Pelit ke Dhuafa

Pelit ke Dhuafa

GEMA JUMAT, 20 APRIL2018

Oleh: Murizal Hamzah

Suatu waktu kita mungkin pernah melakuakan perbuatan yang tergolong sadis. Ya sadis maksudnya

yang kita kerjakan bisa digolongkan kepada perbatan yang tidak menunjukkan rasa kasih sayang atau keperpihakankepada hamba-hamba yang dhaif atau dhuafa.

Kita tanpa merasa bersalah atau berdosa misalnya menekan harga barang yang dijual oleh penjual kaum ekonomi lemah. Akhirnya dalam kondisi tak berdaya, penjual tu melepaskan barang yang dijual dengan keuntungan yang tipis daripada barang tidak ku atau membusuk.  itu sering kita temui di pasar-pasar tradisional seperti nyak-nyak di pasar. Mereka adalah yang mencari rezeki sehari untuk dimakan besok dan begitu seterusnya.

Sebaliknya kita tidak menawarkan harga barang-barang di took mewah agar tidak disebut sebagai pembeli yang pelit atau tidak paham harga. Ada kecenderungan pembeli lebih berani bernegoisasi dengan pedagang kecil dan takluk pada pedagang besar karena menjaga gengsi. Malu dong menawarkan padahal itu bia ditawarkan karena bukan di swalayan.

Fenomena sosial seperti interaksi antar pembeli dengan penjual di pasar tradisional atau pedagang keliling adalah hal lumrah temasuk tawar-menawar, namun dalam hal ini kita sebagai pembeli harus memahami bahwa yang kita hadapi adalah penjual yang berusaha sekuat tenaga dengan otot melakukan amalan halal untuk mendapatkan rezeki halal. mereka adalah hamba-hamba yang percaya bahwa rezeki setiap hari sudah diatur. Hanya dibutuhkan ikhtiar kuat untuk menjemput rezeki tersebut.

Nyak-nyak atau penjual kaum lemah adalah mereka yang gigih berusaha untuk mengambil rezeki bukan mencari rezeki secara halal yang patut kita hargai.

Bagaimana kita menghargai kaum dhafa yang tidak mau mengemis atau menaruh tangan di bawah? Ya antara lain dengan membeli dan tidak menawarkan. Kita berpikir bahwa kita memberi shadaqah dengan menerima barang. Dengan pemikiran seperti itu kita tidak merasa seperti ditipu atau diperas oleh penjual.

Jika kita telusuri maraknya pencurian atau kemiskinan di sekitar kita juga andil dari kaum hartawan atau orang kaya. Mereka yang berduit kurang atau tidak peduli pada yang membuthkan modal kerja. Contoh sederhana, tetangga kita ada kios yang menjual kebutuhan sehari-hari. Namun kita membeli kebutuhan itu di toko besar karena lebih murah. Akibatnya lama-kelamaan kios tersebut bisa tutup karena pembeli berkurang atau modal minim. Sebagai tetangga yang yang satu gampong, kita telah ikut mematikan penjual dari umat islam. Sebaliknya penjual besar yang non islam semakin mengunung keuntungan karena semakin banyak pembeli.

akhirukalam, mari kita hidupkn dan dukung pelaku usaha kecil agar mereka bisa makan. Malahan kadang kal kita perlu membeli produk mereka untuk menghargai jerih payah yang telah bermandikan keringatagar tidak terjerumus pada tindakan criminal yang diharamkan dalam Islam. Jangan pelit pada penjual dhuafa namun royal pada pembisnis konglomerat.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.