Gaya Hidup Boros

Gaya Hidup Boros

GEMA JUMAT, 6 APRIL 2018

“Dan janganlah kamu menghambur- hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-Pemboros itu adalah saudara- saudara syaitan.” (QS. Al Isra’: 26-27)

Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang salah atau keliru.” Selanjutnya Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Sebaliknya, seandainya seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Dalam tafsir Jalalain disebutkan bahwa orang yang boros, sesungguhnya mereka telah mengikuti jalan setan sehingga disebut dalam ayat mereka adalah saudara setan. (Tafsir Al Jalalain, 294). Sementara Syekh As Sa’di rahimahullah mengatakan, “Orang yang boros disebut temannya setan karena setan tidaklah mengajak selain pada sesuatu yang tercela. Setan mengajak manusia untuk pelit dan hidup boros atau berlebih-lebihan. Allah berfi tman yang artinya : “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. ” (QS. Al Furqan: 67) Agama kita mengajarkan agar kita merasa kecukupan terhadap sesuatu, bukan justru selalu merasa kekurangan. Seseorang menjadi mulia dan dikenal di langit yang tinggi karena beberapa alasan. Di antaranya adalah menjaga harta, membelanjakannyadalam kehidupan dengan baik, dan menafkahkannya pada tempat-tempat yang dianjurkan. Oleh karena itu Islam melarang ummatnya hidup boros baik dalam makanan, pakaian atau gaya hidup konsumtif dengan berbagai pernak pernik dunia. Sebab, gaya hidup boros dapat membuat seseorang miskin dan melarat. Biasanya orang yang boros membelanjakan hartanya demi memperturutkan keinginan dan nafsunya.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.