RAMADHAN MOMENTUM MENGASAH KECERDASAN IMAN SOSIAL DAN PENGABDIAN

RAMADHAN MOMENTUM MENGASAH KECERDASAN IMAN SOSIAL DAN PENGABDIAN

 

GEMA JUMAT, 25 MEI 2018

Dr. K.H. Muharrir Asy’ary, MA, Rektor UNMUHA

Salah satu hikmah yang akan diperoleh dari pelaksanaan ibadah puasa adalah “Membentuk seorang mukmin yang bertaqwa. Namun pertanyaannya adalah apakah taqwa itu? dan apakah karekteristik orang yang bertaqwa? Dan apakah hasil yang akan diperoleh dari sikap taqwa kepada Allah?

Secara umum, taqwa didefinisikan dengan “ menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya”. Afif Addul Fattah Thabbarah mendefinisikan taqwa dengan memberikan ilustrasi bahwa orang yang bertaqwa adalah orang yang menjaga apa yang dapat menyebabkan Allah SWT marah dan apa yang dapat menyebabkan kerusakan dirinya serta merusak orang lain. Abdullah ibnu Mas’ud memberikan gambaran sikap orang yang bertaqwa adalah orang yang selalu mentaati Allah, tidak mendurhakai-Nya, mensyukuri nikmat Allah dan tidak mengingkarinya, dan selalu mengingat Allah dan tidak melupakanNya. Lain halnya Ibnu ‘Abbas, dia menafsirkan ayat, “bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa”; artinya, kata beliau, berjuanglah kamu dengan sebenar-benarnya, jangan takut dicela, dan tegakkanlah keadilan walaupun keadilan itu harus menimpa dirimu, ayahmu dan anak-anakmu”. Dari definisi taqwa dan gambaran tentang sifat taqwa dapat disimpulkan bahwa taqwa adalah sikap taat kepada Allah, Istiqamah dalam menjalankan perintah agama dan komitmen dalam perjuangan membela agama dan mengarungi kehidupan ini.

Marilah kita menyimak al-Qur’an, surat al-Baqarah, ayat 177; yang artinya lebih kurang demikian “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan dan orang-orang yang meminta-minta dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat,menunaikan zakat dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji dan orang-orang yang bersabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang yang bertaqwa.

Ayat tersebut di atas memberikan gambaran secara jelas tentang karakteristik orang yang bertaqwa. Pertama, orang yang bertaqwa adalah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab dan para nabi. Kedua, orang yang bertaqwa adalah yang peduli terhadap masalah sosial, dengan memberikan harta yang dicintainya kepada saudara dekat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, ibnu sabil, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya. Ketiga, orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang menyerahkan dirinya dan mengabdi kepada Allah SWT; yaitu dengan menegakkan shalat, membayar zakat, menepati janji, dan bersabar dalam menghadapi kesempitan, penderitaan dan peperangan. Dengan demikian, jelaslah bahwa orang yang bertaqwa adalah orang yang didalam dirinya terkumpul 3 (tiga) kecerdasan; kecerdasan imannya, kecerdasan sosialnya dan kecerdasan ibadahnya. Untuk itu, janganlah kita terkecoh dengan madzhar (penampilan) untuk mengukur kesolehan seseorang; akan tetapi ukurlah kesolehan seseorang dengan tiga dimensi;  bagaimana keimanannya, bagaimana hubungan sosialnya dan bagaimana ibadah dan pengabdiannya kepada Allah SWT.

Bulan Puasa adalah bulan yang agung, penuh berkah. Di dalamnya, kita dapat mengasah kecerdasan iman kita, kecerdasan sosial kita dan kecerdasan ibadah dan pengabdian kita. Mengasah kecerdasan iman, dengan kita menjalankann ibadah puasa ikhlas semata-mata mencari ridho Allah SWT, bukan pamer, dan ingin dipuji. Rasulallah SAW bersabda “ Barang siapa yang melaksanakan ibadah puasa karena iman dan mencari ridho Allah, maka dia akan diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang “(HR. Bukhari dan Muslim).

Mengasah kecerdasan sosial kita, dengan kita peka terhadap masalah-masalah sosial, terutama memperhatikan fakir miskin, anak-anak yatim yang berada di tengah-tengah kita dan proyek-proyek amal sosial yang ada. Allah SWT berfirman dalam al- Qu’ran, surat al- Munafiqun, ayat 9 -10 ;

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan berikanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang salah. Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah maka mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Mengasah kecerdasan ibadah dan pengabdian kita kepada Allah dengan kita tekun menunaikan shalat lima waktu dengan berjamaah, Qiyamullail, berdzikir, i’tikaf, beristighfar dan bertaubat kepad Allah SWT. Kita menyadari bahwa hidup adalah pengabdian kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam surat al- An’am, ayat 162.

“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah. Tuhan semesta alam”.    

Sidang jamaah yang  dimuliakan Allah:

Sejauhmana dampak ketaqwaan sebagaimana dijanjikan Allah SWT. Allah SWT menjanjikan bahwa taqwa akan memberikan buah dan mamfaat yang besar dalam kehidupan:

  • Taqwa akan dapat melahirkan sikap furqan (pembeda) mana yang hak dan mana yang bakhil dan akan mendapatkan ampunan dari Allah (Al-Qur’an, surat al-Anfal, ayat 20).
  • Penduduk negeri yang beriman dan bertaqwa Allah SWT akan melimpahkan berkah dari langit dan dunia ini.
  • Orang yang bertaqwa akan mendaptkan jalan keluar dari kesulitan yang dihadapinya dan mendapatkan rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka dan menndpatkan kemudahan dari urusannya. (Al-Qur’an, surat at-Talaq, 3 – 4).

Jadikanlah, bulan ramadan ini momentum untuk kita melatih diri menjadi orang yang bertaqwa; cerdas imannya, cerdas kepekaan sosialnya dan cerdas ibadahnya. Kita berdoa semoga Allah tetap memberikan kekuatan dan kesehatan sehingga dapat menyelesaikan ibadah puasa yang baik dan sukses meraih gelar muttaqin”.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.