MELIHAT EKSPRESI RAMADHAN DI PERBATASAN ACEH-PULO BANYAK

MELIHAT EKSPRESI RAMADHAN DI PERBATASAN ACEH-PULO BANYAK

GEMA JUMAT, 25 MEI 2018

Oleh : Muhajir Al Fairusy (Peneliti PKPM Aceh dan Mahasiswa Doktoral Antrhopologi UGM)

 Setiap bulan Ramadhan menyapa umat manusia setahun sekali,  dibarengi dengan kemunculan berbagai ekspresi budaya di berbagai belahan dunia menyambutnya. Ragam ritual, tradisi dan kebudayaan lokal telah menjadi ciri khas identitas kelompok Muslim penanda mempersiapkan diri untuk berpuasa selama sebulan penuh nantinya. Tradisi ekspresi menyambut ramadhan menunjukkan apresiasi pada salah satu pilar (rukun) Islam  tersebut, yang dimaknai sebagai bulan paling sakral, penuh muatan filantropi dan dihormati oleh masyarakat Muslim di seluruh penjuru dunia.

Di Aceh sendiri, sebagai salah satu komunitas Muslim dunia menyambut ramadhan dengan tradisi “Meugang,” perayaan makan daging bersama keluarga, kerabat dan di dalamnya ikut memuat nilai filantropi kemanusiaan yang dibungkus dengan konsep berbagi daging pada kelompok rentan secara ekonomi. Suasana serupa juga berlaku  bagi  masyarakat Muslim di perbatasan Aceh Kepulauan Banyak (baca ; Pulo Banyak), Aceh Singkil. Kedatangan ramadhan disambut dengan  beberapa tradisi lokal yang telah menstruktur (habitus) dalam masyarakat setempat. Bahkan, untuk melihat awal waktu masuknya ramadhan, masyarakat setempat pernah menggunakan kearifan lokal (bukan hisab dan rukyat) dengan memanfaatkan tumbuhan tempatan (Pulo ; sarinak) yang memiliki siklus musim berbunga mengikuti peredaran bulan.

Masyarakat Pulo Banyak yang tinggal dan menetap di garis batas perairan laut Aceh dan Sumatera Utara merupakan masyarakat pesisir yang bersifat multikultur dari sisi etnisitas dan agama. Pun demikian, Islam merupakan agama paling dominan yang dianut oleh sebagian besar penduduk setempat. Di sisi lain, dari sisi kultur, pengaruh  nilai dan budaya Melayu dan Minangkabau menjadi pondasi kebudayaan mereka. Dua kondisi ini, amat dipengaruhi oleh jejak historis Pulo Banyak sebagai sebuah kerajaan kecil dulunya yang tunduk di bawah Kerajaan Pagaruyung. Baru kemudian, saat Aceh menjadi provinsi tersendiri, Pulo Banyak dimasukkan sebagai salah satu kawasan Aceh. Kondisi geopolitik ini, mendorong terintegrasinya pengaruh Aceh ke dalam tatanan budaya masyarakat setempat. Diantara pengaruh tersebut seperti adanya lembaga adat Panglima Laot, dan adanya konsep “meugang” dalam konteks menyambut ramadhan. Meskipun, pemaknaan Meugang bagi masyarakat Pulo Banyak sedikit berbeda dengan Meugang yang dipraktikkan oleh masyarakat Aceh pada umumnya.

“Meugang Balimo-limo” Orang Pulo.

Sehari sebelum ramadhan tiba, puluhan robin (sampan kecil bermesin) dan beberapa kapal boat yang biasnya digunakan untuk mengangkut penumpang lintas Singkil-Pulo Banyak, kini difungsikan untuk membawa keluarga, kerabat dan masyarakat menuju ke beberapa pulau kecil yang tersebar di Kepulauan Banyak. Salah satu pulau yang menjadi favorit dikunjungi adalah Pulau Panjang, karena letaknya berdekatan dengan pemukiman penduduk dan termasuk pulau eksotis.  Acara berkumpul bersama diiringi makan dan mandi laut digelar hingga seharian penuh. Menjelang sore dan magrib masyarakat akan kembali ke kampung halaman mereka. Tradisi ini dikenal dengan istilah “balimo-limo” yang juga berkembang di Sumatera Barat. Belakangan, tradisi ini justru dipahami dan diintegrasikan dengan konsep meugang akibat pengaruh sosio-kultur Aceh. Makna meugang bagi masyarakat Pulo Banyak tidak lagi diartikan sebagai hari makan daging seperti di Aceh, melainkan juga diintegrasikan dengan tradisi balimo-limo. Meugang bagi masyarakat setempat merupakan hari makan-makan dan menikmati suasana sebelum ramadhan dengan berkumpul bersama di pulau-pulau kecil.

Sarinak sebagai sarana hisab dan rukyat.

                   Di sisi lain, jika di tempat lain, masyarakat menggunakan  metode hisab atau rukyat untuk melihat awal masuknya  bulan ramadhan. Maka di Pulo Banyak, masyarakat pra-tsunami menggunakan metode lokal dengan berpedoman pada pergantian tanaman khas setempat yang tumbuh di karang  laut, dikenal  dengan nama sarinak. Menurut Mustafa (78 tahun) salah seorang warga lokal, sehari sebelum masuknya ramadhan, maka beberapa orang Pulo akan datang ke tempat tumbuhnya sarinak, menunggu dan memastikan kapan bunga tanaman tersebut mekar. Jika sore hari saat matahari tenggelam mekar, maka dapat dipastikan ramadhan akan terjadi besok hari, mengingat sikluas pemekaran bunga mengikuti peredaran bulan. Namun, sejak pascatsunami, banyak tanaman sarinak hilang, apalagi teknologi seperti televisi dan lainnya telah memudahkan warga mengikuti perkembangan kepastian datangnya ramadhan. Sejak itu, tradisi melihat bunga sarinak mulai ditinggalkan oleh masyarakat.

Ekspresi menyambut ramadhan dan tradisi yang dilakukan selama ramadhan di Aceh, khususnya Pulo Banyak adalah bentuk kekayaan kebudayaan masyarakat Aceh. Mulai dari pusat episentrum Aceh hingga perbatasan. Sebagai penganut Islam terbesar, dan memiliki jejak historis Islam yang begitu kental di Nusantara, maka jejak kebudayaan Islam lokal di Aceh patut terus digali dan didiskusikan untuk mengisi kekayaan khazanah pengetahuan keislaman berbasis kearifan lokal terutama dalam rangka memaknai Islam berbasis kultural oleh kelompok masyarakat tempatan.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.