Mensyukuri Baitul Makmur

Mensyukuri Baitul Makmur

Gema, 22 Mei 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, di antara keutamaan shalat tarawih pada malam keenam Ramadhan adalah seumpama tawaf di Baitul Makmur.

Baitul Makmur dinyatakan oleh Allah dalam firmanNya, Demi Baitul Ma’mur. Demi atap yang ditinggikan (langit). Demi laut yang di dalam tanahnya ada api,” (Qs. al-Thur: 4 – 6)

Dalam iman Islam, dinyatakan bahwa Baitul Makmur adalah bangunan yang sangat mulia, berada di langit ketujuh, tempat para malaikat beribadah dan tawaf sebagaimana halnya orang-orang beriman di bumi ini juga beribadah dan tawaf di Ka’bah. Oleh karenanya ada ulama yang menyatakan bahwa Baitul Makmur merupakan Ka’bahnya para Malaikat yang berada di langit ke tujuh.

Saat Isra Mi’raj sesampainya di langit ketujuh, Nabi Muhammad yang diantar oleh Jibril bertemu dengan Nabi Ibrahim as dan menyaksikan Baitul Makmur. Ternyata setiap hari Baitul Makmur dikunjungi oleh 70.000 Malaikat untuk melakukan shalat dan tawaf di sana.

Oleh karenanya layak kita mengembangkan sikap syukuri akan keutamaan seumpama beribadah dan tawaf di Baitul Makmur.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa sebagaimana peristiwa Israk Mikraj, bahwa keberadaan Baitul Makmur di lantai ketujuh dengan segala aktivitas ibadah dan tawaf yang dilakukan oleh para malaikatnya merupakan perkara iman dimana hati mesti dikedepankan.

Kedua, bersyukur dengan memperbanyak ucapan alhamdulillahirabbil ‘alamin Allah telah mengaruniakan hambanya untuk mikrajul mukminin melalui shalat fardhu dan tawaf di Baitul Makmur di langit ketujuh sehingga mendapat pengampunan dosa dengan sesungguh-sungguhnya melalui shalat tarawih.

Ketiga, mensyukuri dengan langkah konkret seperti tetap menjalani hidup dan kehidupan ini dengan senantiasa berorientasi pada Allah sebagaimana direpresentasikan pada tawaf mengelilingi Baitul Makmur sat di langit ke tujuh atau di Mekah saat di bumi.

Keempat, meskipun memperoleh keutamaan telah melangit dan tawaf di langit ke tujuh tempat keberadaan Baitul Makdis, namun harus tetap eksis di bumi dengan membawa dan menebar kemaslahatan di bumi.

Kelima, Ka’bah di bumi saja merupakan tempat termulia, teraman, dan tersejahtera di bumi, apalagi Baitul Makmur yang berada di langit. Oleh karenanya etika bagi yang kita memperoleh pengalaman spiritual di Baitul Makmur akan tampil menjadi pribadi-pribadi pilihan

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.