Mensyukuri Tiga Keberkahan

Mensyukuri Tiga Keberkahan

Gema, 09 Juni 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 24 Ramadhan 1439

Saudaraku, sebagaimana telah menjadi pengetahuan umum bahwa pada sepertiga di penghujung Ramadhan terdapat serangkaian keistimewaan yang disyariatkan dan atau dijanjikan oleh Allah. Di antara keistimewaan ini disediakannya tiga keberkahan dari praktik ajaran Islam yaitu iktikaf, lailat al-qadar dan zakat fitrah. Ketiganya rupanya terjalin berkelindan menjadi konstruksi sempurna atas karunia ilahi bagi orang-orang beriman di fase itqu minannar akhir setiap Ramadhan tiba.

Pertama, iktikaf dipahami sebagai usaha atau tarakhi yang dilakukan oleh orang-orang beriman. Meskipun usaha itu berupa berdiam diri untuk beribadah di masjid, tetapi makna subtansinya yang harus terpatri di hati dan membentuk perilaku, yaitu menjadi sumber kedamaian dan kebajikan serta penebar maslahat dalam hidup dan kehidupan.

Kedua, lailat al-qadar adalah karunia kemuliaan melebihi seribu bulan yang dijanjikan oleh Allah kepada orang-orang beriman yang berusaha mencari dan mendapatkannya. Jadi iktikaf adalah salah satu sarana kondisioning untuk menjemput guna memperoleh kemuliaan lailat al-qadar.

Adapun zakat fitrah adalah sebagai buah dari orang-orang yang beroleh kemuliaan lailat al-qadar. Inilah puncak kesalihan, dimana orang-orang yang memperoleh kemuliaan lailatul qadar dibuktikan.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa iktikaf sebagai tarakhi (naik)nya hamba, lailat al-qadar sebagai natijah atau hasil berupa kemuliaan seribu bulan dan dibuktikan dengan perilaku konkret yaitu mengeluarkan zakat fitrah sebagai puncak kesalihan.

Oleh karenanya kita layak mensyukuri tiga keberkahan yang disediakan oleh Allah di akhir bulan Ramadhan.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa untuk memperoleh lailatul qadar yang kemuliaannya seribu bulan atau kemuliaan apapun, kita berkewajiban berusaha tarakhi dengan melakukan ketaatan demi ketaatan, dan iktikaf demi iktikaf, dan tatakhi demi tatakhi

Kedua, memperbanyak ucapan alhamdulillahirabbil ‘alamin dalam ragam kesempatan, apalagi saat-saat menyadari betapa tak terkiranya karunia Allah atas kita.

Ketiga, melakukan langkah konkret, seperti istiqamah melakukan iktikaf. Bila beraktivitas di luar masjid sekalipun, hati harus senantiasa terpaut pada masjid, berorientasi pada kebajikan dan kebenaran. Di samping itu harus berusaha menjadi agen kemaslahatan, kesejahteraan dan kedamaian sesama manusia. Konsep berbagi tidak dipadai dengan penunaian zakat fitrah semata yang setahun sekali, tetapi dapat didawamkan dalam kehidupannya.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.