Mensyukur Karuniai Anak

Mensyukur Karuniai Anak

Gema, 22 April 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 6 Syakban 143

Saudaraku, pascapernikahan ketika bahtera keluarga mulai mengarungi luasnya samudera kehidupan, keinginan akan kehadiran anak adalah dambaan insan sebagai tuntutan keniscayaan. Namun anugrah anak tetaplah menjadi misteri akan skenario Allah atas hamba-hambaNya. Ada keluarga baru yang segera dianugrahi anak, tetapi juga ada yang lama atau bahkan belum juga dikaruniai anak meskipun telah berusaha kesana kemari. Oleh karenanya suami istri mestilah terus memperbanyak berdoa dan berusaha untuk meraih keridhaanNya.

Saat anugrah anak menjadi nyata terdapat serangkaian prosesi ‘pendidikan’ yang sebaiknya dilakukan oleh keluarga muslim. Inilah pentingnya kita mengingat kembali tentang akhlak mensyukuri kehadiran anak.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa anak adalah anugrah sekaligus amanah. Dikatakan anugrah karena dengan kehadiran anak maka sejuta harapan kebahagiaan bisa digantungkan padanya. Bila cita cinta mula orangtua belum terealisasi seratus persen sesuai harapannya, maka dapat dilanjutkan oleh putra putrinya untuk menyempurnakan kebahagiaannya. Dikatakan amanah karena anak adalah cerminan orangtuanya; bagaimana anak begitulah orangtuanya; bagaimana orangtua begitulah anaknya. Oleh karenanya orangtua harus baik agar anaknya menjadi orang baik. Dan anak harus dididik dengan bijak agar menjadi wasilah bagi orangtuanya bahagia di surga.

Kedua, bersyukur dengan mengucapkan alhamdulillah karena dengan kehadiran anak-anak di tengah-tengah kehidupan berkeluarga, suasana menjadi hidup, ceria dan bahagia. Tangisan bayi, canda tawa anak, berhamburnya mainan, dan nyanyi-nyanyian indah merupakan suasana didambakan oleh banyak keluarga.

Ketiga, mendoakan anak. Inilah langkah konkret berikutnya akhlak mensyukuri kehadiran anak dalam kehidupan berkeluarga, yaitu mendoakan kebaikan atasnya pada setiap saat terbaiknya, terutama saat usai shalat fardhlu, shalat malam, shalat dhuha, diantara dua khutbah Jum’at dan saat mustajabah doa lainnya.

Keempat, menyelenggarakan akikah atasnya secara bersahaja. Diantaranya menyembelih kambing satu atau dua ekor buat anak perempuan atau laki-laki, lalu memasaknya dan mengundang sanak saudara untuk menghadiri kenduri di hari ketujuh atau keempatbelas atau keduapuluhsatu atau kapanpun disaat memiliki kemampuan untuk maksud yang sama.

Disamping melakukan pecicap dengan memberi rangsangan rasa di lidahnya dengan madu atau kurma atau sesuatu yang manis lainnya dan mencukur rambut si bayi juga dilakukan penabalan nama yaitu pemberian nama ke anak yang baru saja lahir. Berbagai latar, kondisi atau cita cinta orangtua atas anaknya seringkali menjadi pertimbangan dalam penabalan sebuah nama. Hal ini memang niscaya karena dalam iman Islam, nama itu di antaranya menjadi doa.

Dalam konteks bahwa nama itu menjadi doa itulah terdapat satu hal yang mengganggu pikiran saya dan mungkin juga anda bahkan kita semua. Dalam realitas kehidupan, ternyata tidak sedikit saudara-saudara kita yang diberi dan menyandang nama-nama yang ketika dipanggil menjadi dilema. Sebagai gambaran ada nama-nama seperti topan, badai, guntur, gerhana, geledek, gempa, banjir, halilintar, ribut, gendeng, bodo, tornado, katerina, tsunami atau nama suatu bencana lainnya (yang biasanya enak didengar). Ini kan dilematis?

Coba bayangkan saat kita menyebut atau memanggil anak atau orang yang nama-namanya semisal itu, ya syukurlah kalau yang menyahut dan yang datang adalah orang yang menyandang nama itu, tetapi kalau yang datang adalah substansinya, hayo bagaimana??? Kita harus ingat bahwa nama itu doa dan doa itu permintaan. Coba ada yang panggil seseorang yang namanya itu, Banjir ke sini ya! Halilintar datang ke sekolah ya! Badai ke sini! Tsunami datang lagi ya! Ngeri kan? Oleh karenanya kita dituntun untuk memberi nama anak dengan nama-nama yang baik, dan disaat disebut menjadi doa.

Kelima, mengasuh dan mendidik putra putri dengan sepenuh hati. Ranah akidah, akhlakul karimah, ibadah mahdhah praktis sudah harus diwariskan sedikit demi sedikit sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Keenam, memberi keteladanan dalam seluruh aspek kehidupan, seperti saat beraktivitas akan tidur, posisi tidur, bangun tidur, melakukan kegiatan rutinitas harian, sikap, bicara, berperilaku, bekerja, berlalu lintas dan seterusnya. Kita harus ingat bahwa perilaku kita, tutur kata, sikap, gaya dan diamnya kita menjadi rujukan anak-anak kita.

Ketujuh, membiasakan kebersihan dan kebaikan serta menaati syariat sejak sedari kecil. Misalnya memperkenal busana muslim bagi anak laki-laki, busana muslimah bagi anak perempuan, membiasakan ambil air wudhuk, shalat, mengaji baca Qur’an, tulis baca hitung, bersedekah, puasa dan berperilaku sopan pada saatnya yang sesuai bagi masing-masing.

Kedelapan, memberinya kesadaran dan tanggungjawab, baik sebagai seorang anak, anggota masyarakat, warga negara maupun sebagai pemeluk Islam yang setia.

Kesembilan, menikahkan bila waktunya tiba. Kita harus ingat bahwa Islam tidak mengenal pacaran, tetapi mensyariatkan ta’aruf, kitbah Tau meminang, dan nikah.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.