Keutamaan Bulan Ramadhan

Keutamaan Bulan Ramadhan

GEMA JUMAT, 18 MEI 2018

Oleh: Tgk. Dr. Ir. Mustafa Usman, MS.

Salman R.a. meriwayatkan bahwa: pada hari terakhir bulan sya’ban, Rasulullah saw berkhutbah kepada kami, “wahai manusia, kini telah dekat kepadamu satu bulan yang agung, bulan yang penuh berkah, yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik nilainya dari seribu bulan. Inilah bulan yang Allah tetapkan shaum (puasa) pada siang harinya sebagai amalan fardhu, dan shalat tarawih pada malam harinya sebagai amalan sunnat. Barang siapa ingin mendekatkan dirinya kepada Allah swt pada bulan ini dengan suatu amalan sunnat, maka pahalanya seolah-olah ia melakukan amalan fardhu pada bulan-bulan yang lain. Dan barang siapa melakukan amalah fardhu pada bulan ini, maka ia akan dibalas dengan pahala seolah-olah  telah melakukan tujuh puluh amalan fardhu pada bulan yag lain.

Inilah bulan kesabaran, dan ganjaran bagi kesabaran yang sejati adalah syugra. Bulan ini juga merupakan bulan simpati terhadap sesama. Pada bulan ini rezeki orang-orang beriman ditambah. Barang siapa memberi makan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, maka kepadanya dibalas dengan keampunan terhadap dosa-dosanya, dibebaskan dari api neraka jahannam, dan dia juga memperoleh pahala yang sama sebagaimana pahala orang yang berpuasa tadi, tanpa sedikitpun mengurangi pahala orang yang berpuasa itu”. Kamipun berkata, “Ya Rasulullah!, tidak semua orang diantara kami mempunyai sesuatu yang dapat diberikan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa”. Rasulullah saw menjawab, “Allah swt akan mengaruniakan balasan ini kepada seseorang yang memberi sesuatu kepada orang yang berpuasa untuk berbuka walaupun hanya dengan sebiji kurma, atau seteguk air, atau seisap susu. Inilah bulan yang pada sepuluh hari pertamanya Allah swt menurunkan Rahmat, sepuluh hari pertengahannya Alllah swt memberikan keampunan, dan pada sepuluh hari terakhir Allah swt membebaskan hambaNya dari api neraka jahannam. Barang siapa yang meringankan beban hamba sahayanya pada bulan ini, maka Allah swt akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka. Perbanyakkanlah pada bulan ini 4 (empat) perkara. 2 (dua) perkara dapat mendatangkan keridhaan Allah swt, dan 2 (dua) perkara lagi pasti kamu memerlukannya. Dua perkara yang dapat mendatangkan keridhaan Allah swt adalah: hendaknya kalian membaca kalimah thayyibah dan istighfar sebanyak-banyaknya. Dan dua perkara lagi yang kamu pasti memerlukannya adalah: hendaknya kamu memohon kepada Allah swt untuk masuk syurga, dan berlindung kepada-Nya dari api neraka jahannam”. (Hr. Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya).

Kini kita telah berada di bulan yang agung, bulan yang penuh berkah, yakni bulan suci Ramadhan. Hal ini merupakan suatu rahmat yang besar dari Allah swt, yang telah mempertemukan kita dengan bulan yang mulian ini  yakni bulan Ramadhan 1439 H. Sementara banyak diantara saudara-saudara kita telah kembali ke hadhirat Allah swt. Berarti kita masih memiliki kesempatan untuk mengamalkan hadist diatas.

Menarik bagi kita pada kesempatan yang sangat singkat ini untuk memberikan perhatian pada penghujung hadist diatas, bahwa Rasulullah saw menganjurkan kepada kita semua agar memperbanyak 4 hal di bulan suci ramadhan, yaitu: 1) Mengucapkan kalimah thayyibah; 2) Mengucapkan Istighfar;  3) Berdo’a meminta masuk syurga; dan 4) berdo’a memohon keselamatan dari api neraka jahannam.

Mengucapakan kalimah thayyibah (Laa ilaaha illallah) adalah pekerjaan yang sangat ringan di lidah, tetapi sungguh berat ditimbangan. Suatu hadist yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al Khudri r.a. bahwa Rasululullah saw bersabda, suatu ketika Nabi Musa a.s. memohon kepada Allah swt, “Ya Allah ajarkanlah kepadaku sesuatu, yang dengannya aku dapat mengingat-Mu. Allah swt berfirman, “Ucapkanlah olehmu “Laa ilaaha illallah” . Musa a.s. berkata: Ya Rabbi, kalimat ini telah diucapkan oleh setiap hambamu. Allah swt berfirman lagi, “Ucapkanlah olehmu “Laa ilaaha illallah” . Musa a.s. berkata lagi, Ya Rabbi saya menginginkan sesuatu yang khusus untuk saya, yang belum pernah engkau berikan kepada hambamu sebelum aku. Lalu Allah swt berfirman kepada Nabi Musa a.s., “Wahai Musa, jika tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi diletakkan di sebelah timbangan, dan di sebelah timbangan lagi diletakkan kalimat  “Laa ilaaha illallah” , niscaya timbangan “Laa ilaaha illallah” itu lebih berat. (Hr. Nasai, Ibnu Majah, dan Hakim).

Demikian juga dengan istghfar (memohon ampun kepada Allah swt), merupakan suatu amalan penting. Hari-hari ummat Muhammad saw bergelimangan dengan dosa. Dosa yang dibuat oleh tangannya, kakinya, matanya, telinganya, mulutnya dan hatinya yang selalu cendrung kepada makshiat. Lalu kalau tiba-tiba malaikat maut (Izrail) datang menjemput, sementara kita belum sempat taubat, maka kita mati dalam keadaan membawa dosa, hal ini sungguh benar-benar celaka, sehingga neraka tempat kembalinya (Nauzubillah). Istighfar adalah salah satu amalan untuk memohon ampunan kepada Allah swt, terutama dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar mesti dengan taubat nashuha. Kita mengingat kepada keadaan Rasulullah yang telah mendapat jaminan keampunan dari seluruh dosanya, baik dosa yg lalu, sekarang dan yang akan datang, serta jaminan Syurga untuk beliau dari sisi Allah swt, namun beliau tidak kurang dari 70 kali dalam sehari beristighfar kepada Allah swt. Kiranya patutlah kita malu kepada Allah swt dan malu kepada Rasulullah saw, jika kita lalai dan malas beristighfar kepada Allah swt.

Adapun dua amalan lagi yang memang dibutuhkan oleh kita semua, yaitu: berdo’a kepada Allah swt agar kita dimasukkan-Nya kedalam syurga dan dilindungi-Nya dari api neraka jahannam. Namun do’a tersebut harus diikuti oleh usaha berupa amalan lainnya. Bahkan ada beberapa amalan yang membuat kita justru dirindukan oleh syurga (jannah). Hal ini sesuai dengan sabdaan Rasulullah saw: bahwa “Syurga merindukan kepada 4 orang, yaitu 1) orang yang membaca al-Qur’an; 2) orang yang menjaga lisannya; 3) orang yang memberikan makan kepada yang lapar; dan 4) orang yang berpuasa di bulan suci Ramadhan.    

Keempat amalan yang tersebut dalam hadist diatas merupakan amalan yang disukai oleh Allah swt dan juga makhluknya terutama manusia. Karena itu sangat wajar kalau Syurga juga ikut merindukan kepada 4 orang tersebut.

Al-Qur’an adalah kalam Allah, akan menjadi nur bagi para pembacanya. Setiap huruf yang dibacanya akan menjadi rahmat dan diberikan sepuluh kali ganda pahalanya. Menjaga lisan agar tidak terjerumus kepada hal-hal yang merugi, berupa lagha, ghibah, adudomba dan caci maki yang dapat menyakiti hati orang lain, pada akhirnya akan merusak tatanan kehidupan bermasyarakat yang islami. Demikian juga orang yang memberikan makan minum kepada yang lapar dan haus, kepada mereka akan mendapat keampunan Allah swt. Hal ini sesuai dengan Hadist Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., beliau bersabda bahwa seorang pelacur mendapat keampunan Allah swt setelah memberikan minum kepada makhluk Allah berupa anjing yang menjulurkan lidahnya karena kehausan. Apalagi kalau makanan dan minuman itu diberikan kepada manusia, yang bertaqwa lagi, sementara penyebab mereka lapar dan dahaga adalah karena dalam rangka untuk mentaati perintah Allah swt, Sungguh dirindukan oleh jannah kepada pemberi tersebut.

Kemudian orang yang berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah Swt, tentu ibadah puasanya mengikuti tertib Rasulullah saw, Sehingga ibadah puasanya akan mencapai target yang paling tinggi yaitu menjadi insan muttaqin,  yang sekaligus mendapatkan pahala yang berlipat ganda serta keampunan dari segala doanya. Sangat wajar kalau jannah pun merindukan kepada orang yang berpuasa itu.

Tetapi sungguh disayangkan kata Rasulullah dalam sandaannya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa “betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu melainkan hanya lapar dan dahaga”.  Jangankan target muttaqin, pahala dan keampunan saja tidak mereka peroleh. Kenapa demikian. ??. Hal ini disebabkan oleh karena ibadah puasanya tidak mengikuti tertib Rasulullah saw. Disangkanya puasa itu cukup dengan hanya menahan makan, minum dan syahwat dengan istri dari terbit fajar sampai dengan terbenam mata hari. Padahal puasa itu juga termasuk menahan diri dari lagha dan caci maki atau menjaga lisan.

Rasulullah saw Bersabda ada lima perkara yang dapat menghapuskan pahala puasa; yaitu 1) berkata dusta; 2) Ghibah; 3) adu domba (Namimah); 4) bersumpah palsau; dan 5) memandang kepada lawan jenis dengan syahwat (termasuk kpd istri di siang hari).

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.