Mensyukuri Deklarasi Peradaban

Mensyukuri Deklarasi Peradaban

Gema, 03 Juni 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 18 Ramadhan 1439

Mensyukuri Deklarasi Peradaban
Saudaraku, Muhammad al-Amin tersentak dari kekhusyukan uzlahnya dengan hadirnya Malaikat Jibril yang menyampaikan titah Allah atasnya. Iqra’, iqra’, iqra’ ya Muhammad! Bacalah! Bacalah! Bacalah ya Muhammad. Titah inilah yang ternyata mengawali 30 juz atau 114 surat firman Allah yang kemudian dikenal dengan al-Qur’an al-Karim.

Titah iqra’ benar-benar merupakan deklarasi peradaban. Oleh karenanya mengapa iqra’ diulang tiga kali. Pertama, iqra’ ontologis adalah tuntutan membaca dan mencermati segala yang ada yang kasat mata. Kedua, iqra epistemologis adalah tuntutan membaca segala ilmu. Ketiga, iqra’ aksiologis adalah tuntutan membaca sampai merengkuh hakikat dan nilai yang dapat mendatangkan kemaslahatan seluas-luasnya.

Saudaraku, coba ingatlah, dari sebelumnya yang dikenal dengan masyarakat Arab jahiliyah, berubah 180 derajad lalu menjadi pusat dan sumber peradaban yang religius setelah proses pembacaan kreatif atas al-Qur’an dikukuhkan dalam kehidupannya. Dan kemudian diikuti oleh masyarakat dan bangsa lainnya di berbagai penjuru bumi, seperti di Damaskus Syiria, Bagdad Irak, Mesir, Andalusia, Turki di Eropa, Persia Iran, India, Aceh Nusantara dan seterusnya.

Mencermati peradaban yang pernah ada, secara umum baru berkembang dengan pesat setelah dikenal adanya budaya membaca menulis. Inilah makanya turunnya wahyu pertama dalam Islam merupakan deklarasi peradaban. Simaklah firman Allah, Bacalah, dengan (menyebut) nama Rabbmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmu lah Yang Mahamulia, yang mengajar manusia dengan pena, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (Qs. Al-Alaq 1-5)

Di samping gerakan pembebasan dari buta huruf, indikasi penguat deklarasi peradaban dengan turunnya al-Qur’an, di antaranya juga dapat cermati pada beberapa hal. Pertama, pembebasan dari kemusyrikan yang sebelumnya merebak di masyarakat jahiliyah Arab. Allah sebagai satu-satunya zat yang pantas disembah, ditaati dan dicintai mulai diperkenalkan kembali.

Kedua, penbebasan dari perilaku amoral, seperti perang antarsuku, praktik riba, pembunuhan anak-anak perempuan, pesta minuman keras dan perilaku tercela lainnya.

Ketiga, pembebasan kehidupan sosial kemasyarakatan dan budaya dari unsur-unsur kejahiliyahan. Teologi pembebasan harus efektif membentengi dan membersihkan anasir kejahiliyahan yang (mungkin saja) masih terjadi dalam praktik kehidupan sehari-hari. Gerakan ini mengakomodir dan menjamin kehidupan ekonomi, politik, sosial, budaya, agama steril dari unsur-unsur destruktif, manipulatif, dan hal-hal yang kontra produktif lainnya. Langkah ini dimulai dari masing-masing individu, lalu keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Oleh karenanya layak bagi kita mengingat kembali tentang akhlak mensyukuri terdeklarasinya peradaban dengan turunnya ak-Qur’an

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa hanya dengan pembacaan kreatif atas al-Qur’an peradaban dapat ditegakkan.

Kedua, mengucapkan alhamdulillahirabbil ‘alamin kita dianugrahi kemampuan baca tulis sehingga ditinggikan derajat kemanusiaan kita, lantaran dengan baca tulis kita bisa belajar, lalu bisa meneguhkan keyakinan, dan berislam secara sempurna.

Ketiga, mensyukuri dengan langkah konkret. Di antaranya dengan meluruskan niat membaca dan menulis hanya untuk ibadah, sehingga memperoleh keridhaanNya. Dengan niat ibadah, maka kita hanya akan membaca dan menulis yang baik-baik saja. Di samping itu, membaca atau mengawali aktivitas apapun hanya dengan nama Allah, karena Allah, dan untuk Allah.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.