Mensyukuri Hari Libur

Mensyukuri Hari Libur

Gema, 01 April 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, hari Ahad benarkah menjadi hari libur bagi kita di negeri ini? Pertanyaan ini mestinya direspon dengan bijak. Jangan-jangan hanya tidak masuk kerja di tempat biasanya saja atau tidak masuk ke kantor saja atau tidak masuk kuliah/sekolah saja, tetapi pikiran, perhatian dan aktivitas kita masih serupa, hanya pindah tempat saja.

Menurut kelaziman, hari libur atau liburan dimaknai sebagai suatu masa dimana seseorang bisa meluangkan waktu yang bebas dari pekerjaan atau aktivitas dari suatu rutinitas di institusi pendidikan atau instansi pemerintahan tertentu. Liburan lazimnya terjadi pada pertengahan tahun atau akhir tahun, juga pada hari raya dan pada hari-hari besar dalam agama dan di akhir pekan. Dalam kondisi khusus seperti bencana alam, hari libur dapat ditetapkan oleh pemerintah.

Saudaraku, terlepas dari tercapai tidaknya substansi yang dicita-citakan, hari libur atau liburan tetap didambakan oleh banyak kalangan — untuk tidak menggeneralisasi bagi semua orang — terutama yang telah berkecimpung di dunia kerja dan dunia pendidikan. Agak aneh memang sih, terutama bagi yang masih kuliah di S1 S2 S3 atau sekolah swasta, sudah harus membayar mahal-mahal untuk bisa kuliah atau sekolah, eh giliran libur juga senang bukan kepalang. Iyalah, intinya semoga liburan dapat membawa kemaslahatan seluas-luasnya termasuk menghilangkan kepenatan apalagi stres karena pekerjaan atau karena rutinitas tertentu.

Oleh karenanya, layak bagi kita untuk mengingat kembali tentang akhlak mensyukuri hari libur.

Pertama, harus disadari bahwa libur atau liburan hanya terkait dengan aktivitas kerja rutinitas kantor atau pergi ke institusi pendidikan formal atau dunia kerja atau instansi pemerintahan tertentu saja. Sedangkan terkait dengan ibadah dan belajar atau bahkan bekerja secara umum sejatinya tidak mengenal istilah libur, apalagi dalam masa yang panjang. Idealnya ibadah, dan beramal shalih nonstop. Oleh karenanya, ada tuntunan etis untuk memaknainya bahwa sepanjang hidup mestinya bernilai ibadah, belajar sepanjang hayat, pendidikan seumur hidup dan seterusnya.

Kedua, mengucapkan alhamdulillah diberi dan berkesempatan libur. Kita bersyukur kepada Allah, dan berterima kasih kepada pemerintah atau pembuat kebijakan, karena ada hari atau saat dimana kita terbebas dari rutinitas kerja yang selama ini kita geluti.

Ketiga, memanfaatkan hari libur untuk melakukan rileksasi dan refreshing secara syar’i bersama keluarga. Dengan rileksasi dan refreshing akan menghilangkan kebosanan dalam bekerja dan sekaligus dapat memberikan semangat baru saat masuk kerja setelahnya.

Rileksasi dan refreshing dapat dilakukan dengan rekreasi ke tempat-tempat yang lazim, berbelanja bersama keluarga, memenuhi undangan hajatan saudara, beraktivitas pekanan di kediaman sendiri bersama keluarga, seperti bergotong royong melakukan sanitasi, memberesi rumah bersama, mempesiapkan dan masak bersama, juga makan bersama.

Keempat, rileksasi dan refreshing dengan mengutamakan dan memperbanyak ibadah mahdhah bersama istri atau suami dan putra putri tercinta lebih dari biasanya, seperti bisa leluasa dalam tilawah Qur’an, shalat dhuha, dzikir dan shalat berjamaah.

Malah sejatinya kita harus mendahulukan dan mengutamakan waktu-waktu terbaik kita kapan saja dan di mana saja hanya untuk Allah dengan cara melakukan aktivitas apapun diniatkan ibadah, diawali dengan basmalah dan disudahi dengan hamdalah.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.