Shalat Tarawih

Shalat Tarawih

GEMA JUMAT, 18 MEI 2018

Oleh Tgk. H. Ameer Hamzah

Barang siapa mendirikan (menghidupkan) malam Ramadhan dengan iman dan ihtishaban (mengharap ridha dari Allah),  Allah akan mengammpuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Muttafaqun ‘Alaihi).

SHALAT Tarawih hanya ada dalam bulan Ramadhan. Pada bulan lain mungkin namanya  Qiamul Lail atau Shalat Tahajjud. Shalat ini hukumnya sunat. Menurut sejarah telah dilakukan oleh Rasulullah SAW  dan para sahabatnya di Madinah sebanyak 11 rakaat tambah witir. Zaman Umar bin Khattab ditetapkan menjadi 20 rakaat, sementara zaman Umar bin Abdul Aziz menyukai  46 rakaat.

Syaikhul Islam  Syeikh Islam Ibnu Taimiyah memilih 20 rakaat. Pengikut Syafi’i juga memilih 20 rakaat. Sekarang umat Islam di dunia melaksanakan delapan atau 20 rakaat. Rakaatnya terserah kepada kesepakatan masyarakat setetmpat. Ada yang melakukan delapan rakaat, tambah tiga  dengan witir. Ada yang meneruskan sampai 20 rakaat, tambah tiga witir, bahkan ada yang melaksanakan 46 rakaat  tambah tiga witir. Masing-masing tentu punya dalil yang kuat. Itulah ibadah sunnat yang kadang kala menjadi  sumber perpecahan (khilafiah)  di kalangan awam.

Terlepas dari khilafiah, Tarawih adalah ibadah yang paling semarak di bulan Ramadhan. Masjid, meunasah, dan mushalla-mushalla penuh dengan  jamaah  shalat sunnat ini. Kadang-kadang ada di antara mereka tidak shalat jamaah rawatib yang wajib, namun tak pernah tinggal shalat sunnah Tarawihnya. Semangat beribadah di malam hari Ramadhan, biasanya memudar (berkurang) menjelang Idul Fitri. Hanya yang tinggal  sedikit orang. Itulah seleksi keimanan.

Dalam menyemarakkan  malam-malam Ramadhan,  selain ibadah Shalat Tarawih juga  ceramah Ramadhan. Ceramah Ramadhan ini antara  Shalat ‘Isya da Shalat  Tarawih. Penceramah biasanya menyampaikan hikmah-hikmah Shiam Ramadhan,  Zakat, sedekah  dan pentingnya persatuan umat Islam. Para penceramah umumnya intelektual kampus dan pesantren. Dalam ceramah yang singkat ini ditdak dibolehkan melucu, selain  waktu dua shalat, juga tempatnya dalam masjid.

Ceramah Ramadhan, meski singkat namun sangat meresap dalam jiwa umat Islam. Umat mendengar sambil  i’tikaf dalam masjid. Singkat, padat dan berkualitas. Selain ceramah  ba’da ‘Isya tersebut,  ceramah ba’da  Shubuh Ramadhan juga telah menjadi media dakwah yang paling efektif. Di kota-kota besar jamaah shalat Shubuh sama ramainya dengan jamaah shalat Maghrib dan ‘Isya. Ini  fenomena baru zaman now.

Ibnu Rajab Al-Hambali, seorang ulama besar zaman  modern, mengimbau umat Islam untuk tidak menjadikan khilafiah rakaat Tarawih. Sialakan melakukannya menurut keyakinan masing-masing. Tak usah menghabiskan energy untuk membenarkan pihak masing-masing. Menurut beliau, yang namanya khilafiah tak perah selesai. Jadikanlah khilafiah ini sebagai rahmat dari Allah untuk saqling berlomba dalam kebaikan. Wallahu a’lam.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.