RAMADHAN : MOMENTUM MENUJU NEGERI DAMAI DAN  MAKMUR

RAMADHAN : MOMENTUM MENUJU NEGERI DAMAI DAN  MAKMUR

GEMA JUMAT, 4 MEI 2018

Oleh: Dr. Tgk. H.Ajidar Matsyah, Lc, MA (Dosen Pengasuh Mata Kuliah Siasah Syar’iyah, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Ar-Raniry)

Dengan membawa segudang keberkahan, Ramadhan akan datang lagi menemui kita pada tahun ini. Kedatangan bulan barakah ini di sambut dengan gembira oleh setiap umat Muslim di seluruh dunia. Ada Muslim yang gembira dengan kedatangan ramadhan di awalnya, dan ada Muslim yang gembira dengan kedatangan ramadhan di akhirnya yaitu lebaran. Exspresi kegembiraan Muslim golongan pertama ini menunjukkan kualitas keimanannya. Mereka adalah orang-orang muttaqin dan mereka adalah orang-orang yang menginginkan perubahan. Sementara exspresi Muslim golongan kedua, didominasi oleh anak-anak atau orang dewasa yang berwatak anak-anak yang begitu antusias menunggu berakhirnya ramadhan untuk berhari raya.

Menjadikan ramadhan sebagai momentum menuju perubahan adalah ciri-ciri Muslim sejati, yang setiap saat mendambakan akan perubahan dan perubahan. Di antara perubahan yang sangat dinanti-nantikan oleh segenap Muslim di mana pun dia berada adalah wujudnya sebuah negeri di mana dia berpijak menjadi negeri yang damai dan makmur. Negeri yang dimaksud di sini bisa saja berupa sebuah Negara, atau sebuah wilayah, dan atau sebuah daerah. Paling sedikit terdapat empat (4) pilar menuju sebuah negeri yang damai dan makmur, seperti berikut:

Dengan adilnya Umara ( بعدل الأمراء )

Sosok pemimpin yang adil secara teori sering merujuk ke Umar bin Khattab ra. Selain beliau yang sering dijadikan sebagai teladan pemimpin yang adil adalah Umar bin Abdul Aziz, yang disebut sebagai khalifah ke lima dalam Islam. Di antara praktik kepemimpinan beliau yang menjadi teladan bagi umat setelahnya adalah sikap mengutamakan kepentingan umat atas kepentingan pribadi. Beliau tidak mempergunakan fasilitas Negara untuk kepentingan pribadi, dan kelurganya. Contohnya ketika beliau didatangi oleh seseorang pada malam hari, yang saat itu beliau berada di kantonya dan menggunakan lampu yang minyaknya milik Negara. Setelah beliau menjawab salam, lalu beliau bertanya ,,siapa yang datang?.” Saya” jawabnya. Beliau kenal dengan pemilik suara tersebut, ternyata yang datang tersebut adalah familinya, lalu beliau bertanya ada urusan apa, apakah urusan pribadi atau urusan umat atau Negara?. Dijawab oleh yang bersangkutan “urusan pribadi”. Langsung saja Umar bin Abdul Aziz mematikan lampunya, lalu beliau mengambil minyak sendiri dan mengisinya, dan dinyalakan kembali, baru kemudian mepersilakan familinya masuk.

Dalam konteks hari in, jika direferensikan sosok pemimpin yang adil ke sosok Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz, maka sulit sekali bahkan hampir mustahil menemukan sosok pemimpin dan atau calon pemimpin seperti itu. Pemimpin merupakan cermin besar rakyat, dan sebaliknya prilaku rakyat adalah cerminan prilaku pemimpin. Paling kurang yang dimaksud dengan adil dalam kontek ini ialah;

إعطاء حق حقه

Memberikan hak sesuai haknya

Berlaku adil dalam kebijakan dan dalam tindakan merupakan kewajiban bagi setiap pemimpin, baik di level keluarga maupun di level masyarakat dan Negara. Jika berkaitan dengan penegakan hukum, maka di depan hukum semuanya sama, tidak ada elit beda dengan orang biasa, tidak ada pejabat beda dengan orang biasa, tapi di depan hukum semuanya sama. Sebaliknya, jika kebijakan dan tindakan pemimpin mengandung unsur diskriminasi, maka kehancuran akan terjadi. Ini tergambar dalam sabda Rasulullah saw;

قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم, فإن ما أهلك الناس قبلكم أنهم كانوا إذا سرق فيهم الشريف تركوه وإذا سرق فيهم الضعيف أقاموا عليه الحد, والذى نفس محمد بيده لو أن فاطمة بنت محمد سرقت لقطعت يدها

Artinya: Rasulullah saw bersabda, Amma ba`d, Sesungguhnya yang membuat binasa umat sebelummu adalah orang-orang terhormat di antara mereka mencuri, mereka biarkan, dan jika orang-orang lemah di antara mereka mencuri, mereka berlakukan had atasnya. Demi Allah yang Muhammad di tangannya, jika Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.

Ramadhan ini adalah kesempatan menggantikan kebijakan yang belum adil dengan kebijakan yang mendekati keadilan, menggantikan tindakan yang diskriminatif dengan tindakan yang solutif. Dengan ini, sebuah negeri akan menuju negeri yang makmur dan damai.

Dengan Ilmunya Ulama ( بعلم العلماء )

Pilar kedua untuk menuju sebuah negeri yang makmur dan damai adalah ilmu para ulama. Para ahli mengatakan,, jika penguasa adalah raja, maka ulama adalah penguasa yang mengatur raja. Umat tanpa bimbingan para ulama akan menjadi komunitas yang liar. Jika umat ini liar maka mustahil sebuah negeri akan makmur dan damai. Untuk itu, dituntut hadirnya ulama di tengah-tengah umat dengan membawa kesejukan, semakin berkualitas ilmu yang disampaikan oleh ulamanya maka semakin berkualitas umatnya. Dengan semakin banyak ulama, maka semakin damai umat ini, bukan sebaliknya semakin banyak ulama justru semakin susah menjaga umat. Kata “ulama” bentuk jamak dari “`Alim”. Definisi `alim ialah;

العالم من يعمل بعلومه

Artinya; Orang `Alim (berilmu) ialah orang yang beramal dengan ilmunya.

Ulama yang dimaksud di sini tidak hanya ulama fuqaha, akan tetapi mencakup semua ulama dalam berbagai displin ilmu. Ulama atau disebut juga ilmuan adalah setiap mukmin yang mendasari keilmuannya berdasarkan al-Quran dan hadist dan beramal dengan ilmunya, maka mereka adalah  ulama. Para ulama ini adalah harapan umat di dunia dan akhirat. Adapun ciri ulama harapan umat ialah ulama yang dengan ilmunya ia tidak merasa lebih tinggi dari orang lain, apalagi menganggap orang lain rendahan. Tidak mencari sanjungan dari masyarakat dan  tidak pula tersanjung jika dipuji. Karena para ulama sangat sadar bahwa ilmu yang diberikan Allah kepadanya sangat sedikit, sedang ilmu Allah bagaikan hamparan samudera yang sangat luas. Allah sWT menyatakan dalam al-Quran;

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Artinya:…dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Q.S. Al-Isra`: 85).

Jumhur ulama berpendapat bahwa keulamaan seorang ulama bukan hanya diukur pada tingkat panutan umat kepadanya, tetapi juga diukur pada kompetensi dan kualifikasi keilmuannya. Ciri lainnya dari ulama harapan umat adalah sikap tawadhu`nya, karena para ulama tau bahwa di atas orang yang berilmu ada yang lebih berilmu, seperti dilukiskan dalam al-Quran;

وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

Artinya:…dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui. (Q.S. Yusuf: 76).

Ramadhan ini adalah momentumnya menanti kesejukan dari para ulama dan umat ini semakin berkualitas, dan tentunya setelah ramadhan ada tanda-tanda bergerak menuju sebuah negeri yang makmur dan damai.

Dengan murahnya Aghniya (بسخاوة الأغنياء )

Pilar ketiga menuju sebuah negeri yang makmur dan damai ialah murahnya para orang kaya. Tanpa hadirnya orang kaya di tengah-tengah masyarakat, atau orang kaya hadir di tengah-tengah masyarakat tetapi kikir, bagaimana mungkin masyarakat bisa makmur. Untuk itu, Islam menetapkan aturan kepimilikan harta, agar harta kekayaan tidak hanya beredar di tangan dan di kalangan orang – orang kaya semata. Al-Quran menjelaskan;

كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ

Artinya:… supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. (Q.S. Al-Hasyr: 7).

Setiap harta yang dimiliki oleh para orang kaya, di sana terkandung hak-hak orang lain; ada hak fakir, hak miskin, hak anak yatim dan orang yang membutuhkan. Di sinilah logika agama kenapa diwajikan zakat pada harta orang kaya. Di antara objektif zakat adalah istighnaa al-fuqara` wa al-masakin (memperkaya orang fakir dan miskin). Ramadhan ini merupakan momentum yang tepat untuk melahirkan hartawan yang murah, jutawan yang dermawan untuk menuju negeri yang makmur dan damai.

Dengan doanya Fuqara (بدعاء الفقراء )

Pilar terakhir menuju sebuah negeri yang makmur dan damai adalah doa dari orang –orang lemah. Tanpa doa mereka, negeri ini tidak akan makmur apalagi damai. Doa fakir dan miskin ada kaitannya dengan sifat murahnya orang kaya.

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Taubah: 103).

Doa mempunyai kekuatan yang mampu mengubah sesuatu, bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa doa mampu mengubah takdir. Doa fakir dan miskin mampu membuat ketenteraman bagi hartawan dan dermawan. Jika harta para orang kaya dalam sebuah negeri semakin bertambah dan barakah maka negeri akan semakin makmur dan damai. Dengan demikian, jika dalam sebuah negeri, pemimpinya adil, ulamanya ada, orang-orang kaya juga banyak, namun tidak bisa bertahan lama tanpa doa dari para fakir dan miskin. Maka ramadhan ini, adalah momentum memperbaiki diri dan memperbanyak doa untuk menuju negeri yang senantiasa damai dan makmur.

 

 

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.