Pentingnya Shalat Dalam Kehidupan Muslim

Pentingnya Shalat Dalam Kehidupan Muslim

GEMA JUMAT, 13 APRIL2018

Oleh. Prof. Dr. Nasir Aziz  (Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsyiah)

Kata shalat amat sangat sering kita dengar dalam keseharian, yang secara bahasa atau Etimologi bermakna doa. Secara syariah atau terminologi, shalat bermakna kegiatan yang bersifat khusus yang dimuai dengan takbir (takbiratul ihram) dengan serangkaian rukun-rukunya dan diakhiri dengan salam. Shalat adalah tiang agama dan pengawal serta pondasi keyakinan agama dan paling utama diantara amal kebaikan lainnya.

Shalat harus dijalankan dengan tawadhuk (rendah hati) dan khusuk (kehadiran hati) atau penuh konsentrasi. Banyak sekali dalil mengenai hal itu, diantaranya Allah berfirman: Dirikanlah Shalat untuk mengingat Aku. (Qs Thaha:20:14). Pada lahiriahnya perintah itu menunjukkan adanya kewajiban. Kehadiran hati dalam shalat adalah lawan dari kelalaian atau ketidakhadiran hati. Karena itu bagaimana mungkin seorang yang lalai sepanjang shalatnya dikatakan sebagai orang yang mendirikan shalat untuk mengingatNya. Firman Allah: Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalaiLQs Al-A’raf: 7:205). Dalam ayat ini Allah melarang kita lalai, dan secara lahiriah larangan itu haramnya lalai. Allah juga berfirman Berdoalah (shalatlah) dengan rendah hati dan takut.

Orang yang sedang melaksanakan shalat itu pada hakikatnya adalah sedang munajat (berbincang-bincang) dengan tuhannya. Munajat yang dilakukan dengan hati yang lengah sama sekali tidak bisa disebut munajat. Yang dimaksud dengan mendirikan shalat terdiri dari antara lain zikir kepada Allah, membaca Alquran, rukuk, sujud, berdiri, iktidal dan duduk. Zikir  berarti berdoa dan bermunajat kepadaNya. Tanpa itu, berdoa dan bermunajat hanya berhenti pada suara dan lidah. Jika tujuan zikir kepada Allah tidak tercapai, maka sia-sialah shalat. Karena sangatlah mudah menggerakkan lisan tanpa arti dan tujuan. Tujuan menggerakkan lisan adalah untuk berbicara dan itu tidak terjadi kecuali menghadirkan hati. Dalam shalat selalu kit abaca: Ihdinash-Shirathal-mustaqim (Tunjukilah kami ke jalan yang benar). Bayangkan kalau hati kita dalam keadaan lengah waktu mengucapkannya?

Tujuan membaca Alquran dan zikir kepada Allah dalam shalat adalah untuk memuji, menyanjung, merendahkan diri di hadapan Allah. Akan tetapi jika hati kita lengah, tidak hadir saat itu, maka mestilah dipahami bahwa lidahnya bergerak hanya karena kebiasaan semata. Jika demikian keadaannya, maka dia melangkah jauh dari tujuan shalat yang disyariatkan untuk menghidupkan dan memperbaharui zikir kepada Allah dan dengan itu akan mengokohkan ikatan iman kepada Allah dalam hatinya. Sufyan ats-Tsauri berkata: Barangsiapa tidak khusuk maka shalatnya tidak ada artinya. Diriwayatkan bahwa Hasan Basri pernah berkata: Setiap shalat yang dikerjakan tanpa kehadiran hati maka akan sia-sia. Oleh karena itu shalat yang khusuk dengan menghadirkan hati merupakan inti dan ruhnya shalat.

Banyak sekali syarat agar shalat yang dilakukan dapat menghasilkan shalat yang khusuk, diantaranya: hudhurul-qalb, tafahhum, ta’zhim, haibah, raja’ dan haya’. (1). Huhurul-Qalb (kehadiran hati), yaitu kosongnya hati dari selain apa yang sedang dikerjakan dan diucapkan, sehingga perbuatan dan ucapan selalu sama dengan apa yang ada didalam hati. Ketika tidak ada hal lain di dalam hati kecuali hanya tertuju pada satu hal saja, yaitu apa yang sedang dikerjkan, maka tidak ada kelengahan hati, sehingga kehadiran hati akan diperoleh. Apabila hati tidak hadir dalam shalat, tidaklah berarti hati itu kosong. Tetapi pastilah hati itu tertuju pada urusan dunuawi. Karena itu harus ada tekat yang kuat bahwa shalat adalah ibadah yang utama menuju akhirat yang lebih baik dan lebih kekal. Kehadiran hati hanya dapat diraih ketika akhirat disadari dan dunia hanya dipandang semata-mata sebagai tempat sementara dan kurang bernilai dibandingkan dengan akhirat. (2). Tafahhum atau pemahaman, maksudnya memahami makna kata-kata ayau ucapan yang dibaca dan melibatkan akal untuk memahami kandungan makna-makna itu. Terkadang hati hadir bersama suatu ucapan, tetapi tidak hadir bersama makna ucapan tersebut. Jadi, maksud pemahaman adalah kemampuan hati untuk mengetahuipengucapan dan kandungan makna ucapa itu. (3). Ta’zim atau pengagungan dan penghormatan Allah adalah syarat bagi hati. Ia muncul dari dua hal. Pertama, pengatahuan tentang Allah (ma’rifatullah) mengetahui kebesaran dan keagungan Allah yang merupakan pokok iman. Kedua, mengenal dan memikirkan kehinaan serta kelemahan dirinya sendiri. Dari dua hal tersebut, timbullah kelemahan, kerendahan diri dan kekhusukan di hadapan Allah, sehingga muncullah pengangungan Allah dalam hatinya. (4). Haibah atau takut kepa Allah adalah keadaan hati sebagai akibat dari pengatahuan tentang kekuasaan Allah serta pengatahuan ganjaran dan hukumanNya. (5). Raja’ atau pengharapan muncul karena iman yang kuat dalam perkara berikut: pengatahuan akan kasih saying dan karuniaNya, pengatahuan akan keindahan ciptaanNya, serta pengatahuan akan janji Allah (surgaNya) bagi orang yang mendirikan shalat. (6). Haya’ atau rasa malu muncul karena kesadaran akan ketidakkuasaan dalam beribadah kepada Allah dan kesadaran akan ketidakmampuan berjuang demi kebesaran Allah. Hati manusia menjadi semakin khusuk sebanding dengan bertambahnya kekuatan iman.

Shalat yang khusuk akan mengantarkan muslim kepada kondisi yang mampu untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar. Allah berfirman: Dirikanlah Shalat, sesungguhnya shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Orang yang melaksanakan shalat secara khusuk, maka Allah akan menjamin dia untuk tidak melakukan perbuatan keja dan mungkar. Timbul pertanyaan, kenapa ada orang yang melaksanakan shalat, namun masih juga melakukan pekerjaan yang tidak baik. Jawabannya adalah mereka belum melaksanakan shalat sesuai dengan anjuran Allah dan RasulNya.

Shalat merupakan ibadah yang pertama sekali di hisap (diperiksa) di Yaumial Akhirah. Rasul bersabda: Mula pertama ditanya di ahkirat adalah Shalat. Jika dijumpai shlatnya diterima maka diterimalah amalan lainnya, namun jika didapati kurang sempurnanya shalat, maka di tolak amalan yang lain. Shalat adalah tiang agama, barangsiapa yang mendirikan shalat, dia menegakkan agama. Barangsiapa yang meninggalkan shalat, maka dia yang meruntuhkan agama ( al hadist)

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.