Dampak Zakat Produktif

Dampak Zakat Produktif

GEMA JUMAT, 8 JUNI 2018

Perintah membayar zakat sering Allah sebutkan bergandengan dengan perintah shalat dalam Alquran. Sedikitnya ada 24 tempat ayat Alquran menyebutnya. Artinya, perintah berzakat dengan shalat serta rukun Islam lainnya memiliki kedudukan yang sama.

Seperti dalam Alquran Surah Albaqarah Allah berfiman:“Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS Al-Baqarah [2]: 43).

Selanjutnya dalam ayat lain juga disebutkan: “Dan dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Baqarah [2]: 110).

Zakat secara etimologi berarti bersih, suci , subur, berkah dan berkembang.  Secara terminologi zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan apabila telah memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan oleh agama, dan disalurkan kepada orang-orang yang telah ditentukan pula, yaitu delapan golongan orang yang berhak menerima zakat.

Salah satu intrumen zakat yaitu untuk pemberdayaan umat. Zakat diharapkan mampu mentransformasikan seorang mustahik (yang berhak menerima zakat) menjadi muzaki (yang sudah berkewajiban membayar zakat).

Untuk mewujudkan harapan tersebut tentu berpengaruh besar pada pengelolaan zakat itu sendiri. Dalam pengelolaan zakat sejatinya perlu memperbanyak program-progam dalam bentuk produktif. Artinya mustahik diberikan bantuan yang tidak habis pakai. Mengutip penyataan Prof Al Yasa Abu Bakar, mereka jangan diberikan ikan (konsumtif) melainkan pancing (produktif).

Baitul Mal Aceh dan Kabupaten/Kota misalnya memiliki beberapa program produktif. Program-progam tersebut dikemas dalam beberapan bentuk, ada dalam bentuk beasiswa, pelatihan life skill, pemberian modal usaha, serta pemberdayaan Baitul Mal Gampong (BMG).

Baitul Mal Aceh sejak 2012 telah menganggarkan dana miliaran rupiah untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui BMG. Tahun 2016, Baitul Mal Aceh membantu 20 BMG. Setiap BMG diberikan dana sebesar 30 juta. Sedangkan pada tahun 2017 hanya diberikan untuk 10 gampong, namun dananya ditambah menjadi 50 juta rupiah per gampong.

Hingga 2017 Baitul Mal Aceh telah membantu 74 gampong dalam program Bantuan Modal Usaha Untuk Masyarakat Miskin Melalui Baitul Mal Gampong. Program ini dirancang untuk pemberdayaan masyarakat miskin yang memiliki potensi usaha, namun tidak memiliki modal. Lebih diutamakan lagi gampong yang memiliki ciri khas produk yang bisa dikembangkan untuk dijadikan unit usaha milik gampong.

Desa-desa yang telah dibantu Baitul Mal Aceh memiliki keberagaman jenis usaha, di antaranya; budidaya nilam, jahe, penggemukan sapi, ternak kamping, dan beberapa usaha lainnya. Bahkan untuk masyarakat Arongan Lambalek, Aceh Barat, Baitul Mal Aceh pernah memberikan bantuan alat kerja pengolahan eceng gondok untuk menghasilkan kerajinan.

Data  Baitul Mal Aceh menunjukkan, pendapatan mereka meningkat dari biasanya. Hal tersebut merupakan sebagai bukti bahwa pemberdayaan dana zakat dengan cara produktif memberi hasil nyata dibandingkan memberikan bantuan konsumtif.

Program produktif lainnya untuk jangka panjang adalah beasiswa. Baitul Mal Aceh setiap tahun menngelontorkan dana zakat untuk beasiswa putra-putri Aceh, baik melalui program Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS) maupun beasiswa penuh tahfiz.

Keduanya memiliki hubungan erat, di mana generasi muda harus mampu bersaing tingkat global, di sisi lain mereka juga memiliki pondasi agama yang kuat. Sehingga pakar-pakar dari berbagai disiplin ilmu diisi oleh sarjana-sarjana muslim yang kokoh dari segi aqidah.  Smh/Hayatullah Pasee

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.