Mensyukuri Pendidikan Formal

Mensyukuri Pendidikan Formal

Gema, 17 April 2018

Muhasabah 1 Syakban 1439

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, di samping lingkungan informal yang terpusat di keluarga, lingkungan nonformal terpusat di masyarakat, terdapat satu lagi lingkungan pendidikan yang justru lebih sistematis dan terprogram, yaitu institusi pendidiksn formal yang terpusat di madrasah maupun sekolah. Di negara kita institusi pendidikan formal diinisiasi oleh pemerintah.

Dulu, dalam sejarah dan khazanah pendidikan Islam lembaga pendidikan yang mula sekali diinisiasi oleh Nabi Muhammad saw atas nama pemimpin umat Islam atau “presiden” adalah masjid. Dan kebijakan ini juga diteruskan oleh para khalifah pada masa-masa berikutnya. Bahkan dalam perkembangan lebih lanjut, institusi pendidikan masjid berkembang mencirikan universitas. Apalagi salah satu fungsi masjid memang digunakan untuk shalat jamaah, seakar kata yang digunakan untk maksud universitas, yaitu jami’ah. Hal ini dapat kita telusuri pada lahirnya institusi pendidikan spesialis seperti zawiyah, suffah, qanqah atau circle ilmiah tingkst tinggi lainnya.

Dan kita tidak boleh melupakan bahwa lahir dan berkembangnya universitas ternama di dunia Islam semuanya berawal dari masjid. Di antaranya adalah Madrasah (Univeritas) Nidhamiyah di Bagdad, Universitas Al-Azhar di Mesir, Universitas di Toledo, Sevile, Granada, Turki, India, Persia, Universitas Baiturrahman di Aceh.

Kita tidak mengetahui secara persis, kapan fungsi masjid menciut dan lebih cenderung hanya untuk pelaksanaan shalat saja, tetapi setelah halaqah-halaqah atau circle ilmiah mengambil posisi di seputaran atau bahkan di luar masjid, realitas ini menjadi nyata. Apalagi kegiatan masjid sudah tidak diinidiadi oleh pemerintah lagi, tetapi masyarakat, sehingga lebih bersifat nonformal.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan formal, pergurian tinggi, sekolah atau madrasah merupakan pranata kemuliaan. Terdapat beberapa argumen untuk statemen ini. Di samping sebagai maqam orang-orang terdidik dalam mengemban amanahnya untuk mencerdaskan umat, sebuah lembaga pendidikan, apalagi bersifat formal, setidaknya berhimpun dua faktor utama yang sangat signifikan, yaitu sdm (pendidik dan peserta didik) dan selainnya (tujuan, materi ajar, metode dan sanprasnya).

Sdm menjadi faktor aktif yang akan menentukan faktor selainnya di lembaga pendidikan dimaksud. Oleh karenanya kesalahan atau kejahiliyahan dalam membuat kebijakan dan dalam mengambil tindakan akan berpengaruh pada institusinya secara langsung.

Adapun di antara akhlak mensyukuri keberdaan lingkungan pendidikan formal adalah.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa pendidikan formal merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan proses alih nilai antargenerasi.

Kedua, bersyukur dengan mengucapkan alhamdulillah bahwa Allah

Ketiga, berterima kasih kepada para pengambil kebijakan dengan turut berkontribusi akan terselenggaranya proses transfer of values melalui institusi pendidikan formal.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.