Mengakali Syariat Puasa

Mengakali Syariat Puasa

GEMA JUMAT, 8 JUNI 2018

Maksud dari kata mengakali lebih kepada upaya manusia untuk mencari sebab-sebab sesuatu sesuai dengan kemampuan pengetahuan yang mungkin dijangkaunya. Dikarenakan manusia adalah makhluk ingin tahu terhadap segala sesuatu, maka tentu saja ia ingin mengetahui hakikat serta sebab segala sesuatu, termasuk masalah ibadah syariat seperti puasa Ramadhan.

Sebagaimana amalan ibadah-ibadah lainnya, ibadah puasa juga mengandung sejumlah pertanyaan-pertanyaan filosofis yang  belum tentu ditemukan jawaban benar seratus persen. Misalnya, kenapa Allah Swt mewajibkan kita berpuasa? Kenapa mesti bepuasa di bulan Ramadhan tidak pada bulan lainnya? Kenapa mesti sebulan tidak lebih atau kurang? Apa sebab harus ada keringanan, sehingga bisa berpuasa pada hari lain (qadha) bagi orang sakit, musafir atau wanita yang berhalangan?

Tentu saja kalau kita lihat sekilas pertanyaan ini mengarah kepada pertanyaan fiqh. Namun tulisan ini bukan bertujuan menjawab pertanyaan fiqh tersebut, tapi lebih kepada upaya akal manusia menjawab sejumlah pertanyaan demi memuaskan dan menyempurkan jiwanya.

Bila kita ingin menjawab dengan kacamata fiqh, tentu saja kita akan mengatakan bahwa kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan merupakan perintah Allah taala yang termaktub di dalam kitab suci Al-quran. Selain nas Al-quran, banyak sekali riwayat-riwayat dari Rasulullah saw tentang amalan puasa Ramadhan, baik berupa fadhilahnya, syarat-syarat sah dan batalnya serta tata caranya. Ulama-ulama fiqh juga sudah sedemikian detail menuliskan kitab-kitab tentang ibadah puasa.

Namun bila kita ingin melihat jawaban tersebut secara logis argumentatif belum tentu bisa kita yakini 100 persen. Arti yakin yang dimaksud disini adalah keyakinan pasti yang tidak bisa berubah, walau jin dan manusia bersekutu ingin mengubahnya. Seperti kebenaran bahwa besi akan meleleh ketika dibakar pada  tingkat kepanasan tententu, atau kebenaran bahwa alam ini tidak kekal, atau keyakinan seperti satu tambah satu sama dengan dua, dan seterusnya.

Para ahli hikmat membagi objek bahasan ilmu pengetahuan kepada dua hal, pertama, kepada sesuatu yang keberadaannya bukan hasil usaha manusia (nazari), dan kedua kepada sesuatu yang keberadaannya berasal dari usaha manusia (amali). Bagian pertama (nazari) ini merupakan lapangan bahasannya para filsuf, karena ia berusaha mencari sebab dan hakikat  keberadaannya. Keberadaan Allah taala, keberadaan bumi,  langit, planet dan bintang-bintang di alam ini bukan dari hasil dari usaha manusia. Namun manusia sejak lahir melihat dan mengetahui bahwa segala sesuatu itu sudah ada, tanpa campur tangannya.

Sedangkan bagian kedua (amali) adalah amalan-amalan yang ada dalam syariat dan termaktub dalam kitab suci dan riwayat para nabi. Artinya, shalat, puasa Ramadhan, zakat, sedekah, zikir dan amalan-amalan lainnya merupakan amalan yang keberadaannya, karena kita sendiri berusaha mengadakannya. Puasa, shalat dan ibadah lainnya itu ada, karena kita melaksanakannya dengan usaha kita sendiri, bukan ada karena  sendirinya.

Mengingat semua amalan itu merupakan amaran dan perintah Allah taala, maka sudah tentu segala sebab dan hakikat sebenarnya hanya Allah dan Rasulnya sajalah yang mengetahuinya. Jadi, kita tidak mengetahui 100 persen hakikat segala sesuatu dari ibadah itu, kecuali sikap tunduk dan patuh (ta’abbud) atas perintahnya.  Makna tunduk dan patuh (ibadah ta’abbud) ini tentunya dilakukan bukan tanpa dasar. Semua itu didasari kepada keyakinan terhadap adanya sang wajib wujud Allah taala (tauhid) dan Rasulnya yang dengan sendirinya kita juga harus meyakini perintahnya, termasuk ibadah puasa Ramadhan.

Ketika ditanya kenapa berpuasa wajib harus di bulan Ramadhan misalnya?  Jawab saja begitu memang perintah Allah. Karena kita tidak mengetahui secara yakin seratus persen terbadap hakikat ibadah tersebut, kecuali apa sudah yang dijelaskan agama melalui ayat dan riwayat. Namun tentu saja kita meyakini, bahwa semua perintah dan larangan Allah dan Rasulnya itu adalah demi kebaikan dan kemaslahatan manusia itu sendiri.

Dalam logika Aristoteles,  salah satu yang bisa mengantarkan kita kepada kepada yakin adalah sesuatu yang sudah berada pada level mutawatir. Tentu saja jumlah nas-nas agama (terutama riwayat-riwayat) tentang amal ibadah seperti shalat dan puasa ini tidak semuanya berada pada level mutawatir. Kendati begitu dalam syariat membolehkan menggunakan hadits-hadits yang tidak berada pada level mutawatir, sekalipun dalam amal, seperti khabar ahadSyukur Hasbi

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.