Memperkuat Aqidah Ummat di Perbatasan Aceh

Memperkuat Aqidah Ummat di Perbatasan Aceh

 

GEMA JUMAT, 27 APRIL2018

Dr. H. Munawar A. Djalil, MA – Kepala Dinas Syariat Islam Aceh

Miris memang mendengar bahwa di beberapa wilayah di Aceh rentan bahkan masih rawan aqidah.

Namun itulah kenyataan di lapangan seperti diungkapkan kepala Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh Dr H. Munawar A. Djalil, MA saat dihubungi Gema via telepon selulernya dua hari lalu. Meski belum ada data konkret, namun setiap tahun DSI Aceh melakukan pembinaan ibadah dan akhlak bagi para muallaf yang berjumlah sekitar 6000 orang. “Kita akui bahwa selama ini pembinaannya belum maksimal, karena baru dapat kita lakukan 150 sampai 200 org sejak 3 tahun terakhir,” ujar Munawar yang saat dihubungi

masih tugas dinas di Kabupaten Aceh Singkil.

Pria kelahiran Tijue – Sigli, 25 September 1974 ini menyebutkan DSI telah menyiapkan grand design 2017-2022 pelaksanaan syariat Islam berupa dokumen yang akan dijabarkan oleh seluruh stakeholder yang arahnya memberikan penguatan syariat baik kepada personal, kelompok masyarakat maupun kelembagaan yang pada akhirnya nanti masyarakat Aceh tidak hanya mengetahui syariat, namun mereka memahami dan mengamalkannya.

Akibat kemajuan teknologi dan upaya pendangkalan aqidah umat Islam, saat ini secara umum seluruh wilayah Aceh sangat rentan aqidah, bahkan lebih rawan di wilayah yang berbatasan langsung dengan Sumatera Utara seperti Aceh Singkil, Aceh Tenggara dan Aceh Tamiang. “Itulah yang menjadi alasan penting kenapa DSI Aceh memilih wilayah perbatasan sebagai lokasi penempatan para da’i. Di Aceh Singkil misalnya, da’i yang ditugas berjumlah 47 orang. Selain itu DSI juga telah menetapkan Gampong Siti Ambiya di Singkil sebagai gampong percontohan syariat tahun 2018, sedangkan sebelumnya sejak 2012 telah membina 6 gampong yang tersebar di beberapa kabupaten/ kota se Aceh.

Alumni S3 University of Malaya jurusan Islamic Political Science (2008) ini berharap semua stakeholder terkait mau turun membina gampong percontohan, karena DSI hanya fokus pada takmir, pembinaan aqidah dan ibadah akhlak muamalah, sedangkan instansi lain perlu memikirkan secara konferensif bidang pendidikan, ekonomi, pertanian, kesehatan, lingkungan dan lain-lain.

Dalam jabatan structural suami dari Dr Asmawati, MA ini sudah cukup berpengalaman. Sebut saja pernah menjadi Kepala Bidang Bina Hukum Dinas Syariat Islam Aceh (2013– 2015), kemudian Kepala Biro Isra Setda Aceh (2015-2016), Pelaksana Tugas Bupati Pidie (2016 – 2017) dan dipercayakan sebagai Kepala Dinas Syariat Islam Aceh sejak 2017. Bahkan sebelum hijrah ke provinsi, ayah tiga putra ini pernah menjabat Kepala Seksi Pembinaan dan Pengawasan Kantor Syariat Islam Kab. Pidie (2003 – 2004).

Selain birokrat, Munawar mampu menjadi imam dan khatib Jumat dan Hari Raya dengan gaya oratornya yang memikat. Tidak heran karena saat remaja pernah menempuh pendidikan non formal di Madrasah Diniyah Bale Reuba Kemukiman Gampong Lhang Tijue (1987-1992). Wajar kalau Munawar berhasil sebagai Juara Katagori Penampilan Terbaik Pidato Mahasiswa Tingkat Nasional di Jakarta (1994), Penghargaan Menteri Peranan Wanita Mien Sugandhie dan Finalis Da’i KAMTIBMAS Tingkat Nasional di Markas Brimob, Kelapa Dua Bogor (1995).

Karya tulis berupa buku dan jurnal juga lumayan banyak, seperti buku “Hasan Tiro Berontak, antara Alasan Historis, Yuridis dan Realitas Sosial” (2009), “Hasan Tiro; Unfi nished Story of Aceh” (2010), “Refl eksi Setengah Abad Pendidikan Aceh ; Menjenguk Masa Lampau, Menjangkau Masa Depan” (2010) dan “Idealisme Politik Islam di Aceh” (2011). Selain itu pria energik ini juga sering menulis di berbagai media seperti Serambi Indonesia berupa opini. Baskar

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.