Sambut Ramadhan

Sambut Ramadhan

GEMA JUMAT, 11 MEI 2018

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Inya Allah, 17 Mei 2018  ummat Islam kembali melaksanakan ibadah puasa Ramadhan seperti tahun-tahun sebelumnya. Yang istimewa, tahun ini tak ada beda penetapan awal Ramdahan dan Idul Fitri antara keputusan negara dan masyarakat sipil muslim. Tak ada beda antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Ini terjadi, karena hilal dapat terlihat secara nyata.

Muslimin Aceh, sejak beberapa hari lalu, telah menyiapkan diri menyambut bulan suci Ramadhan dengan suka cita. Biasanya, hal utama yang dipersiapkan orang Aceh adalah kesiapan finansial (keuangan). Kebutuhan finansial sebulan penuh telah direncanakan, dengan alasan selama berpuasa tak dapat mencari rezeki secara maksimal. Lebih fokus puasa dan ibadah lainnya.

Bukti lain muslimin Aceh antusias menyambut puasa Ramadhan dapat dilihat dari beberapa komunitas, organisasi dan gampong menyelenggarakan aktivitas penyambutan Ramadhan dalam bentuk tabligh akbar, dakwah islamiah, santunan anak yatim dan gotong royong membersihkan lingkungan.

Komponen lain sangat siap menyambut Ramadhan adalah pengurus masjid. Mereka bertekad akan melayani jamaah secara maksimal, melengkapi fasilitas masjid dan merencanakan kegiatan tambahan seperti ceramah tarawih dan shubuh, tadarus Al-Quran, dan i’tikaf di penghujung Ramadhan. Sebagian besar masjid telah menyiapkan penceramah nuzul quran dan khatib Idul Fitri.

Demikian juga pemerintah, telah mengantisipasi kemungkinan adanya ganguan yang bisa terjadi dan dapat mengganggu ibadah selama Ramadhan. Pemerintah mengatur kelonggaran jam kerja pegawai dan mengimbau non muslim, supaya menghargai muslimin Aceh yang sedang berpuasa. Tidak berjualan konsumsi pada siang hari dan memperbanyak kegiatan syiar Islam.

Dalam hal ini, kiranya berbagai komponen masyarakat di Aceh dapat menyiapkan diri lebih baik, sehingga dapat menjalankan ibadah puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, sehingga mencapai hasil maksimal: menjadi insan taqwa.

Puasa yang sempurna adalah dengan mengurangi perdebatan politik, sebab satu faktor yang bisa jadi mengurangi pahala puasa adalah akibat maraknya gosip politik. Jadi semestinya kita juga puasa dari gosip politik. Puasa mestinya disertai niat,  pikiran dan perasaan positif.

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.