Mensyukuri Jum’atan

Mensyukuri Jum’atan

Gema-H, 06 April 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, dalam durasi harian umat Islam dituntun untuk bersatupadu berjamaah dalam penunaian shalat fardhu Isya, Subuh, Dhuhur, Asar dan Magrib di rumah-rumah ibadah, seperti mushala, langgar juga masjid.

Dalam durasi sepekanan, umat Islam dituntun untuk bersepadu berjamah menunaikan ibadah shalat jum’atan di masjid.

Dalam skala tahunan umat Islam dituntun bersepadu berjamaah menunaikan ibadah shalat Ied Fitri dan Ied Adha di tanah-tanah yang luas nan lapang.

Dalam durasi hidupnya seorang muslim juga dituntun untuk bersepadu berkumpul berjamaah menunaikan ibadah haji sekali seumur hidupnya ke Mekah al-Mukamah termasuk di Padang Arafah.

Saudaraku, indah bukan! Dari durasi harian hingga durasi selama hidupnya seseorang hamba harus bersimpuh pada saat-saat terbaiknya ke hadirat Allah Swt. Di samping dalam skala lokal hingga internasional, umat Islam dituntun untuk menyatukan niat hanya mengabdi pada Ilahi Rabbi.

Untuk itu, layak bagi kita mengingat kembali akhlak mensyukuri instrumen pengkodisian beribadah. Salah satu di antaranya adalah ibadah jum’atan.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa saat dan hari (termasuk hari Jum’at) adalah sunnatullah sebagai ketentuan Allah yang disediakan bagi manusia agar dapat mengabdi hanya kepadaNya saja.

Kedua, tidak henti-hentinya mensyukuri dengan sering-sering mengucapkan alhamdulillah atas segala fasilitas dan pensyariatan ibadah yang sudah Allah tetapkan atas hamba-hambaNya.

Ketiga, memenuhi kewajiban jum’atan dengan sebaik, seindah, dan sesempurna mungkin yang bisa dilakukan.

Di antaranya dengan mempersiapkan diri lebih awal, yaitu memotong kuku, merapikan kumis, mandi sempurna diawali dan diakhiri dengan berwudhu, mengenakan pakaian terbaik, mengenakan wewangian secara bersahaja, menyiapkan infaq atau wakaf terbaik dan pergi menuju ke masjid tempat penyelenggaraan Jum’at.

Bila sudah mempersiapkan diri sejak awal, maka saat menempuh perjalanan pun dapat dilakukan dengan bersahaja tidak tergopoh-gopoh apalagi mengebutkan langkah kaki atau kendaraannya. Syukur-syukur di sepanjang perjalanan dapat berzikir atau mengulang-ulang bacaan Qur’an.

Dari akhlak di atas, mestinya masjid akan menjadi tempat yang menyenangkan, suasana hening, syahdu, dan kita betah di dalamnya, apalagi diliputi oleh semerbak wewangian yang bersahaja, jamaahnya mengenakan pakaian terinda, karpet atau lantainya bersih dan asesorisnya tertata.

Selama ini jangan-jangan wewangian dan pakaian bagus nan indah hanya ada di tempat-tempat pesta, walimatul ‘ursy, di kantor-kantor atau tempat pelantikan atas suatu jabatan tertentu saja. Lalu pantas kita bertanya, siapa sih yang mengisi masjid selama ini? Bukankah pemakmurnya juga orang yang sama, orang yang juga selama ini pergi ke pesta-pesta, walimatul ‘ursy, orang kantoran dan yang dilantik dalam suatu jabatan tertentu.

Saat sampai di masjid, kita dituntun melakukan shalat tahiyatul masjid untuk memuliakannya, lalu menenangkan hati dan pikiran sembari tilawah, berzikir atau berdoa pada Allah taala. Dalam masa sekitar satu jam saja, kita hibahkan totalitas kepribadian kita untuk bersimpuh curhat pada Allah saja.

Saat khutbah sudah dimulai, khatib sudah di mimbar dan mengawalinya dengan salam, maka konsentrasi kita hanya tertuju untuk ibadah, mendengarkan adzan juga kutbah seutuhnya sembari duduk bersimpuh atau bersila tanpa kata-kata saat khatib bicara.

Saat khatib duduk di antara dua kutbah, sebaiknya digunakan untuk berdoa, karena kita yakin saat itu menjadi saat-saat mustajab doa bagi hamba.

Konsentrasi kita harus penuh dari sejak awal mula, di antaranya karena sudah termasuk SOP, kaifiat pelaksanaan ibadah Jum’at, terutama sejak khatib menaiki mimbar. Bila hari biasa, dhuhur empat rekaat, maka penunaian Shalat Jumat, terdiri dua kutbah dan dua rekaat berikutnya. Jadi dua kutbah nenjadi rukun tak terpisahkan dengan dua rekaat shalat. Oleh karenanya, ketika melakukan kegiatan lain seperti memainkan hp atau berbicara atau lainnya dapat merusak ibadah Jumat.

Saat usai shalat, kita dituntun untuk berdoa sesuai hajad dan keperluan hambaNya dan diakhiri shalat sunnah bakda Jum’at dua rekaat atau semampu kita.

Sebagai sarana pertemuan pekanan, maka lazim juga usai ibadah Jumat dimanfaatkan untuk beramah tamah atau musyawarah antar pengurus takmir masjid, atau antar jamaah. Allahu A’ lam.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.