Mensyukuri Keberkahan Lailatul Qadar

Mensyukuri Keberkahan Lailatul Qadar

Gema, 07 Juni 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, mari kita meyakinkan diri kita masing-masing bahwa ibadah Ramadhan dengan serangkaian shiyamu wa qiyamu ramadhan dengan segenap amalan pendukungnya kali ini telah mengantarkan diri kita memperoleh keberkahan lailat al-qadar.

Tetapi, maaf, sebaiknya menjadi privasi dan internal saja, tidak elok dibilang-bilang diberitahukan ke sesamanya, apalagi diumumkan; biarlah hanya Allah dan para malaikatNya saja yang menjadi saksi. Bila belum yakin mendapat keberkahan lailatul qadar juga, maka cobalah mulai saat ini; pegang dan dekapkan kedua tangan kita di dada seraya katakan dalam hati “sekarang saya memperoleh keberkahan lailatul qadar”. Setelah yakin, maka kita mulai tahap pengukuhan kemuliaannya dalam kehidupan.

Adapun yang penting harus dilakukan kemudian adalah memulai mengimplementasikan dan meneguhkan nilai-nilai kemuliaan dan keberkahan lailatul qadar dalam setiap desah nafas, dalam setiap niat yang terpatri, pada semua langkah kaki, dalam senua tutur kata, dalam semua status, dan dalam semua perilaku sehari-hari sampai terasa kebahagiaannya.

Secara praktis dalam rutinitas hidup, setelah istirahat tadi malam dengan diawali bismikallahumma ahya wabismika amuut barang sejenak, bangun tidur alhamdulillahilladzi ahyana bakdama amatana wa ilaihi nusur di dini hari bersambung iktikaf atau bermunajad bersimpuh di atas sajadah, sahur bersama kesederhanaannya, shalat dan subuhan berjamaah, zikir, tilawah dan seterusnya, kita songsong hari-hari cerah mencerahkan ke depan dengan ghirah ilahiyah, sehingga terus menjadi dan menjadi lebih baik, lebih bermartabat, lebih memberi maslahat ke umat, nenjadi lebih taat, menjadi lebih sabar, menjadi lebih bijaksana, menjadi lebih ikhlas, menjadi lebih istiqamah, dan menjadi lebih bijak.

Oleh karena itu sudah seharusnya kita mensyukuri kebekahan lailatul qadar.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa kemuliaan dan keberkahan lailatul qadar adalah karunia besar yang disediakan oleh Allah dan diraih oleh hamba-hamba pilihanNya saja, yaitu hamba-hambaNya yang mau saja dilihat dari kesungguhan ibadah dari jauh sebelum ramadhan tiba dan pada setiap malam dan harinya.

Bila setiap ramadhan, kita memperoleh keberkahan lailatul qadar, maka tinggal dihitung saja berapa kali ramadhan menjadi saksi atas ibadah kita, sehingga usia umat Nabi Muhamnad secara substantif menjadi sangat panjang sebagaimana umat-umat sebelumnya.

Kedua, memperbanyak memuji Allah dengan mengucapkan alhamdulillahirabbil ‘alamin, Allah senantiasa mencurahkan karuniaNya kepada kita; karunia Islam, karunia iman, karunia sehat wa afiat, karunia kesempatan dan kekuatan untuk tetap istiqamah dalam ibadah.

Ketiga, mensyukuri keberkahan lailatul qadar dengan langkah konkret dan berperilaku nyata seperti berkata hanya yang baik-baik saja, berlaku hanya yang shalih-shalih saja, mengajak hanya kepada yang makruf saja, dan beraktivitas apapun hanya dalam rangka mendekatkan diri pada Allah swt.P+p

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.