Mensyukuri Lailatul Qadar

Mensyukuri Lailatul Qadar

Gema, 06 Juni 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 21 Ramadhan 1439

Saudaraku, apakah malam hari ini adalah lailatul qadar? Pertanyaan ini layak diajukan, meskipun saya yakin tidak mudah menjawabnya. Benar memang, malam ini bukan saja malam ganjil yaitu malam ke-21 fase itqu minannar di sepertiga terakhir Ramadhan 1439, tetapi juga kedamaian alamiah dan suasana batinnya serba meliputi.

Namun bagaimana cara memastikan kehadirannya? Apa kita harus menunggu atau mengintip kejadian-kejadian yang luar biasa atau kita mulai membuat perencanaan bermartabat setahun, lima tahun, dua puluh lima tahun ke depan, seribu bulan ke depan, lalu mewujudkannya dalam keseharian kita. Subyektif saya kok mengatakan bahwa lebih baik kita memilih alternatif kedua daripada menunggu dan menunggu alternatif pertama yang kehadirannya justru di luar jangkauan kemampuan kita sebagai hamba.

Oleh karenanya, saat setelah memenuhi malam ini dengan aktivitas ibadah seperti buka puasa (bersama dan menyantuni fakir miskin), shalat (wajib dan sunnat), banyak berzikir, banyak berdoa, tilawah, tadarus, membaca buku atau mengerjakan aktivitas bermakna lainnya teruslah istiqamah melakukannya sembari berpikir dan menentukan rencana untuk meraih hidup yang bermartabat kini dan masa yang akan datang.

Bagi sadaraku yang sudah menemukan dan menyusun rencana brilian untuk hidup bermartabat, maka teruslah istiqamah berdoa agar Allah memudahkan cara merealisasikannya, melapangkan jalannya, mendekatkan bila masih jauh, menurunkan bila masih di langit, mengeluarkan bila masih di perut bumi dan kita dianugrahi hati yang senantiasa bersyukur.

Begitu juga bagi saudaraku yang belum menyusun rencana apa-apa, nasibnya masih tak ada perubahan ke arah yang baik, atau malah belum mendapat sesempurna hidayah, hendaknya tidak berputus asa terhadap rahmat Allah. Tetapi justru harus istiqamah dalam ketaatan, dalam bermunajat, dan atau segera kembali ke jalan yang diridhai olehNya. Jadikan malam atau saat ini, hari ini, Ramadhan tahun ini menjadi kilas balik dan awal dari keberuntungan hidup kita sekarang dan seterusnya. Bila ini dapat dilakukan, saya pikir kemuliaan lailatul qadar bukan hanya impian tetapi sudah mulai menjadi kenyataan. Karena pesan krusial lailatul qadar adalah kebaikan yang menyelimuti hati sehingga mendapatkan keberkahan hidup melebihi seribu bulan.

Nabi Muhammad saw mendapatkannya setelah sampai pada puncak ketaatannya pada hari kesekian Ramadhan (malam ketujuh belas atau malam-malam sepertiga terakhir Ramadan), maka prosesnya kemudian semestinya mendapat atensi memadahi karena menjadi wasilah utama bagi sesiapa yang ingin mengikuti jejak Baginda. Dengan demikian kemuliaan lailatul qadar itu sejatinya natijah atau hasil atau perolehan atau capaian. Dan tidak berdiri sendiri, atau muncul tiba-tiba tetapi terjalin berkelindan dan sangat terkait dengan proses meraihnya yang boleh jadi panjang masa sebelumnya.

Saat berbicara tentang proses meraih lailatul qadar tentu diperlukan usaha atau amaliyah. Dan amal yang dilakukan tentu harus didasari oleh ilmu. Dan ilmu yang shalih tentu didasari oleh iman yang kukuh.

Bila diperhatikan semua proses yang dilakukan untuk memperoleh kemuliaan lailatul qadar adalah bermuara pada hati. Oleh karena itu perolehannya juga bermula di hati; hatinya hanya diliputi dengan kedamaian yang sempurna sehingga tidak tersedia lagi ruang di hatinya untuk sekecil apapun kebencian, dendam, iri hati apalagi kesombongan. Maka dari orang yang memperoleh kemuliaan lailatul qadar hanya memantulkan kebaikan dan keberkahan yang dapat dirasakan bukan saja diri dan keluarganya, tetapi juga sesama dan lingkungan sekitarnya. Kehadirannya dinanti-nantikan, kebersamaannya mendatangkan kemaslahatan, bahkan kepergiannya atau ketidakhadirannya dapat menginspirasi kebajikan.

Itulah mengapa dalam proses meraihnya, Rasulullah Nabi Muhammad saw selalu uzlah, berkhalwat (baca juga iktikaf di masjid) menyepi mengosongkan hati dari selain mengingatNya di Gua Hira, Nabi Musa bersimpuh takdhim di bukit Tursina dan para auliya juga menghibahkan hatinya hanya untuk mengingat Allah semata di tempat-tempat suci.

Oleh karena itu kita sudah seharusnya mensyukuri keberkahan lailatul qadar yang Allah sediakan.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa lailatul qadar itu peluang yang disediakan oleh Allah atas hamba-hamba pilihanNya.

Kedua, memperbanyak ucapan syukur alhamdulillahirabbil ‘alamin atas segala karuniaNya yang tercurah atas kita. Apalagi terbuka luas untuk memperoleh kemuliaan lailatul qadar.

Ketiga, melakukan langkah konkret. Mari mulai mencari dan menemukan lailatul qadar di hati sanubari sendiri. Kita kosongkan hati dari selain mengingat Allah, membuka hati agar disinari oleh kedamaian bersamaNya, memenuhi dengan ilham kebajikan sehingga tidak tersisa lagi bagi ilham kejahatan sedikitpun. Lalu kita berusaha membuktikan dengan memberikan keberkahan ini kepada anak, istri atau suami, orangtua, guru, anak didik, handai taulan atau sesiapapun dalam jangkauan kehidupan kita.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.