MENINGKATKAN AMAL SHALIH

MENINGKATKAN AMAL SHALIH

GEMA JUMAT, 8 JUNI 2018 

Khutbah Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA, Rektor UIN Ar-Raniry

Maha Suci Allah yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk [67]: 1-2)

Dari Anas bin Malik r.a Rasulullah SAW. bersabda “Tiga perkara mengiringi jenazah, dua dari padanya akan kembali hanya satu akan tinggal bersamanya. Yaitu kaum kerabatnya, hartanya dan amalannya. Kaum kerabat dan hartanya akan pulang. Hanya amalan yang tinggal bersamanya.” (HR. Bukhari Muslim)

Ada sebuah kisah sufi yang diriwayatkan oleh Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a bahwa begitu seseorang meninggal dunia, ketika jenazahnya masih terbujur, ada upacara yang diadakan di alam ruh: Pertama, ruh mayat dihadapkan pada seluruh kekayaannya yang dia miliki kemudian terjadi dialog antara keduanya. Mayat itu berkata kepada seluruh kekayaannya, “Dahulu aku bekerja keras untuk mengumpulkan kamu, sehingga aku lalai dan lupa untuk mengabdi kepada Allah, bahkan sampai aku tidak mau tahu mana yang benar dan mana yang salah. Bukan itu saja, sering kali kuhinakan diriku demi untuk mendapatkanmu. Sekarang apa yang akan kamu berikan sebagai bekal dalam perjalananku ini.” Lalu harta kekayaan itu berkata, “Ambillah dariku hanya sebatas untuk kain kafanmu.”

Kedua,  sesudah itu si mayat dihadapkan pada seluruh keluarganya (anak-anak, suami atau istrinya), lalu si mayat berkata, “Dahulu aku mencintai kalian, menjaga dan merawat kalian sepenuh hatiku. Begitu susah payah aku mengurus diri kalian sampai aku lupa mengurus diriku sendiri, ketika kalian sakit aku yang paling gelisah, ketika kalian dizalimi darahku yang paling mendidih, sekarang apa yang akan kalian berikan padaku pada perjalanan menuju Allah ini?” Serentak keluarganya berseru, “Kami antarkan kamu sampai ke kuburan.”

Ketiga,  setelah itu si mayat akan dijemput oleh makhluk jelmaan amalnya. Kalau selama hidup ia banyak banyak beramal salih, maka ia akan dijemput oleh makhluk berwajah ceria dengan memancarkan cahaya dan aroma semerbak, jika memandangnya akan menimbulkan kenikmatan yang tiada tara. Sebaliknya, bila semasa hidup sering membangkang pada perintah Allah dan Rasul-Nya, maka si mayat akan dijemput oleh makhluk menakutkan, dengan bau teramat busuk.

Makhluk jelmaan itu lalu mengajak si mayat pergi. Bertanyalah si mayat, “Siapakah engkau ini sebenarnya? Aku tidak pernah mengenalmu?” Makhluk itu kemudian menjawab, “Akulah jelmaan amal kamu sewaktu hidup di dunia dulu, dan aku akan selalu menemanimu dalam menempuh perjalanan panjang menuju Ilahi.”

Teman setia ternyata bukanlah harta benda, bukan pula keluarga, sahabat dan handai tolan yang selalu dibela dan dicintai ketika masih di dunia. Mereka bahkan tidak mau menemani di liang lahat, mereka hanya mengantar sebatas tempat pemakaman. Nyatanya, teman sebenar-benarnya teman adalah amalan.

Firman Allah Swt:

Artinya: “Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga;  mereka kekal di dalamnya”. (QS Al-Baqarah: 82)

Ada tiga amalan yang bisa kita tingkatkan sebagai bekal hari kelak nanti:

Pertama, shalat. Shalat adalah tiang agama. Rasulullah saw bersabda, “Orang yang telah mendirikan shalat, dia telah mendirikan agama, namun bagi siapa saja yang meninggalkan shalat berarti dia telah menghancurkan agama.”

Kedual, berbakti kepada orang tua. Berbuat baik terhadap orang tua (birrul walidain) adalah memberi kebaikan atau berkhidmat kepada keduanya, serta mentaati perintahnya (kecuali yang maksiat) dan mendoa’kannya apabila keduanya telah wafat.

Ibu dan bapak sebagai orang tua sudah selayaknya mendapatkan kebaikan dan penghormatan dari anaknya. Islam sangat perhatian mengenai masalah ini, sebagaimana sangat jelas ditegaskan dalam firman Allah yang berbunyi:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) terhadap kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah, bahkan menyusukan pula selama kurang lebih dua tahun. Maka dari itu bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku sajalah tempat kamu kembali”. (QS 31:15).

Juga dapat dilihat dalam surat 4: 36. Jelaslah bahwa birrul walidain adalah kewajiban setiap anak dalam kerangka taat kepada perintah Allah.

Suatu hari ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah saw. Dia bertanya, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai harta kekayaan dan anak. Sementara ayahku berkeinginan menguasai harta milikku dalam pembelanjaan. Apakah yang demikian ini benar?” Maka jawab Rasulullah, “Dirimu dan harta kekayaanmu adalah milik orang tuamu.” (HR Ibnu Majah dari Jabir bin Abdillah).

Begitulah, syariat Islam menetapkan betapa besar hak-hak orang tua atas anaknya. Bukan saja ketika sang anak masih hidup dalam rengkuhan kedua orang tuanya, bahkan ketika ia sudah berkeluarga dan hidup mandiri. Tentu saja hak-hak yang agung tersebut sebanding dengan besarnya jasa dan pengorbanan yang telah mereka berikan. Sehingga tak mengherankan jika perintah berbakti kepada orang tua menempati rangking ke dua setelah perintah beribadah kepada Allah dengan mengesakan-Nya.

Allah berfirman, “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada ibu bapakmu.” (QS An-Nisa:36)

Ketiga, sedekah jariyah. Amal jariyah yang bisa kita lakukan seperti: Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, baik melalui pendidikan formal maupun nonformal, seperti diskusi, ceramah, dakwah, dan sebagainya. Termasuk dalam kategori ini adalah me­nulis buku yang berguna dan mempublikasikannya.

Rasulullah saw bersabda: Dari Abu Sa’id al-Khudry secara marfu, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mengajarkan satu ayat dari Kitabullah atau satu pembahasan dari suatu ilmu, maka akan mengembangkan pahalanya sampai hari kiamat”.

Kemudian, mewariskan mushaf (buku agama) kepada orang-orang yang dapat memanfaatkannya untuk kebaikan diri dan masyarakatnya.

Amal jariyah juga dapat dilakukan dengan membangun masjid. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi saw:  ”Barangsiapa yang membangun sebuah masjid karena Allah walau sekecil apa pun, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Orang yang membangun masjid tersebut akan menerima pahala seperti pahala orang yang beribadah di mas­jid itu. Kalau masjid tidak mampu kita bangun, setidaknya sedekah untuk pembangunan masjid terus kita lakukan untuk memperkaya bekal di hari akhir nantinya.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.