Dakwah Santun Junjung Persatuan

Dakwah Santun Junjung Persatuan

GEMA JUMAT, 6 APRIL2018 

Bersatu teguh bercerai rubuh. Sebuah pepatah itu mengingatkan kita untuk menjaga persatuan. Perjalanan sejarah umat Islam telah membuktikan bahwa dengan persatuan Islam disegani di dunia. Sebut saja kerajaan-kerajaan Islam besar yang pernah berdiri di Baghdad, Damaskus, Turki, Bandar Aceh Darussalam, merupakan sebagian contoh kerajaan yang kuat karena kuatnya persatuan umat.

Begitulah pernyataan Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Prof Yusny Saby kepada Gema Baiturrahman.

Ia menjelaskan bahwa kekuatan umat Islam terletak pada persatuan. Pentingnya persatuan telah dirasakan oleh negara-negara di Eropa dan negara-negara Amerika yang kini bersatu. Alasan umat Islam dijajah karena perpecahan. Umat Islam di manapun berada harus sadar untuk bersatu.

“Bahwa kita sekarang dalam keadaan berpecah-belah dan sangat memalukan. Kita lebih hina dari budak-budak karena kita bukan lagi melayani raja, kalau melayani raja masih terhormat karena budaknya raja. Tetapi kita sekarang melayani konglomerat, pabrik senjata, agen narkoba, adikuasa, jadi kita pelayan-pelayan yang sangat tidak pantas, yang mereka itu bersenang-senang, mabuk-mabuk, membunuh di sana-sini, itulah yang kita layani sekarang,” ujarnya.

Semangat persatuan dapat digelorakan melalui dakwah, lembaga pendidikan, khutbah-khutbah, dan pengajian. Ketika menyampaikan dakwahnya, para khatib tidak boleh mencaci, memfitnah, dan menciptakan gosip terhadap kelompok tertentu. Perbuatan tersebut hanya akan menimbulkan masalah besar. Di saat perpecahan umat terjadi ada pihak yang mengambil keuntungan darinya.

Sementara itu, pemateri pengajian tidak boleh juga mengajak memusuhi orang lain. Pengajian harus mengajarkan sikap toleransi, santun, dan mampu memperbaiki kualitas manusia, bukan memprovokasi masyarakat. Bukan pengajian namanya jika isinya memfitnah atau mengkafirkan orang lain, padahal itu dosa besar. “Siapa saja yang mengatakan saudara lain kafir, maka salah satunya akan menjadi kafir,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, manusia hidup berkelompok-kelompok dan bersuku-suku. Tentunya ada perbedaan-perbedaan yang tidak mungkin disatukan. Oleh karenanya, dibutuhkan saling mengenal orang lain sehingga muncul rasa peduli, tenggang rasa, saling membantu. “Kalau kita bisa melaksanakan itu, baru kita bisa mencapai derajat takwa,” lanjutnya.

Pemimpin dan ulama mesti menjadi contoh teladan wujud persatuan, baik dalam perkataan dan perbuatan mereka.

Wakil Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tgk. H. Faisal Ali menyepakati bahwa ukhuwah umat Islam harus dijaga. Di dalam masyarakat sendiri terdapat perbedaan pendapat dalam memahami ibadah. Agar ukhuwah ini terjaga, maka praktek ibadah yang harus dilakukan adalah yang diterima oleh kebanyakan orang. Misalnya membaca khutbah, rukun khutbah dan model baca khutbah jangan menggunakan hal-hal yang bersifat khilaf. Sementara substansi khutbah Jumat adalah mengajak umat bertakwa.

“Gunakan model khutbah yang semua ulama menyatakan itu sah,” terangnya.

Ia juga mengajak agar pengajian yang dilaksanakan tidak mengandung sara dan provokatif. Pemateri pengajian alangkah baiknya tidak menjawab pertanyaan kontroversi, dan baiknya pertanyaan seperti itu tidak ditanyakan.

Esensi dakwah

Prof Syahrizal Abbas menambahkan, dakwah adalah suatu kewajiban yang melekat dalam setiap pribadi muslim. Dawah dalam arti luas adalah mengajak masyarakat, komunitas kepada kebaikan. “Mengajak kepada yang baik, dan mencegah kepada yang munkar. Itu sebenarnya esensi dakwah,” terangnya.

Instrumen dakwah dapat berupa lisan, tulisan, dan perilaku. Instrumen lisan berupa orasi, ceramah, diskusi, dan tausiah untuk mengemban amanah dakwah. Instrumen tulisan seperti poster, tulisan di media cetak, buku, jurnal, dan karya tulis lainnya. Tidak kalah pentingya instrumen perilaku yang di dalamnya mencakup keteladanan.

Katanya, yang harus diperhatikan dalam mengemban amanah dakwah adalah mekanisme penyampaian dakwah. Mekanisme yang tidak tepat akan membuat pesan yang ingin disampaikan tidak tepat sasaran atau menjadi bumerang karena tidak tepat waktu maupun audiennya.

Hal yang harus diperhatikan berdasarkan nilai ajaran Alquran dan sunah. Pertama, materinya harus benar-benar mengajak kepada kebaikan kepada individu, keluarga, dan masyarakat. Materi tidak boleh mengancam terjadinya perpecahan, melainkan menciptakan kedamaian, keamanan, kenyamanan, dan mampu menyadarkan orang untuk berbuat baik.

“Materi itu tidak boleh provokatif, menciderai orang lain, menimbulkan kegaduhan, ataupun menimbulkan perpecahan,” lanjutnya. Zulfurqan

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.