Mensyukuri Keberkahan Iktikaf

Mensyukuri Keberkahan Iktikaf

Gema, 08 Juni 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 23 Ramadhan 1439

Saudaraku, di antara jalan sebagai sarana untuk menjemput keberkahan lailatul qadar yang digalakkan dalam praktik peribadatan umat Islam terutama pada fase sepertiga terakhir bulan ramadhan adalah iktikaf.

Oleh karenanya iktikaf sejatinya merupakan usaha untuk mendekatkan diri pada Allah swt yang dilakukan oleh orang-orang beriman. Meskipun usaha ini berupa berdiam diri untuk beribadah di masjid, tetapi makna subtansinya yang harus terpatri di hati dan membentuk perilaku, yaitu menjadi sumber kedamaian dan kebajikan serta penebar kemaslahatan dalam hidup dan kehidupan.

Di samping itu iktikaf dengan berdiam diri di masjid sejatinya merupakan representasi bahwa kita dalam mengarungi hidup dan kehidupan ini hanya berorientasi pada Allah semata. Hati kita selalu terpaut pada masjid, sehingga termasuk golongan orang-orang yang beruntung memperoleh perlindungan Allah, baik di dunia dan terutama di akhirat kelak.

Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya berpaut ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku taku kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” HR. Bukhari Muslim

Dengan demikian iktikaf merupakan jalan atau sarana atau usaha yang dilakukan orang-orang beriman dengan menghibahkan seluruh kehidupannya pada kebenaran, kebajikan, keridhaan Allah yang disimbolkan pada ‘masjid’.

Oleh karena itu sudah sepantasnya kita mengembangkan akhlak untuk mensyukuri keberkahan iktikaf.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa iktikaf sebagaimana ritual peribadatan lainnya seperti shalat, puasa, haji, umrah, akikah, qurban, berzikir merupakan sarana atau instrumen yang tersedia bagi hamba-hambaNya agar dapat mendekatkan dirinya pada Allah swt. Bila diri hamba sudah dekat pada Allah, maka segala urusan dalam hidup dan kehidupan ini pasti menjadi mudah berkah dan maslahah. Dekat dengan pejabat tertentu saja di dunia ini (misalnya pada gubernur, menteri, presiden), maka segala urusannya di daerah atau departemen atau di negara ini akan mudah mulus dan lancar. Apalagi kalau kita bisa dekat dengan Allah Zat Yang Mencipta makhluk, hidup dan kehidupan ini.

Kedua memperbanyak bersyukur dengan lisan seraya mengucapkan alhamdulillahirabbil ^alamin agar Allah menambahi karunia lainnya, seperti umur panjang, sehat wa afiat, melimpah rezeki, meluas ilmu dan kearifan, hati penuh rasa syukur dan berkah hidup.

Ketiga bersyukur dengan melakukan langkah konkret, di antaranya menjadikan masjid (baca kebaikan) sebagai orientasi hidup dan kehidupan. Ke manapun kaki melangkah, hati tetap istiqamah terpaut pada masjid, sehingga seluruh aktivitas hidup dan kehidupannya di dunia ini selalu berada dalam keridhaan Allah swt.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.