RAMADHAN, BULAN MUHASABAH DIRI MENUJU SARJANA TAQWA

RAMADHAN, BULAN MUHASABAH DIRI MENUJU SARJANA TAQWA

GEMA JUMAT, 1 JUNI 2018

Tidak terasa bulan suci ramadhan telah hadir menyapa Umat Islam di seluruh dunia. Sudah pasti rasa senang dan gembira dirasakan oleh Umat Islam di seluruh dunia. Hal ini senada dengan Hadis Rasulullah: “Barang siapa yang berpuasa dengan iman dan penuh kesungguhan makan akan Allah hapus dosa-dosa yang telah lalu”, dan juga di dalam Hadis yang lain: “Barang siapa yang senang dengan datangnya bulan ramadhan, maka diharamkan jasadnya masuk ke dalam api neraka”. Masih banyak lagi dalil yang menerangkan kelebihan bagi orang yang senang dan gembira menyambut bulan suci ramadhan.

Alhamdulillah Allah swt masih memberikan kesempatan umtuk kita menghirup udara di Bulan Ramadhan yang penuh barakah ini. Dimana setiap ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah akan Allah lipat gandakan pahalanya, oleh karena itu marilah kita sama-sama memanfaatkan bulan suci ini sebagai momentum intropeksi diri untuk menjadi insan yang ta’at pada Allah swt.  Semua orang dapat merasakan bulan ramadhan, akan tetapi tidak semua orang mendapatkan gelar S.T (SARJANA TAQWA), sudah tentu kita harus bersungguh-sungguh menjalankan segala aturan yang telah ditetapkan oleh Allah swt selama bulan ramadhan. Agar tujuan akhir yaitu Taqwa dapat kita raih bersama.

Bulan ramadhan, bulan dimana kita wajib bersungguh-sungguh menampilkan ciri keislaman seseorang. Tentu saja ciri keislaman tidak hanya identik dengan penampilan luar semata, yang paling penting adalah ritual bathin atau ruhaniyah yang semestinya diperbanyak Selama bulan Ramadhan. Hakikat esensi pada puasa adalah menghilangkan sifat-sifat buruk yang ada di tubuh manusia, mungkin selama 11 bulan kita kurang ber-taqarrub kepada Allah, dan kurang dalam melaksanakan ibadah-ibadah yang sunnah serta banyaknya dosa yang kita perbuat, karena sebagaimana di dalam Hadis dijelaskan: “setiap anak adam melakukan dosa dan kesalahan dan sebaik-baik dosa yang kita kerjakan, taubat kepada Allah swt.” Bisa jadi karena hal demikian, Allah swt yang Maha pengasih lagi Maha penyayang menjadikan satu bulan agar manusia dapat memperbaiki itu semua yaitu bulan ramadhan.

Pada saat bulan ramadhan, rutinitas yang harus diperbanyak adalah intropeksi diri atau dalam Islam dikenal dengan Muhasabah al-Nafs. Intropeksi diri berarti mengingat kesalahan-kesalahan baik terhadap sesama manusia maupun dengan sang Khaliq, kekurangan, ataupun hal yang tidak baik yang ada pada diri kita. Tujuan utama dari intropeksi diri tersebut adalah agar diri kita dapat menjadi lebih baik lagi dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat sebelumnya. Sehingga dengan intropeksi ini dapat menjadikan karakter muslim yang sempurna. Karena esensi utama bulan ramadhan ini adalah agar menjadi orang yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah swt, dalam surat al-Baqarah 183:

wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa

Diujung ayat tersebut Allah jelaskan tujuan berpuasa agar menjadi orang yang bertakwa. Taqwa berarti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Tanda seseorang sudah bergelar taqwa bukanlah dari atribut yang dikenakan dan sebagainya, akan tetapi tanda seseorang sudah bertaqwa adalah sikap yang baik dan terpuji terhadap sesama manusia dan terutama hubungan horizontal kepada Allah swt. Tanda berikutnya, jika seseorang tersebut pada bulan lain ibadahnya biasa saja, namun pada saat ramadhan hingga seterusnya seseorang tersebut dapat meningkatkan ibadah secara signifikan secara istiqamah. Ciri yang lain, menghilangkan perbuatan buruk dan istiqamah dengan perbuatan terpuji. Gelar taqwa pada seseorang dapat dilihat bukan pada saat bulan ramadhan, akan tetapi pada saat ramadhan telah berakhir. Apakah seseorang konsisten atau istiqamah dengan perubahan baiknya atau sebaliknya hanya berlaku pada bulan ramadhan saja, maka jika seperti ini puasa yang dikerjakan sia-sia, tidak lah yang didapat kecuali hanya haus dan lapar, hal ini senada dengan sabda Rasul: “berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya haus dan lapar”.

Hadis tersebut menjelaskan bahwa berapa banyak Muslim yang berpuasa akan tetapi tidak ada bekasan ramadhan pada dirinya, sehingga ketika berakhirnya ramadhan maka sifat buruk yang ada pada diri seseorang tidak hilang. Maka seseorang ini tergolong kepada orang-orang yang rugi. Maka oleh karena itu marilah kita sama-sama memanfaatkan momen ramadhan sebagai bulan intropeksi diri (muhasabah al-Nafs) serta memperbanyak amalan-amalan sunnah, dan mempertahankan amalan-amalan wajib, sehingga berakhirnya ramadhan kita menjadi insan yang ta’at kepada Allah swt sehingga dapat meraih gelar Sarjana Taqwa yang akan diwisudakan pada tanggal 1 syawal.

Muhammad Iqbal Ibnu Wahab, S.Ud,  Mahasiswa Magister Ilmu Al-Quran dan Tafsir PASCASARJANA UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Wakil Ketua LPPDSDM BKPRMI Banda Aceh, Pengajar di Ma’had Daarut Tahfidh Al-Ikhlas

 

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.