Mensyukuri 1 Ramadhan

Mensyukuri 1 Ramadhan

Gema, 17 Mei 2018

OOleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, 1 Ramadhan 1439 hanya terjadi dan berlangsung untuk 24 jam hari ini saja, sejak magrib kemarin hingga jelang ifthar nanti sore, belum pernah terjadi pada masa sebelumnya dan tidak akan berulang pada masa yang akan datang. Kalaupun berulang pasti keadaan dan tahunnya tmsudah tidak sama, misalnya 1 Ramadhan 1440 dan seterusnya serta belum tentu dalam jangkauan garisan tangan masing-masing kita. Oleh karena itu sudah semestinya kita berusaha semaksimal mungkin untuk memanfaatkan dan mengisinya. Aktivitas yang lazim dilakukan adalah puasa di siang harinya dan menghidupkan malamnya dengan ibadah, seperti yang paling pavorit dengan menunaikan shalat tarawih.

Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad saw pernah menyampaikan bahwa keutamaan tarawih malam pertama adalah terbebasnya segala dosa sehingga fitrah kembali seperti bayi yang dilahirkan oleh ibunya. Disadari atau tidak, sejatinya dosa dan kesalahan cukup membebani hidup, sehingga berat saat melangkah dan susah meraih bahagia. Maka orang-orang yang melalukan shalat tarawih pada malam pertama dijanjikan oleh Nabi Muhammad saw, bahwa akan terbebas dari beban segala dosa dan kesalahan karena telah diampuni oleh Allah, sehingga ringan menuju kepada kebahagiaan, mudah dan dimudahkan dalam segala urusan.

Di samping itu, perumpamaan bayi yang dilahirkan dari ibunya merupakan perlambang bahwa orang-orang yang melakukan tarawih di malam pertama dapat tampil polos dan lugu seperti bayi jauh dari sikap palsu penuh kepura-puraan dan kesombongan. Artinya menjadi pribadi yang jujur dan istiqamah dalam kebaikan serta jauh dari sikap takabur.

Dan tentu masih banyak pelajaran keutamaan lainnya dari kondisi bayi yang terbebani dengan dosa. Apalagi bila disadari ini baru keutamaan shalat tarawihnya saja, belum lagi amalan ibadah lainnya seperti tilawah al-Qur’an, zikir, berdoa, iktikaf, shalat dhuha, shalat rawatib, membaca buku, belajar mengajar, mencari nafkah, menyediakan bukaan puasa atau sahur untuk sesamanya dan seterusnya.

Oleh karenanya layak kita mengembangkan akhlak dalam mensyukuri ragam keutamaan yang disediakan oleh Allah pada hari pertama Ramadhan setiap tahunnya.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa Allah yang memanjangkan usia kita sehingga dapat menunaikan ibadah Ramadhan hari pertama ini merupakan karunia besar bagi hamba-hamba pilihanNya saja. Oleh karenanya, hari i i saat ini merupakan saatnya berbenah ke arah yang lebih maslahah dan saatnya bertobat dari segala perilaku salah menuju keridhaanNya semata. Bila tidak hari ini mau kapan lagi? Bila tidak sekarang, esok lusa belum tentu dalam genggaman kita lagi.

Kedua, memperbanyak melafaldkan ucapan alhamdulillahi rabbil’alamin atas kesempatan dan kesehatan, ternyata kita masih dipertemukan dengan Ramadhan tahun ini. Dan janji Allah, ketika kita bersyukur, maka Allah akan menambah karuniaNya seperti menambah kesempatan dan umur panjang dengan segala keberkahannya sehingga dapat menyelesaikan ibadah Ramadhan tahun ini dengan baik, di semakin baik pada Ramadhan tahun depan dan seterusnya sampai ketentuanNya tiba.

Ketiga, karena telah dikaruniai pahala terbebasnya dari segala beban dosa, maka langkah konkret berikutnya adalah memelihara ketakberdosaan dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Dosa dan kesalahan biarlah menjadi masa lalu, dan tidak berulang atau sengaja dulangi lagi di masa kini dan datang.

Keempat, seiring dengan memelihara ketakberdosaan diri, juga dimanfaatkan untuk menambah pundi-pundi pahala dan keutamaan yang melimpah yang tengah disediakan oleh Allah taala, dengan qiyamu ramadhan di malam harinya dan shiyamu ramadhan di siang harinya.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.