Mensyukuri Pendidikan

Mensyukuri Pendidikan

Gema, 10 April 2018

Muhasabah 23 Rajab 1439

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, mengapa di antara manusia bisa berbudaya mulia, memiliki peradaban tinggi, menjunjung tinggi akhlaqul karimah, bertutur dengan sopan, menulis kata dan bahasa dengan arif, menasihati dengan bijak dan melahirkan karya-karya besar lainnya, adalah karena hidayah Allah yang di antaranya dijemput malalui proses pendidikan dan doa.

Pendidikan itu sendiri meniscayakan proses belajar mengajar tanpa henti. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk mengingat kembali akhlak mensyukuri pendidikan, akhlak belajar bagi murid dan akhlak mengajar bagi guru.

Pertama, mempercayai sepenuh hati, bahwa belajar dan mengajar adalah kewajiban atau bahkan sudah meningkat sebagai kebutuhan dan kelezatan.

Belajar mengajar yakni berusaha untuk berubah atau mengubah perilaku menjadi lebih baik dan lebih cerdas merupakan kewajiban bagi setiap orang Islam. Landasan normatif tentang kewajiban belajar atau mencari ilmu dan mengajar dapat ditemukan pada banyak tempat, baik dalam al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad saw.

Di antaranya, “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu,”Berilah kelapangan di dalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat”. (Q.S Al-Mujadalah 11)

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (Qs. Al-Taubah 122)

Dan riwayat dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah saw, bersabda: Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim, memberikan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya seperti orang yang mengalungi babi dengan permata, mutiara, atau emas” (HR. Ibnu Majah)

Rasulullah saw juga bersabda, jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka” (HR. Baihaqi).

Kedua, sebagai murid atau guru mestinya bersyukur kepada Allah dengan memperbanyak mengucapkan alhamdulillah atas karuniaNya yang senantiasa dicurahkan, sehingga kita (bila sebagai murid) bisa belajar bisa terus berubah ke arah yang lebih baik, kita (bila sebagai guru) dapat bermanfaat bagi kehidupan melalui aktivitas mengajar dan mendidik yang diemban selama ini.

Ketiga, meluruskan niat bahwa belajar atau mengajar itu ibadah, sehingga orientasinya hanya dalam rangka menggapai keridhaan Allah taala, bukan untuk mencari popularitas dan bukan untuk mendapatkan pekerjaan atau inbalan materi semata.

Keempat, memulai belajar atau mengajar dengan membersihkan diri dan mensucikan hati. Murid maupun guru sebaiknya membersihkan diri dengan cara mengawalinya seraya mandi atau berwudhuk dan mengenakan pakaian taqwa yang sesuai. Mensucikan hati dengan taubat sehingga hati tetap terbebas dari beban dosa dan khilaf.

Kelima, setelah memanjadkan doa, belajar atau mengajar dengan sabar dan istiqamah, sedikit demi sedikit, tahap demi tahap terus menerus sepanjang hayat dikandung badan.

Keenam, sebagai murid seyogyanya senantiasa memuliakan guru atau sesiapapun yang menjadi perantara ilmu pengetahuan dan hikmah, sehingga sampsi pada diri kita. Kita mesti meyakini bahwa keberkahan ilmu yang telah kita dapatkan, di antaranya sangat bergantung pada keridhaan guru, keikhlasan dari para pendidik.

Sebagai guru atau pendidik seharusnya selalu menyayangi murid sebagaimana menyayangi anaknya sendiri.

Ketujuh, murid mendoakan kebaikan guru, dan guru mendoakan murid. Seorang murid dituntun untuk senantiasa mendoakan kebaikan gurunya. Dan sebaliknya sebagai guru juga dutuntunterus mendoakan murid-murid agar dimudahkan dalam belajar dan memahami materi yang dipelajari.

Kedelapan, bersyukur kepada Allah seraya berdoa penutup majlis atau paling tidak mengucapkan alhamdulillahurabbil ‘alamin pada setiap mengakhiri atau menutup sesi proses belajar mengajar.a

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.