Shalat: Dari Hulu ke Hilir

Shalat: Dari Hulu ke Hilir

GEMA JUMAT, 6 APRIL2018

Dalam sebuah kesempatan Rasulullah pernah mengumpamakan shalat sebagai suatu aliran sungai yang mengalir deras di depan rumah seseorang, dan kemudian orang di rumah tersebut mandi sekurang-kurangnya lima kali sehari di sungai tersebut. Setelah mengajukan perumpamaan tersebut Rasulullah bertanya kepada para sahabatnya: ayabqa min daranihi syai’a? (kira-kira jika dia mandi sebanyak itu, apa masih tersisa kotoran pada tubuh orang tersebut?). Para sahabatpun dengan tegas menjawab: tntu tidak tersisa lagi tersisa kotoran tersebut)  Rasulullah kemudian menutup dialognya dengan sahabat seraya berkata: Begitulah perumpamaan shalat lima waktu, Allah akan menghapus dosa-dosa dengan menegakkannya”.

Dari segi kualitas, hadis di atas tak perlu dipertentangkan lagi. Ia terekam di dalam kitab hadis paling otentik dalam tradisi keislaman Ahlus Sunnah wal Jamaah, yaitu Sahih Bukhari. Adapun yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana kita memaknakan hadis tersebut.

Kebanyakan kita terfokus kepada subjek yang disorot oleh Rasulullah dalam cuplikan hadis di atas, yaitu mushalli (pelaku shalat). Pemahaman ini terlihat jelas dari sekian banyak ceramah yang diproduksi oleh para mubaligh yang senantiasa menekankan pelaku shalat untuk konsisten dalam mengerjakannya sambil melampirkan keutamaan shalat sebagai media penghapus dosa. Tidak ada yang salah dengan pemahaman ini. Namun begitu, jarang diantara itu yang berkenan aktif untuk bertanya lebih jauh kenapa Rasulullah menggunakan perumpaan sungai untuk menganalogikan shalat di dalam hadis tersebut.

Di dalam ilmu pengetahuan modern dikatakan, sungai yang baik setidaknya memiliki dua ciri. Pertama, sungai yang memiliki dua sisi, hulu dan hilir; dan kedua, sungai tersebut mengalir, tidak tergenang. Hulu merupakan titik awal di mana air sungai itu berasal. Biasanya hulu sungai tersebut bermula dari suatu tepat dataran tinggi. Sedangkan hilir merupakan tempat di mana aliran sungai itu berakhir. Dan biasanya daerah hilir sungai merupakan dataran rendah seperti tepi pantai. Shalat mengajarkan kita bersikap seperti sungai yang mengalir dari tempat lebih tinggi ke tempat lebih rendah. Kita selalu memulai shalat sambil berdiri dan mengakhiri shalat dengan salam dalam posisi duduk.

Aliran tinggi ke bagian yang lebih rendah juga mampu menciptakan ruang di mana kita mampu berempati kepada orang lain. Dalam syair Arab disebutkan, la tankari ‘athalul al-karim minal ghina, fa sailu harbun lil makanil al-‘ali (jangan pernah engkau ingkari pemberian seorang yang mulia dari kekayaannya, karena air selalu mengalir deras dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah). Shalat yang dilakukan dalam dimensi ini dapat menimbulkan rasa empati pelakunya terhadap orang lain. Oleh karena itu wajar jika Allah dalam banyak kesempatan di dalam al-Qur’an dengan konsisten menyebutkan tertib shalat sebelum tertib zakat (aqimushalah wa atuzzakah).

Dalam pelaksanaannya, Nabi seolah-olah memaksakan shalat dikerjakan secara berjamaah. Masih segar dalam ingatan kita di mana Nabi suatu hari pernah mengancam akan membakar rumah seorang sahabat yang tidak pernah nampak batang hidungnya di Mesjid (fauhariqu ‘alaihim buyatahum bin nar). Pada hakikatnya, pelaksanaan shalat secara berjamaah adalah kehendak Allah untuk menciptakan ruang publik, di mana di dalam ruang tersebut manusia berkumpul dalam satu tempat dan waktu untuk mengerjakan ibadah kepada Allah. Dengan demikian terjalinlah pertemuan antara si miskin dengan si kaya, atasan dengan bawahan, muzakki dengan mustahiq.

Oleh karena itu, shalat yang baik selalu harus berasal dari hulu kesalehan individu (individual piety) yang termanifestasikan dalam wujud ikhlas dan ia harus dialirkan dengan deras sehingga menghujam ke hilir kesalehan sosial (social piety). Dalam kata yang lebih sederhana, hulunya shalat adalah iklas dan hilirnya shalat adalah ibadah sosial seperti zakat, infaq dan shadaqah. Oleh sebab itu, tidak berlebihan jika Allah dalam bujukan awal agar manusia berkenan menyembahnya, bujukan tersebut hanya diarahkan kepada orangorang yang ikhlas (wa ma umiru liya’budullah illa mukhlishina lahuddin). Tetapi tujuan akhir shalat adalah menciptakan manusia yang berguna untuk masyarakat sekitarnya dalam wujud ibadah sosial. Di dalam al-Qur’an dinyatakan orang-orang yang mengalir di dalam shalatnya dia mampu menahan diri dari perbuatan keji dan mungkar (inna shalata tanha anil fahsha wal munkar). Ketika kemampuan menahan dan membatasi diri ini terwujud dalam diri seseorang, selanjutnya ia akan menghiasi dirinya dengan aksi-aksi sosial yang bermanfaat kepada orang lain.

Bukankah Nabi pernah berpesan kepada kita khairun nas anfa’uhum linnas (sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk manusia yang lain. Semoga kedepan shalat yang kita kerjakan tidak hanya bercorak kesalehan individual semata, namun juga diharapkan mampu menumbuhkan kepekaan sosial dalam diri kita. Semoga tulisan singkat ini ada manfaatnya, kepada Nya pula penulis memohon ampunan, tawfi q, hidayah dan perlindungan. Wallahu a‘lam bi al-haqiqah wa al-shawab.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.