Mensyukuri Hari Tua

Mensyukuri Hari Tua

Gema, 05 April 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, kita akan segera memahami mengapa hari-hari di masa tua disebut sebagai usia senja? Di antaranya karena setelah bercahaya teduh di pagi hari dan bersinar cerah (baca berkarir cemerlang) di siang hari, maka ketika sudah tiba di sore hari pertanda bahwa sebentar lagi sang surya akan tenggelam di telan malam. Di samping itu secara substansi, penggunaan istilah senja juga untuk menyatakan sekaligus mengajarkan makna bahwa manusia khususnya orang-orang beriman idealnya seperti matahari yang senantiasa menyinari; eksistensinya di sini membawa misi Ilahi dan punya arti bagi penghuni bumi.

Secara fisik lahiriyah, coba lihatlah perubahan diri sendiri juga pada setiap orang seusia kita atau bahkan yang sudah senior di atas kita. Pasti segalanya telah berubah; ketampanan, kecantikan dan kekuatan entah pergi ke mana; semua telah memudar bahkan mulai sirna; segala peran sudah mulai digantikan oleh generasi putra-putri anak cucu kita. Ketika segalanya telah renta, organ tubuh mulai uzur, uban kian bertabur, penglihatan menjadi lamur, gigi satu per satu pada gugur, pendengaran terasa kabur, jalannyapun sudah terhuyur-huyur. Oleh karenanya, sadar dan sadarlah bahwa ajal telah dekat dan akhirnya terbujur di liang kubur.

Akan tetapi ranah intelektualitas, sensitifitas dan spiritualitas kita harus tetap terjaga pada maqam ketinggian dan keridhaanNya.

Suatu saat ketika ajal tiba unsur jasadiyah tentu merapat ke tanah di bumi ini dan kembali ke unsur semula, unsur air kembali cair, unsur tanah kembali menjadi tanah, maka aspek ruhaniah terus meningkat naik mengangkasa bersua dengan penciptaNya. Saat itu keluarga dan kerabat harus rela; ketika jiwa kembali ke asalNya. Inilah konsep Inna lillahi wa inna ilaih raji’un dalam iman kita.

Oleh karena itu, ada baiknya kita mengingat kembali tentang akhlak mensyukuri hari tua.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa kita hidup sampai sekarang ini atau bahkan sampai usia tua nanti adalah karunia Allah sekaligus amanah. Dikatakan karunia karena sesempurna siklus hidup seorang hamba adalah lahir, menjadi bayi, lalu anak-anak, lalu remaja, masa muda, masa dewasa, dan masa tua. Betapa banyak yang sudah menghadap Allah sebelum masa tuanya. Jadi kita bersyukur masih dikaruniai hidup oleh Allah. Dikatakan amanah, karena masa tua sebagai masa yang tersedia adalah kesempatan terbaik untuk intensif mengabdi.

Kedua, selalu membasahi lisan dengan mengucapkan alhamdulillahi rabbil alamin. Bila sudah mencapai usia tua belum membiasakan mengucapkan alhamdulillah atau lafald dzikir lainnya, lalu mau kapan lagi? Begitulah kira-kira kita introspeksi.

Ketiga, memanfaatkan masa untuk bertaubat; Bertaubat dari perilaku dosa dan maksiat maupun bertaubat dari perilaku cinta dunia.

Keempat, memanfatkannya untuk mendulang pahala. Lazimnya usia tua tidak lagi disibukkan dengan beban kerja sebagamaina masa-masa sebelumnya, maka peluang untuk mandito atau melakukan tarakhir kepada Rabbnya relatif lebih leluasa.

Kelima, memaafkan dan memohon dimaafkan. Sejatinya etika memaafkan dan memohon maaf bukan di masa tua saja, tetapi sejak kapan saja. Namun di masa tua kebutuhan dan keadaan tanpa beban semakin terasa, karena tidak akan berulang kesempatan yang tersedia.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.