menuduh orang berzina tapi tidak menghadirkan empat orang saksi yang melihat kemaluan pezina lelaki keluar-masuk dalam kemaluan pezina perempuan), 9. liwath (homo sexual), dan 10. musahaqah (lesbian).

“Dikarenakan dalam kasus prostitusi online ini melibatkan tiga pihak, yaitu germo, wanita pesanan dan pihak hotel, maka ketiganya ini bisa dijerat dengan Qanun Jinayah tersebut,” pungkasnya.

Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN AR-Raniry ini menjelaskan pihak pertama yang terlibat adalah Andre sebagai tukang promosi zina. Sang germo ini terjerat pasal 33 ayat (3) Qanun Jinayat. Pasal tersebut berbunyi “Setiap Orang dan/atau Badan Usaha yang  dengan sengaja  menyediakan fasilitas  atau mempromosikan Jarimah Zina, diancam dengan ‘Uqubat Ta’zir cambuk paling banyak 100 (seratus) kali   dan/atau   denda   paling   banyak   1000   (seribu)   gram   emas   murni   dan/atau penjara paling banyak 100 (seratus) bulan.

“Sang germo diancam dengan ‘Uqubat Ta’zir cambuk paling banyak 100 (seratus) kali   dan/atau   denda   paling   banyak   1000   (seribu)   gram   emas   murni   dan/atau penjara paling banyak 100 (seratus) bulan,” tuturnya.

Pihak kedua adalah perempuan pesanan yang sudah berbuat zina atau tidak sampai berbuat zina tetapi sudah melakukan khalwat. Bagi mereka terancam hukuman dalam jarimah khalwat sesuai dengan ketentuan pasal 23 ayat (1) Qanun Jinayat yang berbunyi “Setiap Orang yang dengan sengaja melakukan jarimah khalwat, diancam dengan ‘Uqubat Ta’zir cambuk paling banyak 10 (sepuluh) kali atau denda paling banyak 100 (seratus) gram emas murni atau penjara paling lama 10 (sepuluh) bulan”.

“Akan tetapi jika para lonte ini mengaku telah berzina maka bagi mereka 100 kali cambuk. Hal tersebut juga diatur dalam Qanun Jinayah pasal 33 ayat (1),” lanjutnya.

Sementara pihak ketiga  adalah  pemilik hotel yang terjebak dengan penyediaan fasilitas berupa kamar untuk orang-orang berbuat zina/khalwat. Maka terancam dengan pasal 23 ayat (2) Qanun Jinayat yang berbunyi “Setiap Orang yang dengan menyelenggarakan,  menyediakan fasilitas  atau mempromosikan  Jarimah khalwat, diancam dengan ‘Uqubat Ta’zir cambuk paling banyak 15 (lima belas) kali dan/atau denda paling banyak 150 (seratus lima puluh) gram emas murni dan/atau penjara paling lama 15 (lima belas) bulan”. “Kalau pihak hotel terbukti menyediakan fasilitas untuk pelaku zina maka ia terjerat dengan pasal 33 ayat (3),” ungkapnya.

Dengan demikian, lanjutnya kepolisian wajib memeriksa kasus te sebut dengan seksama, serius, adil, muslihat, dan berperadaban. Kalau ternyata melanggar Qanun Hukum Jinayat maka polisi harus segera menyeret mereka ke meja hijau mengikuti prosedur yang berlaku. Zulfurqan

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.