Memperingati Nuzul Quran

Memperingati Nuzul Quran

GEMA JUMAT, 1 JUNI 2018

Hari ini, Rabu (30/5) tercatat hari ke 14 bulan puasa Ramadhan 2018. Tak terasa, sebentar lagi umat Islam bakal memperingati sebuah momen bersejarah dalam Islam, yaitu turunnya kitab suci Alquran atau yang biasa disebut sebagai Nuzulul Qur’an.

Peristiwa Nuzul Quran

Peristiwa penting ini diperingati tiap 17 Ramadhan. Sebagaimana dikutip dari NU Online, ada tiga teori yang menjelaskan tentang Nuzulul Qur’an.

Teori pertama, pada malam lailatul qadar, Alquran dalam jumlah dan bentuk yang utuh dan komplit diturunkan ke langit dunia (sama’ al-dunnya).

Setelah itu, dari langit dunia, Alquran diturunkan ke bumi secara bertahap sesuai kebutuhan selama 20, 23 hingga 25 tahun.

Teori kedua, Alquran diturunkan ke langit dunia selama 20 malam Lailatul Qadar dalam 20 tahun (lailatul qadar hanya turun sekali dalam setahun). Setelah itu dibacakan kepada Nabi Muhammad SAW sesuai kebutuhan.

Teori ketiga, Alquran turun pertama kali pada malam lailatul qadar.

Selanjutnya, alquran diturunkan ke bumi secara bertahap dalam waktu berbeda-beda.

Teori pertama paling masyhur (populer) dan didukung banyak ulama. Teori ini diperkuat oleh banyak hadis sahih.Teori kedua dipelopori oleh al-Muqatil dan Abu Abdillah al-Halimi dalam kitab Minhaj. Juga al-Mawardi dalam tafsirnya.

Teori ketiga dikemukakan oleh al-Sya’bi, dan kawan-kawan. Semua teori sepakat Alquran “diturunkan” (munazzal) pada malam lailatul qadar.

Hanya saja, para ulama berbeda pendapat, apakah ia diturunkan sekali dalam lailatul qadar atau lebih.

Masing-masing ulama juga berbeda pendapat soal apa makna “alinzal” dan bagaimana proses “alinzal” berlangsung. Pendapat yang pertama mengatakan, “al-inzal” adalah “al-idzhar”, yaitu ”melahirkan”, “menjelaskan”, menghadirkan” atau “memperlihatkan”. Jadi, posisinya tidak harus dari ketinggian (langit) menuju tempat rendah (bumi) seperti terkandung
pada kata “nazala”.

Pendapat kedua, Allah SWT memberikan pemahaman kepada Malaikat Jibril yang ketika itu berada di langit. Kemudian Jibril turun ke bumi menyampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Karena itu, pilihan katanya adalah “nazala.”

Lantas, bagaimana proses komunikasi antara Jibril dan Nabi Muhammad SAW berlangsung? Mengingat keduanya bukan dari jenis makhluk yang sama.

Para ulama memberikan dua kemungkinan: Jibril beralih rupa menjadi manusia, atau sebaliknya.

Pertanyaan selanjutnya, “Al- Qur’an” seperti apakah yang diturunkan kepada Jibril dan dibacakan kepada Nabi Muhammad
SAW? Ada tiga teori.

Pertama, Al-Qur’an diturunkan kepada Jibril lafdzan wa ma’nan (kata dan maknanya secara sekaligus).

Penjelasannya begini, Jibril menghapal Al-Qur’an yang tertulis dalam lauhul mahfudz (tablet yang terjaga), kemudian dibacakan ulang kepada Nabi Muhammad SAW.

Menurut teori ini, ukuran setiap huruf di lauhul mahfudz sebesar Gunung Qaf. Di bawah huruf-huruf itu ada maknanya masing-masing yang hanya diketahui Allah SWT.

Kedua, Jibril membacakan Alquran kepada Nabi Muhammad SAW menggunakan makna khusus. Selanjutnya Nabi Muhammad SAW menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab.

Ketiga, Jibril hanya menyampaikan “makna” Alquran. Selanjutnya, agar Alquran dipahami audiensnya, Nabi Muhammad SAW “membungkusnya” dengan bahasa Arab. Sementara itu, bagaimanakah Nabi Muhammad memperingati Nuzulul Quran?

Dilansir dari Tribun Sumsel, Alquran diturunkan utuh dari Lauhul Mahfuzh di langit ketujuh menuju Baitul Izzah di langit dunia.

“Bulan Ramadhan, bulan yang di padanya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (Qs. Al Baqarah: 185)

Nabi Peringati Nuzul Quran?
Sebagaimana dilansir dari Tribun Sumsel dari Muslim.or.id, banyak umat islam yang memperingati hari nuzulul Quran yang jatuh pada 17 Ramadhan dengan banyak cara, baik itu berupa pengajian umum ataupun menggelar acara bertemakan agama dengan membuat ceramah akbar dan lainnya.

Tentu lebih baik menjadi sebuah rujukan mengenai bagaimana cara Nabi Muhammad memperingati Nuzul Quran?

Sahabat Nabi Muhammad, Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu menuturkan tentang apa yang beliau lakukan.

“Dahulu Malaikat Jibril senantiasa menjumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap malam Ramadhan, dan selanjutnya ia membaca Al Qur’an bersamanya.” (Riwayat Al Bukhari)

Demikianlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermudarasah, membaca Al Qur’an bersama Malaikat Jibril alaihissalam di luar shalat.

Ternyata itu belum cukup bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau masih merasa perlu untukmembaca Al Qur’an dalam shalatnya. Anda ingin tahu, seberapa banyak dan seberapa lama beliau membaca Al Qur’an dalam shalatnya?

Berdasarkan penguturan sahabat Huzaifah radhiallahu ‘anhu tentang pengalaman beliau shalat tarawih bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Pada suatu malam di bulan Ramadhan, aku shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam bilik yang terbuat dari pelepah kurma. Beliau memulai shalatnya dengan membaca takbir, selanjutnya beliau membaca doa:

Selanjutnya beliau mulai membaca surat Al Baqarah, saya pun mengira bahwa beliau akan berhenti pada ayat ke-100, ternyata beliau terus membaca.

Saya pun kembali mengira: beliau akan berhenti pada ayat ke- 200, ternyata beliau terus membaca hingga akhir Al Baqarah dan terus menyambungnya dengan surat Ali Imran hingga akhir.

Kemudian beliau menyambungnya lagi dengan surat An Nisa’ hingga akhir surat.

Setiap kali beliau melewati ayat yang mengandung hal-hal yang menakutkan, beliau berhenti sejenak untuk berdoa memohon perlindungan.

Sejak usai dari shalat Isya’ pada awal malam hingga akhir malam,
di saat Bilal memberi tahu beliau bahwa waktu shalat subuh telah tiba beliau hanya shalat empat rakaat.” (Riwayat Ahmad, dan Al Hakim)

Demikianlah cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingati turunnya Alquran pada bulan Ramadhan, membaca penuh dengan penghayatan akan maknanya.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.