Mensyukuri Itqu Minannar

Mensyukuri Itqu Minannar

Gema, 04 Juni 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 20 Ramadhan 1439

Saudaraku, sudah sangat populis diketahui bahwa Ramadhan itu bulan yang agung, awalnya rahmat (bulan karunia), kini sudah hari ke-20 penghujung maghfirah (bulan ampunan) atau bahkan sudah memasuki fase itqu minannar (terbebas dari api neraka).

Bila tahapan-tahapan tersebut dipahami seperti tangga, maka saat sudah di tahap/tangga maghfirah berarti telah berlalu dari fase rahmat dan belum sampai di tahap/tangga itqu minannar. Padahal kita meyakini bahwa selama bulan Ramadhan bahkan juga bulan lainnya, rahmat, ampunan, dan kasih sayang Allah membebaskan hambaNya dari siksa neraka senantiasa tercurahkan kapanpun, di manapun, untuk siapapun yang dikehendakiNya.

Bukankah semua tahapan itu saling terjalin berkelindan menjadi kesatuan sistemik yang padu atas keagungan bulan Ramadhan. Tidak ada yang terpisah dan ditinggalkan, demikian juga tidak ada yang belum layak untuk ditunaikan. Meskipun sekarang sudah di fase itqu minannar, bukankah rahmat/ragam karunia Allah senantiasa kita rasakan. Demikian juga ampunan Allah selalu melimpah atas hamba-hambaNya yang kembali (taba – yatubu – taubatan) kepadaNya.

Dan kini di sepertiga terakhir Ramadhan dengan kemurahanNya, Allah menyediakan fasilitas bagi hamba-hambaNya untuk keluar dari keterpurukan, keluar dari situasi dan kondisi yang carut marut sehingga dapat terhindar dari kengerian hidup dalam ‘panasnya api neraka’ baik saat di dunia ini apalagi saat di akhirat nanti.

Oleh karena itu, sudah seharusnya kita mengembangkan sikap berterima kasih pada Allah atas terbebasnya hidup dari sengsara api neraka.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa surga dan terbebasnya dari neraka merupakan cita cinta seluruh hamba-hamba pilihanNya.

Kedua, memperbanyak ucapan alhamdulillahirabbil’alamin karena Allah masih senantiasa menberi hidayah, menunjuki mana jalan yang salah dan mana yang benar serta memberinya kekuatan untuk melaksanakan yang baik dan meninggalkan yang tidak baik.

Ketiga, melakukan langkah-langkah konkret, seperti beramal apa saja yang dapat menghantarkan ke kehidupan surga sekaligus menjauhi seluruh perbuatan tercela sehingga dapat terhindar dari panasnya api neraka.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.