Mensyukuri Pendidikan Nonformal

Mensyukuri Pendidikan Nonformal

Gema, 16 April 2018

Muhasabah Senin 29 Rajab 1439

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, di samping internal keluarga, kita dan putra putri kita juga bersosialisasi dan berinteraksi dengan alam dan dengan orang-orang yang berada di sekitar kediaman kita, seperti dengan tetangga dan masyarakat, sesama warga bangsa dan negaranya. Bahkan di era teknologi informasi dan kecenderungan hidup individualistik sekarang ini, konsep tetangga sudah berubah, tidak lagi atas dasar kedekatan rumah dan tempat tinggal, tetapi sudah kedekatan kerja di kantor, kedekatan sebagai pengguna facebook, twiter, dan bisa semakin luas tanpa dibatasi oleh sekat-sekat teritorial, sosial kulturalnya.

Hal yang perlu disadari bahwa dalam masyarakat bangsa atau warga negara dengan seluruh keadaan dan sosial budayanya menjadi “kurikulum” pendidikan nonformal yang secara otomatis mempengaruhi terhadap seluruh civitas warganya. Di sinilah pentingnya, kita memilih atau menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan dan perkembangan putra putri tercinta. Dalam dunia pendidikan, seperti ini dinamakan lingkungan pendidikan non formal.

Secara pragmatis, mestinya menjadi kesadaran kolektif seluruh warganya bahwa lingkungan dan sosio kukturalnya sangat efektif berpengaruh terhadap diri dan keluarga mereka. Oleh karena itu nilai-nilai keluhuran yang selama ini diuri-uri karena dijunjung tinggi, jangan sampai tergerus oleh sikap materialustik hedonistik dan individualistik, seperti sikap hanya memerhatikan anak dan keluarganya sendiri, sehingga kurang peduli terhadap anak atau keluarga orang lain. Maka di sini akan dibahas tentang akhlak mensyukuri lingkungan pendidikan non formal, di antaranya.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa lingkungan sekitar dengan seluruh nilai dan dinamikanya merupakan sunnatullah, ketentuan Allah yang berjalan atas realtitas, dan hukum sebab akibatnya.

Kedua, bersyukur dengan mengucapkan alhamdulillahirrabil ‘alamin kita dihadirkan menjadi bagian dari umat yang peduli terhadap pelaksanaan syariat.

Ketiga, kontributif terhadap terciptanya situasi dan kondisi yang kondusif untuk hidup dengan aman damai dan sejahtera, sehingga berpengaruh sangat positif bagi terselenggaranya pendidikan bagi warganya.

Untuk menciptakan lingkungan yang kondusif dapat dibagi kepada dua, yaitu lingkungan fisik alamnya, dan lingkungan sosial budayanya.

Secara fisik, seperti kondisi rumah, selokan, jalan, dan lingkungan alam sekitarnya harus diciptakan, dijaga dan pelihara kebersihan dan keasriannya oleh seluruh warganya. Bila kondisi lingkungan heigenis sehat maka akan berpengaruh terhadap kenyamanan hidup dan kesejahteraan warganya. Masing-masing pribadi, pemilik rumah dan pekarangan bertanggung jawab khususnya terhadap aset pribadinya seperti kebersihan keasrian rumah dan pekarangan miliknya serta jalan-jalan di depan dan sekitar rumahnya.

Adapun lingkungan sosial budayanya yang sopan, santun, peduli, ramah, kekeluargaan yang tinggi, kegotongroyongan yang padu, seiya sekata memadu kebersamaannya dalam menjalankan syariat Islam, harus menjadi komitmen bersama. Nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh seluruh warga masyarakat ini secara alamiyah akan mempengaruhi antargenerasi. Di sinilah di antaranya pendidikan itu berlangsung.

Sesiapapun warganya dapat belajar dari pengalaman internalnya sendiri dan pengalaman ekternal yang terjadi di dalam masyarakat. Apalagi dalam masyarakat juga eksis ragam institusi pendidikan masyarakat, seperti TPA, balai seumebet, tempat-tenpat les dan privat atau lainnya.

Ketaatan atau pelanggaran terhadap nilai-nilai kebajikan yang dijunjung tinggi oleh warganya, akan terus hidup dalam bentuk apresiasi atau sanksi sosial atasnya.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.