Mensyukuri Interaksi Edukatif 

Mensyukuri Interaksi Edukatif 

Gema, 11 April 2018

Muhasabah 24 Rajab 1439

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, sejatinya disadari atau tidak, kebersamaan dua orang atau lebih dapat menstimulasi lahirnya interaksi edukatif, apalagi antara pendidik dan peserta didiknya, antara guru dan murid, antara orangtua dan anak, atau hubungan antara seseorang dengan sesamanya. Bagaimana interaksi edukatif ini terjadi?

Pada praktiknya suatu hubungan antarsesama manusia yang dibangun atas dasar kebaikan, hampir dipastikan dapat melahirkan interaksi edukatif. Jalinan hubungannya dapat mempengaruhi kedua belah pihak berproses pada perubahan perilaku ke arah yang lebih baik, lebih bisa saling memahami, lebih bisa saling bahagia dan membahagiakan.

Para pihak yang turut andil dalam jalinan itu, ternyata dapat take and give, saling menerima dan saling memberi, belajar juga mengajar. Pada suatu saat menerima, saat yang lain memberi, begitu sebaliknya. Dan seperti ini menjadi keniscayaan kehidupan. Meski demikian pilihan menjadi pemberi dalam hal ini pemberi hikmah, penebar maslahah lebih diutamakan dalam Islam. Namun menjadi pencari hikmah juga tidak kalah mulianya.

Oleh karena itu, di sini akan kita bahas akhlak mensyukuri interaksi edukatif.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa interaksi edukatif terjadi merupakan karunia Allah sekaligus amanah. Dikatakan sebagai karunia Allah, karena tidak semua hubungan yang dilakukan manusia dapat dikategorikan sebagai interaksi edukatif. Hanya pada para pihak saja yang dengan hubungan itu dapat mempengaruhi diri berubah ke arah yang lebih baik. Oleh karenanya wajib disyukuri.

Dikatakan amanah, karena hubungan antarsesama itu merupakan keniscayaan dan saling mengajak kepada kebenaran dan taqwa merupakan peran kehidupan yang harus diemban oleh setiap orang.

Kedua, mengucapkan alhamdulillah ketika terjadi hubungan antar sesama, sehingga dapat menjadi sarana untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Ketiga, meniatkan ibadah terhadap seluruh hubungan antar sesama yang dijalin, seperti saat bergaul, berinteraksi, bermasyarakat, berbisnis, berniaga, belajar mengajar satu sama lainnya.

Keempat, para pihak yang berinteraksi harus saling menghormati. Interaksi edukatif menghendaki sikap saling menghormati satu sama lainnya. Orang yang sudah tua menyayangi dan memberi kesempatan kepada orang yang lebih muda untuk berkreasi atau memegang amanah. Dan sebaliknya bagi orang muda harus menghormati, menaati dan meneladani perilaku kearifan dari orang yang lebih tua.

Secara khusus akhlak berbicara atara guru dan murid, atau antara murid kepada guru, di antaranya:

Pertama, berbicara hanya saat diperlukan, misalnya saat memberi penjelasan akan suatu pelajaran atau saat menjawab pertanyaan.

Kedua, menghadapkan seluruh badan dan pandangan satu sama lainnya. Pandangan seorang guru saat berbicara atau menerangkan pelajaran harus meliputi seluruh muridnya, tidak tertuju pada seseorang secara terus menerus. Seandainya menerangkan pelajaran dengan menulis di papan tulis, maka harus dilakukan menyamping atau menulis di papan tulis dulu baru menjelaskan dengan menghadap pada murid sepenuhnya.

Ketiga, hadir hati. Saat berbicara atau menerangkan pelajaran harus menghadirkan seluruh kesadarannya pada materi dan keberadaannya di tengah-tengah komunitas.

Keempat, memilih kata atau kalimat yang baik, singkat dan jelas. Ucapan atau pembicaraan guru maupun murid hanya ucapan hikmah, dan jauh dari ucapan yang sia-sia.

Kelima, membagi suaranya sehingga dapat diakses oleh semua orang yang berkepentingan. Khusus bagi murid, tidak etis rasanya mengeraskan suara daripada suara gurunya. Termasuk dalam etika ini, tidak duduk di tempat yang lebih tinggi daripada gurunya, tidak mendahului kendaraannya kecuali atas izinnya.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.