Mensyukuri Literasi

Mensyukuri Literasi

Gema, 12 April 2018

Muhasabah Kamis 25 Rajab 1439

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, secara umum peradaban baru berkembang dengan pesat setelah manusia mengenal budaya tulis baca. Kemampuan menulis dan membaca inilah yang dimaksudkan dengan literasi dalam judul ini. Namun dalam perkembangan lebih lanjut, literasi juga digunakan untuk mengakomodir tentang kepiawaian seseorang dalam menerima, mengolah dan menyampaikan informasi kepada khalayak, sehingga bermanfaat bagi diri, keluarga, bangsa negara dan bahkan agamanya.

Dalam Islam, budaya tulis baca dan menyampaikannya mendapat atensi dan apresiasi yang sangat tinggi. Bahkan wahyu al-Qur’an pertama yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw adalah tuntunan dan tuntutan untuk membaca. Allah berfirman, “Bacalah, dengan (menyebut) nama Rabbmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmu lah Yang Mahamulia, yang mengajar manusia dengan pena, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Qs. Al-Alaq 1-5)

Oleh karena itu, kemampuan tulis baca menjadi primadona yang harus diasah diasuh dan dikembangkan oleh antargenerasi. Apalagi tulis baca merupakan media dan sarana penting dalam berinteraksi sosial. Di samping itu, kemampuan tulis baca merupakan aktivitas aktif produktif yang kemudian melahirkan budaya literasi sekaligus membedakannya dengan budaya tutur atau budaya lisan yang telah ada sebelumnya.

Mengapa manusia bisa mengetahui banyak hal tentang masa lalu? Di antara yang paling penting adalah karena budaya tulis baca sudah berlangsung antargenerasi. Mengapa banyak ilmu dan hikmah yang tidak sampai kepada kita? Di antaranya karena tidak direkam dalam tulisan dan tidak ada budaya baca, sehingga ilmu dan hikmah hilang bersamaan dengan kewafatan pemiliknya.

Oleh karenanya, bisa dimengerti kalau budaya tulis baca akan mempengaruhi secara signifikan terhadap kemajuan dan peradaban suatu bangsa.

Karena itu, layak bagi kita mengingat kembali akhlak mensyukuri literasi, mensyukuri budaya tulis baca.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa kemampuan tulis baca merupakan anugerah Allah yang sangat signifikan bagi kemaslahatan hidup manusia. Oleh karena itu, bakat tulis baca ini hanya akan disalurkan secara benar, terutama untuk menulis dan membaca ayat-ayatNya.

Kedua, mengucapkan alhamdulillah dimana kita dianugerahi kemampuan tulis baca, kemampuan menulis dan membaca sehingga ditinggikan derajat kemanusiaan kita, lantaran dengan tulis baca kita bisa belajar, lalu bisa meneguhkan keyakinan, dan berislam secara sempurna.

Ketiga, meluruskan niat, yaitu dengan meniatkan aktivitas menulis atau membaca sesuatu hanya untuk ibadah, sehingga memperoleh keridhaanNya. Dengan niat ibadah, maka kita hanya akan menulis yang baik-baik saja. Nantinya hanya tulisan yang bermakna saja yang akan mewarnai laman facebook, twiters, sms, koran, buku, tabloid, surat, dan di seluruh media yang ada.

Dengan niat ibadah, maka hanya akan ada pembacaan atas ayat-ayat Allah saja, tidak ada pembacaan atas tulisan atau ujaran kebencian. Bila ada ujaran kebencian atau berita hoax, maka segera hentikan membacanya apalagi ikut menyebarkannya.

Keempat, menulis dan membaca sesuatu dengan nama Allah. Diawali dengan membaca basmalah, bismillahirrahmanirrahim dan diakhiri dengan membaca hamdalah alhamdulillahirabbil alamin.

Dengan akhlak ini akan lahir tulisan dan bacaan yang bermanfast saja, dan membawa kemaslahatan, tidak ada ujaran kebencian yang terucap dan tertulis. Membaca hanya pada sesuatu yang baik dan yang bermanfaat saja, tidak akan membaca sesuatu yang dapat menjauhkan dirinya dari kebenaran dan sikap taqwa.

Kelima, senantiasa memperbanyak membaca agar bisa menulis.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.