Mensyukuri Pendidikan Informal

Mensyukuri Pendidikan Informal

Gema, 15 April 2018

oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, adalah suatu keniscayaan bahwa pendidikan dapat berlangsung secara internal di institusi keluarga yang dikenal dengan pendidikan informal, berlangsung secara resmi di sekolah-sekolah atau madrasah yang disebut dengan pendidikan formal, dan berlangsung di tengah-tengah masyarakat yang lazim disebut pendidikan non formal. Ketiga lingkungan pendidikan ini, baik di keluarga, sekolah/madrasah maupun di lingkungan masyarakat, harus konsisten terjalin berkelindan satu dengan lainnya.

Sebagai lingkungan pendidikan perdana, hampir dapat dipastikan bahwa awal keberadaannya di dunia ini setiap anak dipengaruhi sepenuhnya oleh dunia keluarga, terutama orangtua atau ayah ibu, dan atau keluarga besar yang mengasuhnya. Nilai-nilai apapun yang ada secara alamiah akan memengaruhi putra putrinya. Di sinilah pentingnya penyadaran peran dan tanggungjawab di ”sekolah pertama dan utama” ini. Pendidikan pada tahun-tahun awal setelah kelahiran anak, merupakan pondasi bangunan personality di atasnya.

Oleh karena itu, hari ini akan kita bahas tentang akhlak mensyukuri pendidikan informal yang berpusat di keluarga.

Pertama, bersyukur dengan meyakini sepenuh hati bahwa pendidikan atau proses alih nilai (transfer of values) akan kebaikan dan kebijakan yang berlangsung di keluarga merupakan amanah bagi keluarga. Karena amanah, maka tanggungjawab terpundak pada orang tua.

Kedua, bersyukur kepada Allah dengan mengucapkan alhamdulillahi rabbil’ alamin atas karunia keluarga dan kebersamaan sehingga bisa saling asih asah dan asuh.

Ketiga, meniatkan pendidikan yang tengah dilakukan dalam internal keluarga adalah untuk meraih ridha Allah. Segala aktivitas yang dikerjakan oleh seluruh anggota keluarga mestinya diawali dengan basmalah dan diakhiri dengan membaca hamdalah.

Keempat, mengitensifkan kebersamaan. Meskipun tidak tergantung pada formalitas saja, lamanya kebersamaan hidup dengan istri atau suami, kebersamaan antara orangtua dengan putra putri tercinta menjadi penting. Dengan kebersamaan, antar anggota keluarga akan saling memahami dan bisa saling mengapresiasi.

Ikatan emosional putra putri kepada ayah ibunya tentu akan sangat dipengaruhi oleh lama dan entensifnya kebersamaannya. Di sinilah mengapa orangtua harus mencurahkan perhatian penuhnya pada terwujudnya kebersamaan dengan putra putrinya. Tentu akan berbeda ikatan emosional anak terhadap orangtuanya, saat sejak sedari bayi atau kanak-kanak sudah “disekolahkan dan diasramakan” di tempat-tempat yang relatif jauh tak terjangkau.

Kebersamaan yang relatif lama dengan teman seangkatannya atau dengan ustad tengku atau ustadnya atay dengan baby siternya, juga akan berpengaruh pada ikatan emosionalnya. Parahnya, situasi seperti ini bisa-bisa mengalahkan ikatan sosial emosional dengan orangtuanya sendiri. Bila ini benar, maka jangan menyesal ketika sudah tua renta, kita “disekolahkan atau diasramakan” di panti-panti jompo oleh anak cucu kita.

Sekali lagi, kebersamaan antar anggota keluarga batih relatif akan menyediakan banyak pengalaman yang mengedukasi putra putrinya. Dengan kebersanaan, sebagai putra putrinya, akan selalu bisa memperhatikan bagaimana ayah ibunya bekerja membanting tulang tanpa kenal lelah untuk menjalankan roda kehidupan dan menbesarkannya. Putra putrinya akan dapat melihat ayah ibunya bangun tidur di dini hari, saat membaca doa bangun tidur, shalat malam, shalat subuh, saat berolah raga, membersihkan rumah, halaman dan pekarangan, mandi, berwudhuk, shalat dhuha, saat bersiap ke tempat kerja sampai pulang di sore hari dan bersambung dengan aktivitas lainnya. Intinya, anak-anak secara otomatis terlibat dalam proses pewarisan nilai keadiluhungan agama.

Seluruh kondisi, ucapan, perbuatan, perilaku contoh keteladanan dan apapun yang terjadi dalam lingkungan internal keluarga akan menjadi “kurikulum” pendidikan informal.

Dari rasa syukur terhadao pendifikan ingormal di atas, perlu rasanya kita ulang kaji lagi tentang akhlak kepada orangtua.

Pertama, bersyukur dengan meyakini bahwa orangtua atau ayah ibu kita adalah tempat berpulangnya ketaatan di samping pada Allah dan rasulNya.

Kedua, bersyukur dengan mengucapkan alhamdulillah Allah telah menakdirkan kita terlahir dari rahim ibu kita sebagai anak dari orangtua kita.

Ketiga, menaati seluruh perintahnya sebagaimana ketaatan kepada Allah dan rasulNya.

Keempat, bila belum dapat meringankan bebannya, baik dari segi sosial ekonomi keagamaan, mininal tidak menambahi beban bagi hidupnya.

Kelima, berbakti tanpa henti, meskipun disadari dengan seluruh kebaktiannya belum mampu membayar sebutir air matanya sekalipun yang tumpah saat mengasuh kita.

Kelima, berusaha terus membahagiakannya, apalagi di masa-masa tuanya. Dan pantang menyakiti hatinya, seperti menyindir, mengumpat berkata ah atau chih di hadapannya atau berkata kasar, dan hal-hal yang menyakiti hati lainnya.

Keenam, bila telah sampai janjinya, maka mengikhlaskan kepulangan kedua atau salah satunya ke haribaan Allah taala.

Ketujuh, menyelenggarakan tuntas sampai mengantarkan jenazahnya ke peristirahatan terakhir di kuburan sehingga meniknati surga di sisiNya.

Kedelapan, meneruskan cita cinta akan kebajikan, tetap menyambung silaturahim dengan semua saudaranya dan menyelesaikan segala sangkut paut hablum minannas, serta tidak mempermalukannya dengan saling berebut harta warisannya antarsaudara

Kesembilan, senantiasa mendoakan keampunan dan kebahagiaan di akhirat.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.