Mensyukuri Syariat Islam

Mensyukuri Syariat Islam

Gema, 08 April 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, bila kita akan menuju ke suatu tempat idaman yang dicitacintakan dan ketika sudah berada di jalan yang benar, maka berjalanlah maju terus ke depan, dan jangan berhenti bila tidak diperlukan. Mengapa? Karena di antara karakteristik jalan itu adalah gerak, sarana untuk begerak, tempat untuk berjalan bukan untuk berhenti, maka berjalanlah agar segera sampai pada tujuan bila tidak ingin ditabrak atau ditinggalkan.

Seandainya dalam hidup dan kehidupan ini tidak ada yang namanya jalan, lalu apa jadinya ya? Niscaya hidup ini akan stagnan, tidak ada gerak, tidak ada apa-apa,dan tidak ada mobilitas kehidupan apa-apa. Begitu juga halnya syariat (Islam), karena di antara kata dalam bahasa Arab yang bermakna jalan adalah syari’, di samping thariq, sabil, dan shirat.

Syari’at merupakan tanda atau arah yang menunjukkan jalan ke sumber air, jalan yang mengantarkan ke sumber kehidupan, arah yang menunjuki menuju ke tujuan hidup. Artinya menjalankan dan mentaati syariat yang diturunkan oleh Allah yaitu syariat Islam merupakan satu-satunya jalan untuk menggapai tujuan hidup yaitu kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, ada baiknya kita mengingat kembali tentang akhlak mensyukuri diturunkannya syariat Islam.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa syariat Islam yang diturunkan oleh Allah adalah diperuntukkan bagi kepentingan dan kebahagiaan manusia, bukan untuk Allah. Allah senantiasa Maha Mulia tanpa dimuliakan manusia sekalipun; Allah tetap Maha Besar tanpa dibesarkan oleh manusia sekalipun; Allah selalu Maha Kuasa atas segala sesuatu tidak bergantung pada ketaatan manusia.

Di samping itu, ita juga harus meyakini bahwa syariat yang paling sempurna yang diturunkan oleh Allah adalah syariat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw sebagai nabi penutup dan penyempurna kerisalahan nabi-nabi sebelumnya. Oleh karenanya, Nabi Muhammad saw dikenal sebagai khatamul anbiya’ (penutup para nabi).

Setelah kenabian Nabi Muhammad saw, Allah tidak mengutus nabi lagi, dan syariatnya sudah sempurna. Maka syariat Islam itu bersifat universal dan komprehensif. Universal dimajsudkan bahwa syariat Islam berlaku kapan saja, di mana saja, dan untuk siapapun orangnya. Komprehensif karena syariat Islam serba meliputi, berisi segala aspek kehidupan manusia, tidak ada sesuatupun yang diabaikan.

Kedua, mengucapkan alhamdulillah, dengan diturunkannya syariat Islam hidup manusia menjadi teratur dan terarah menuju kebahagiaan baik di dunia maupun akhirat.

Ketiga, mengimani dibuktikan dengan berusaha mempelajari dan memahami syariat Islam sedikit demi sedikit dengan cara membaca buku, mengikuti pengkajian, mendengarkan taushiah atau kegiatan serupa lainnya.
Keempat, mengamalkan syariat Islam tahap demi tahap dalam kehidupan praktis sesuai dengan ilmu, pemahaman dan kesanggupan masing-masing

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.