Mensyukuri Pakaian

Mensyukuri Pakaian

Gema, 09 April 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, bila totalitas manusia terdiri dari jasmani dan ruhani, lahiriyah dan batiniyah, fisik dan psikis, maka begitu juga halnya dengan pakaian, ada pakaian lahir dan pakaian batin. Dalam Islam, baik pakaian lahir maupun pakaian batin ada syariatnya, ada aturannya, ada karakteristiknya yang terjaga.

Allah berpesan, Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (Qs. Al-A’raf: 26).

Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (Qs.Al A’raf :31.

Merujuk pada normativitas di atas, pakaian lahiriyah mestinya bersesuaian dengan pakaian taqwa yang bersemayam di hati seorang mukmin yang mewujud dalam keluhuran akhlaknya. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa pakaian lahiriyah yang dikenakan oleh badan senantiasa terjalin berkelindan dengan kondisi pakaian ketaqwaan di hatinya.

Seperti apakah pakaian taqwa itu? Pakaian taqwa di antaranya dapat memenuhi beberapa kriteria. Pertama, pakaiannya dapat menutupi aurat secara sempurna, tidak ketat, tidak transparan dan tidak berlebih-lebihan.

Kedua, pakaiannya dapat melindungi diri dari bahaya eksternal, baik dari alam seperti sengatan panas, udara dingin, desiran debu maupun dari pandangan mata liar lawan jenisnya.

Ketiga, pakaiannya dapat meneguhkan identitas keislaman seseorang yang dilandasi oleh keimanannya. Dengan demikian, di antara karakteristik orang-orang Islam dapat diperhatikan pada pakaian lahiriyahnya dan perilakunya.

Oleh karena itu, ada baiknya kita mengingat kembali akhlak mensyukuri pakaian takwa.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa pakaian takwa, baik secara lahiriah maupun batiniah merupakan satu-satunya pakaian yang disyariatkan oleh Allah atas manusia yang berperadaban. Bila menolaknya dengan tidak sengaja atau karena ketidaktahuannya, maka perlu belajar dan pembejaran, tetapi bila menolak dengan sengaja, maka akan kontra produktif dengan capaian peradabannya.

Kedua, mengucapkan alhamdulillah kita dianugerahi hidayah untuk mengenakan pakaian taqwa, baik lahiriyah maupun batiniyahnya. Secara lahiriyah akan terlindungi, dan secara batiniyah akan terpelihara.

Ketiga, istiqamah mengenakan pakaian taqwa dalam kehidupan sehari-hari. Memilih dan mengenakan pakaian yang estetik sekaligus etis, seperti terlihat pada kesesuaiannya besar kecilnya, kesesuaian warna dan modelnya, kebersahajaannya, kebersihannya, kesuciannya, kerapiannya, keterpenuhannya dalam menutupi aurat secara sempurna.

Keempat, meniatkan hanya untuk ibadah saat mengenakan pakaian, mengenakannya dimulai dari sebelah kanan dan saat melepaskannya dari sebelah kiri. Termasuk mensyukuri pakaian baru dengan pertama sekali dikenakan untuk shalat baik shalat fardhu termasuk ibadah jumatan maupun shalat sunah, seperti shalat lail, shalat dhuha, shalat Idul Fitri, dan shalat Adha.

Kelima, memelihara pakaian (baik pakaian dalam maupun luar, pakaian bagian bawah msupun atas), dengan baik seperti dicuci segera setelah dikenakan, diseterika, disimpan rapi, dan dikenakan lagi pada saat tepatnya.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.