Mesyukuri Remajanya Anak

Mesyukuri Remajanya Anak

Gema, 25 April 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, dalam perspektif sosiologis, setelah meliwati fase lahir sudah lazim kemudian terjadi interaksi antara orangtua dan anak atau sebaliknya antara anak dan orangtua yang berlangsung alamiah terjalin berkelindan mengikuti dinamika intensitas kedekatan dan muatan nilai yang dilembagakannya dalam keluarga.

Inilah di antara urusan utama yang semestinya harus disadari oleh setiap orangtua. Seluruh kondisi (baik kondisi lahiriyah maupun kondisi psikologis) dan aktivitas keseharian anggota keluarga akan saling memengaruhi satu sama lain, secara perlahan-lahan namun pasti, dan berlangsung terus menerus. Oleh karenanya interaksinya harus edukatif.

Interaksi edukatif dalam keluarga menjadi sangat efektif, bukan saja karena durasi waktunya yang panjang dari bangun tidur sampai tidur kembali dan terus menerus sepanjang kehidupannya, tetap juga karena pranata keluarga menjadi madrasatul ula, sekolah pertama dan utama dimana pondasi kepribadian dibanguntegakkan. Inilah sebabnya mengapa awal-awal kehidupannya hingga masa remaja merupakan usia emas

Di fase usia emas ini, memori dan ingatan anak sangat kuat, maka apapun perilaku yang dilihatnya, diterimanya, dan dialaminya menghunjam sangat kuat di hatinya. Inilah mengapa sesaat anak lahir sampai usia remaja terdapat serangkaian tuntunan Islam yang etikanya harus dilakukan oleh orangtua.

Pertama, meyakini seoenuh hati bahwa anak, terutama sejak dilahirkan sampai usia remajanya merupakan masa peletakan dasar-dasar keislaman, baik ranah akidah, ibadah maupun akhlak dan perilakunya. Ibarat bangunan masa-masa ini sebagai pondasi yang akan menjadi dasar menopang kuatnyz bangunan keislaman di atasnya.

Kedua, bersyukur dengan memperbanyak mengucapkan alhamdulillahirabbil’alamin. Bagaimana tidak bersyukur!, anak kita sudah beranjak kanak-kanak kini menjadi remaja, yang laki-laki seolah mengingatkan sang ayah saat masih kecil, dan anakbya ysbg perempusn mengingatkan ubundanya saat belia.

Ketiga, meluruskan niat untuk memenuhi segala hal yang dibutuhkan oleh anak, bukan sebaliknya menuruti kebutuhan orangtua atas anaknya.

Keempat, karena ayah dan ibunya bagi anak adalah pribadi yang tak akan pernah tergantikan, maka tuntunan kedekatannya merupakan keniscayaan. Sesibuk apapun, ayah dan ibundanya tetaplah orangtuanya yang didamba, diidolakan, perkatasnnya ditaati, dan perilakunya diteladaninya.

Kelima, membiasakan taat syariat dalam kesehari-hariannya, aktivitas sejak bangun tidur pada dini hari sampai akan tidur kembali di malam hari. Akan dan bangun tidur membaca doa, beraktivitas ibadah apa saja, mengenakan pakaian takwa, memilih permainan yang sesuai, bergaul secara islami, bersikap, dan bertutur kata.

Keenam, memberi contoh teladan dan memberi pemahaman tentang gender secara islami bahwa laki-laki tetaplah laki-laki, dan perempuan tetaplah perempuan, seperti pemilihan pakaian, permainan, pemisahan tempat tidur, bertutur kata, dan bersikap.

Di samping itu, orangtua juga dituntun untuk memberikan pemahaman masa akil baligh, baik untuk anak laki-laki maupun perempuan. Laki-laki ditandai dengan mimpi basah yang saat tidur mengeluarkan sperma atsu sudah berumur sekitar 13 tahun atau lulus Madrasah Ibtidaiyah/Sekolah Dasar. Sedangkan akol baligh anak perempuan dimulai sejak mengalami menstruasi atau berusia sekitar 13 tahun.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.