813 Tahun

813 Tahun

GEMA JUMAT, 27 APRIL2018

Oleh: Murizal Hamzah

Sudah berapa tahun usia Banda Aceh? Kalau menyaksikan bukti fisik gedung atau batu kuburan, diperkirakan kota ini sekitar 500 tahun. Ternyata itu salah. Sejarawan sepakat umur Banda Aceh pada 2018 yakni 813 tahun. Jika ditelusuri dari usia ibu kota Aceh, kita pantas terkesima sudah tua kota ini.

Banda Aceh berusia 813 tahun diawali setelah Sultan Johan Syah menaklukkan Kerajaan Hindu/Budha Indra Purba dengan ibu kota Bandar Lamuri pada 1 Ramadhan 601 H (22 April 1205). Sebelum Islam

bersemi di Aceh dan bahkan daerah lain di Nusantara, di Aceh berdiri Kerajaan Hindu dan Kerajaan Budha seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra dan Kerajaan Indra Pura.

Nah dari temuan batu-batu nisan di Gampong Pande Banda Aceh terdapat nisan Sultan Firman Syah cucu dari Sultan Johan Syah yang menyatakan Bandar Darussalam sebagai ibu kota Kerajaan Aceh Darussalam

dibangun pada 1205. Pertanyaan rutin setiap memperingati HUT Banda Aceh yakni di mana bisa dijumpa bukti fisik atau bangunan yang menandai bahwa kota ini sudah berusia ratusan tahun?

Untuk menjawab pertanyaan itu kita bisa menunjukkan bukti fi sik antara lain warisan Sultan Iskandar Muda (1607- 27 Desember 1636 yakni Gunongan. Jika diminta tunjukan bukti fi sik lain, mungkin kita harus ke batu nisam yang kirakira bisa memperlihatkan usia kota ini sudah sepuh.

Ya warga Banda Aceh krisis pada bukti sejarah. Kita sering menghancurkan buktibukti sejarah dengan berbagai alasan. Padahal bukti fisik itu menjadi tempat kunjungan turis yang menarik yang tidak habis ditelan masa. Sebut saja turis dalam dan luar negeri membanjiri tempat ibadah/sembahyang umat Budha seperti Candi Borobudur.

Mengapa tempat bersejarah di Aceh itu lenyap? Banyak sebab seperti terbakar, banjir termasuk tsunami/ie beuna atau konflik sesama umat Islam karena beda mazhab. Umat Islam tidak tahun pasti bentuk Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh yang dibangun oleh raja/ sultan di Aceh sebab sudah terbakar pada masa sultanah dan kemudian dibakar lagi oleh kaphe Belanda pada 1873. Nah bentuk fi sik Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh dengan satu kubah ini adalah hasil rancangan oleh perancang arsitek Belanda.

Agar jejak asal kota tua Banda Aceh dipahami oleh turis atau tamu, maka setiap HUT Banda Aceh direproduksi kisah tersebut kepada peserta berbagai perlombaan. Banda Aceh memiliki kawasan-kawasan

sejarah yang perlu diwariskan kepada generasi selanjutnya. Sebab dari sejarah kita memulai melangkah untuk masa kini dan depan.

Pada dimensi lain, pemerintah harus mempertahankan gedung/ bangunan tempo doeloe tidak diubah bentuk fisiknya. Jika kita amati kawasan kota tua di Banda Aceh itu seputar Anjong Mon Mata dengan Kompleks Museum Aceh yang dilengkap Lonceng Cakra Donya, Kompleks Baperis Makam Sultan Iskandar Muda, Meuligoe (pendopo), Kompleks makan sultan di Keraton, Taman Putro Phang, Gedung Sentra Telepon yang ada di taman dekan Simpang Jam, Gunongan, Kerkhof, serta Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Selebihnya banyak gedung di depan Masjid Raya Baiturrahman seperti stasiun kereta api, bengkel kereta api, Sabang Coy, Balai Teuku Umar dan lain-lain sudah dihancurkan dengan berbagai alasan.

Menutup HUT ke-813 Banda Aceh, kita teringat dengan trik tiga cara melemahkan dan menjajah sebuah bangsa yang dikutip dari buku Architects of Deception karya Juri Lina yakni kaburkan sejarah, hancurkan bukti sejarah itu sehingga tidak bisa diteliti dan dibuktikan kebenaran dan putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya dengan mengatakan bahwa leluhur itu bodoh dan primitif.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.