Baitul Maqdis Destinasi Para Nabi

Baitul Maqdis Destinasi Para Nabi

GEMA JUMAT, 11 MEI 2018

Khatib H. Mursalin Bansyah, Lc, MA, Penceramah Masjid Raya Baiturrahman

Masjid al-Aqsha yang terletak di jantung kota Yerusalem Palestina, merupakan masjid kedua yang didirikan di muka bumi setelah Masjidil Haram di kota Mekah. Sebagian ulama menegaskan, bahwa para Malaikat dan Nabi Adam lah yang mendirikan masjid tersebut setelah mendirikan Masjidil Haram dalam waktu 40 tahun.

Sepeninggal Nabi Adam pembangunan dan pemakmuran Masjid al-Aqsha dilanjutkan oleh Nabi Nuh pada sekitar tahun 2000 SM, lalu dilanjutkan oleh Nabiyullah Ishak dan Ya’kub dan diperbaharui oleh Nabi Sulaiman pada tahun 1000 SM. Yang mana saat itu beliau berdoa 3 hal; bijaksana dalam berhukum, kerajaan yang tidak akan dimiliki satupun orang setelahnya dan siapa saja yang pergi ke Masjid al-Aqsha dengan niat shalat/beribadah di dalamnya, ia akan diampuni dosa-dosanya sebagaimana ia baru terlahir ke dunia.

Kemudian Nabi melanjutkan sabdanya dalam hadits yang berkaitan dengan riwayat tersebut, “Doa pertama dan kedua telah dikabulkan oleh Allah dan semoga yang ketiga diberikan kepada umatku.” (HR. Ibnu Majah).  Mendengar hadits ini Abdullah bin Umar secara khusus berangkat dari Hijaz ke Baitul Maqdis untuk shalat di dalamnya, bahkan begitu sampai ia tidak melakukan apapun baik makan maupun minum agar benar-benar untuk shalat saja demi mendapatkan doa nabi Sulaiman.

Dalam beberapa ayat Al-Quran secara khusus Allah menyandarkan kata-kata keberkahan kepada Baitul Maqdis, seperti dalam surah Al Isra’ ayat 1, surah Al Anbiya ayat 71 dan 81, Surah Al A’raf ayat 137,  dan Surah Saba’ ayat 18. Imam Al Alusi dalam Ruhul Ma’ni menyebutkan bahwa keberkahan tersebut karena kebanyakan para nabi diutuskan di Baitul Maqdis yang kemudian syariat yang mereka bawa menyebar ke berbagai negeri. Ketika menafsirkan ayat 71 surah Al Anbiya Imam Al Qurthubi juga menjelaskan bahwa Baitul Maqdis disebut oleh Allah sebagai tanah penuh keberkahan karena disana kebanyakan para nabi memulai risalah mereka.

Banyak para sahabat rasulullah dan ulama salafusshaleh yang berziarah serta tinggal di seputaran Baitu Maqdis, seperti Ubadah bin Shamit, Syidad bin  Aus, keduanya wafat dan dikebumikan di Baitul Maqdis. Diantara sahabat yang pernah berziarah kesana adalah Umar bin Khattab, Abu Ubaidah bin Jarrah, Ummul Mikminin Shafiah, Mu’az bin Jabal, Khalid bin Walid, Abu Dzar Al Ghifari, Abu Darda’, Amru bin Ash’, Sa’id bin Zaid dan lain-lainnya. Diantara ulama salaf yang berziarah dan mengajarkan ilmu disana adalah Imam Muqatil bin Sulaiman, Imam Al Auzha’i, Imam Sufyan As Tsauri, Imam Al Lais, Imam Syaf’i.

Banyak orang beranggapan bahwa Masjid al-Aqsha adalah masjid dengan kubah emas yang sering kita lihat di media sosial, atau masjid yang berkubah tinggi dengan 7 pintu besar. Pada nyatanya kedua masjid tersebut masuk ke area masjid al-Aqsha. Halaman Masjidil Aqsha memiliki luas sekitar 144×1000 m2, yang didalamnya mencakup isi dari Qubatus Shakhra’ (Dome of the Rock) masjid yang berkubah emas, Al-Jami’ al-Qibli (masjid yang memiliki 7 pintu dan menara yang agak lancip) dan beberapa masjid di sekitarnya.

Berbeda dengan dua masjid agung lainnya yaitu Masjid Nabi dan Masjidil Haram, masjid al-Aqsha semenjak dibangun pertama kali oleh Nabi Adam dan diperbaharui oleh Nabi Sulaiman belum pernah mengalami perluasan.

Maka siapa saja yang yang mendirikan shalat di komplek masjid al-Aqsha, entah itu di emperannya, di masjid yang berkubah emas, di bawah pohon, atau di salah satu kubah-kubahnya, shalatnya akan dilipat gandakan pahalanya. Sebagaimana nabi bersabda:

“Satu shalat di masjidku lebih utama dari empat shalat padanya, dan ia adalah tempat shalat yang baik. Dan hampir-hapir seseorang memiliki tanah seukuran tali kekang kudanya dan dari tempat itu terlihat Baitul Maqdis lebih baik baginya dari seisi dunia” (HR. Hakim)

Banyak hadits menyebut kemuliaan dari masjid al-Aqsha, mulia karena Nabi sendiri yang menjelaskannya dan Nabi sendiri yang megalaminya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Sahabat Ibnu Abas RA berkata, “Adapun RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam saat di Mekah berkiblat ke Masjidil Aqsha padahal disampingnya Ka’bah, kemudian setelah 16 bulan hijrah ke Madinah beliau menggeser kiblatnya ke Ka’bah.”

Kemuliaan lainnya bahwa Nabi di Isra’ kan dalam peristiwa Isra’ Mi’raj menuju Masjid Al-Aqsha dan Beliau memulai mi’raj ke langit ketujuh dari masjid tersebut. Allah bisa saja memilih Masjidil Haram untuk Isra’ dan Mi’raj, akan tetapi Allah memilih Masjid al-Aqsha agar kaum muslimin memahami kebesaran dan kemuliaannya.

Selain beberapa hadits yang telah tertulis sebelumnya, Nabi melaarang seseorang untuk berletih-letih safar (bepergian) kecuali ke tiga tempat, yaitu;

“Jangan berletih-letih untuk safar kecuali ke tiga masjid; Masjidil Haram, Masjid Nabi dan Masjid al-Aqsha.” (Muttafaq ‘alaih)

Demikian besar keagungan yang dimiliki masjid Al-Aqsha, semoga suatu saat kita dianugerahi nikmat agar bisa safar dan shalat disana.

Masjid al-Aqsha sepenuhnya hak kaum muslimin yang diwariskan oleh para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad dan berakhir di tangan Beliau. Ia merupakan anugerah Allah kepada kaum muslim sebagai penyempurna risalah Islam dari risalah-risalah yang dibawa para Nabi terdahulu yang diwujudkan Masjid suci. Adapun sebagai orang yang beriman, kita wajib meyakininya dan wajib untuk menjaga dan membelanya. Sungguh dusta bila ada kelompok yang merebutnya dan mengklaim bahwa masjid tersebut warisan Nabi Sulaiman, padahal beliau adalah Nabi yang diimani oleh kaum muslimin.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.