Catatan Basri A. Bakar dari Tanah Suci (3 – Habis): Ziarah Napak Tilas Perjuangan Rasulullah

Catatan Basri A. Bakar dari Tanah Suci (3 – Habis): Ziarah Napak Tilas Perjuangan Rasulullah

GEMA JUMAT, 6 APRIL 2018

Selain rukun dan wajib haji/ umrah, para jamaah pasti mendapat kesempatan melakukan ziarah ke beberapa tempat bersejarah baik di Madinah maupun di Mekkah. Tempat ziarah di Madinah selain Makam Rasulullah dan Baqi’ di Masjid Nabawi, sebut saja seperti Jabal Uhud, Khandak, Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Percetakan al Quran, kebun kurma dan lainlain. Sedangkan ziarah di Mekkah antara lain Rumah Rasulullah, kuburan Ma’la, Jabal Nur/ Gua Hira’, Jabal Tsur, Jabal Rahmah, Masjid Jin, Masjid Siti Aisyah (Tan’im), Jaronah dan lain-lain.

Sebagian besar tempat- tempat yang dikunjungi tersebut mengembalikan ingatan kita kepada sejarah masa lalu di saat Rasulullah dan para sahabat berjuang melawan kafir Qurasy dalam menyebarkan dakwah islamiyah. Bayangkan jazirah Arab masa lalu yang jauh dari teknologi seperti yang kita rasakan saat ini. Di tengah bumi Arab yang gersang ditambah lagi dengan transportasi kuda dan unta saat itu, Rasulullah SAW dan pengikutnya berjuang hidup mati membela agama Allah. Berziarah ke tanah suci dan melihat dari dekat tempat-tempat suci merupakan sesuatu yang berharga bagi jamaah dalam memperkaya dan memperdalam wawasan sekaligus merefl eksi kembali suka duka Rasulullah demi menambah iman. Para jamaah pasti mengunjungi Bukit (Jabal) Uhud sekitar 3 km di luar kota Madinah, tempat berlangsungnya Perang Uhud, yaitu perang antara kaum muslimin dengan tentara kafir Quraisy. Bukit Uhud terlihat berwarna merah, kering kerontang, panas, hampir tidak ada pepohonan yang tumbuh di sana. Berada di sini kita dapat membayangkan perang melawan kafir Qurasy yang dipimpin oleh Rasulullah. Dalam perang Uhud, Rasulullah membuat strategi perang dengan mengatur para pemanah di atas bukit. Namun karena beberapa sahabat tidak mematuhi perintah Rasulullah disebabkan tergoda harta pampas an perang, maka kaum muslimin kalah dalam perang tersebut. Banyak kaum muslimin yang menjadi syuhada termasuk paman Rasulullah sendiri Saidina Hamzah.

Demikian pula saat kami berada di Jabal Tsur, tempat Rasulullah Saw dan Abubakar Ash Shiddiq r.a bersembunyi dari kejaran kafi r Qurasy yang sangat berambisi untuk membunuh beliau. Meskipun kami berdiri di kaki bukit tersebut, namun dari kejauhan tampak jalan yang dilalui Rasulullah menuju gua Tsur. Kita membayangkan betapa berat perjuangan Rasulullah terutama menghadapi kafir Qurasy saat itu. Allah menyelamatkan beliau dan Abubakar meski putri Rasulullah Fatimah harus bersusah payah secara sembunyi-sembunyi mengantar makanan untuk bekal ayahnya bersama sahabat Abubakar. Kalau kita mau menghayati beratnya penderitaan Rasulullah, tentu kita tak mampu membendung kesedihan.

Ziarah berikutnya adalah melihat jabal Nur atau Gua Hira’ tempat Rasulullah menerima wahyu pertama Iqra’ dari Jibril a.s. Disinilah Rasulullah berkhalwat. Saat kami berada disini, panas matahari sangat menyengat, tidak ada pepohonan untuk berlindung. Yang ada hanyalah bongkahan batu cadas dan bukit tandus seperti tak ada kehidupan. Jauh Gua Hira’ dari Kota Mekkah sekitar 6 km, saat itu ditempuh dengan berjalan kaki.

Semua perjalanan ziarah bagi jamaah haji dan umrah memberi kesan tersendiri bahwa sebenarnya Rasulullah saw adalah manusia biasa, merasakan penderitaan pahit getirnya dalam mengajak ummat untuk menyembah Allah. Yang membedakan kita dengan beliau adalah karena Rasulullah ditugaskan membawa risalah dan mendapat wahyu. Alhamdulillah berkat perjuangan beliau, kita menjadi manusia yang beriman hingga ummat akhir zaman.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.